My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
211



Tanpa menunggu Sera menyelesaikan ucapannya, Adit tanpa aba-aba langsung memanggil Anggi yang masih berdiri linglung di lantai dua.


"Anggi?!" Teriak Adit memanggil.


Anggi terkejut, spontan dia menoleh ke arah sumber suara dan bertatapan langsung dengan wajah datar Adit.


"Turunlah ke sini. Aku membutuhkan bantuan mu." Sambung Adit menyuruh Anggi untuk segera turun.


Anggi untuk sesaat tidak langsung bereaksi. Dia diam-diam meragukan pendengarannya barusan dan berpikir jika itu mungkin hanya halusinasinya saja.


Tapi saat Adit memanggilnya untuk yang kesekian kalinya lagi, Anggi tidak lagi bertindak bodoh dan meragukan pendengarannya sendiri. Mengepalkan kedua tangannya karena senang, Anggi mengambil nafas panjang untuk meredam kebahagiaannya agar tidak ditemukan oleh Adit. Setelah jauh lebih tenang, dia lalu turun ke bawah dan menghampiri Adit yang sudah menunggu kedatangannya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Anggi sopan sama sekali tidak memperhatikan perubahan wajah Sera.


"Sera bilang ingin mendengar pendapat orang-orang mengenai semua kue di atas meja ini jadi aku memintamu untuk mencicipinya dan memberitahu Sera apa pendapat mu mengenai kue-kue ini." Kata Adit menjelaskan.


Jujur, dia merasa heran saat mendengar permintaan Sera sebelumnya. Karena jika ingin membuat penilaian maka lebih baik untuk menggunakan lidah sendiri daripada menggunakan lidah orang lain. Karena toh selera setiap orang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan. Seperti dirinya yang ingin segera memuntahkan kue itu tadi, jika Sera tahu apa yang dia pikirkan maka Sera mungkin akan sangat marah. Karena itulah dia agak keberadaan diminta untuk mencicipi kue.


"Oh, jadi seperti ini." Anggi lalu menatap Sera ramah,"Apa non Sera sangat menyukai kue?"


Sera tersenyum tipis, terlihat memaksakan diri. Tapi karena Adit ada di sini dia berusaha menjaga sikap dan tindakannya. Dia tidak mau memberikan Adit kesan gadis yang tidak baik dan memiliki sikap yang buruk. Sekalipun yah... Anggi sendiri orang yang cukup kotor untuknya.


"Ya, tidak semuanya. Aku hanya ingin tahu saja pendapat orang." Katanya tidak dingin juga tidak ramah.


Anggi tertegun. Dia tiba-tiba merasa jika sikap Sera kepadanya agak terasing dan tidak sehangat dulu. Apa ini hanya perasaannya saja?


"Kebetulan, aku juga menyukai beberapa kue. Kali begitu aku akan mencicipi kue-kue yang ada di sini dan memberikan penilaian ku kepada non Sera." Kata Anggi sembari membuang pikirannya tentang perubahan sikap Sera.


Dia sudah bersiap mencicipi kue. Tangannya telah mengambil sendok mini dan akan mengambil salah satu kue yang menarik perhatiannya. Namun, sebelum Anggi benar-benar menyentuh kue itu, suara panik Sera lebih dulu menghentikannya.


"Jangan, itu kotor!" Ouh, dia sungguh tidak rela melihat tangan kotor itu mencemari kue-kue tidak bersalah itu.


Anggi tertegun dan segera menarik tangannya yang sempat terulur mengambil kue.


"Kotor?" Anggi melihat sendok yang ada di tangannya, masih bersih dan baru saja dibeli kemarin khusus untuk acara ini.


"Itu...aku pikir sendok nya kotor." Bohong Sera beralasan sambil mengamati perubahan wajah Adit.


Adit hanya mengernyitkan keningnya merasa aneh tapi tidak mengatakan apa-apa karena dia pikir mungkin penglihatan wanita berbeda dengan penglihatan laki-laki jika menyangkut makanan.


"Aku pikir ini bersih." Kata Anggi sambil menunjukkan sendok ditangannya.


"Tapi aku bisa mengganti sendok yang lain-"


"Tidak perlu." Potong Sera tidak mau melihat Anggi terus ada di sini.


Dia harus sangat terganggu dengan keberadaan Anggi sehingga dia memiliki keinginan untuk mendorong Anggi sejauh mungkin dari pandangannya.


Anggi terkejut dan buru-buru melihat waktu di jam tangannya. Memang, kurang lebih 10 menit lagi acara akad seharusnya dimulai dan Anggi tidak boleh berada di sini. Dia harus berada di lantai atas untuk menemani Rein yang saat ini pasti sangat gugup dan gelisah.


"Oh astaga, aku harus kembali ke atas." Anggi buru-buru menaruh piring dan sendok di tangannya ke tempat semula.


Setelah mengucapkan beberapa patah kata kepada Sera, dia buru-buru membawa langkah kakinya ke tangga tapi tangan kanannya tiba-tiba dicengkeram oleh Adit.


"Eh?" Langkah Anggi terhenti karena shock dan jangan lupakan bagaimana detak jantungnya berpacu saat ini.


Itu...itu sangat cepat. Seolah-olah dia kembali ke masa-masa SMA nya yang dipenuhi oleh sentuhan cinta monyet.


"Lengan bajumu terkena krim kue." Jelas Adit seraya mengambil sapu tangan dari kantong jas hitamnya dan membantu Anggi menghilangkan krim kue itu dari lengan bajunya.


Anggi tersipu malu. Selama Adit membantunya menghilangkan krim kue, dia dengan malu-malu menatap wajah tertunduk Adit. Menatap dengan rasa ingin tahu bulu mata hitamnya yang bergetar ringan, lalu turun ke puncak hidungnya yang tinggi, dan kemudian jatuh kepada bibir Adit yang terbentuk-


"Ekhem," Sera derhem cemburu.


Dadanya seolah terbakar saat melihat tatapan berani Anggi kepada Adit. Diam-diam dia mencemooh di dalam hatinya jika Anggi adalah wanita kotor yang tidak tahu malu.


Apa dia pikir semua laki-laki sama seperti Paman kecil yang payah? Batin Sera penuh kebencian.


"Oh," Anggi sangat malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan Adit.


Malu, dia sengaja mengalihkan pandangannya agar tidak mengundang kecurigaan Sera lagi.


"Selesai, lain kali jangan ceroboh lagi." Kata Adit seraya melipat kembali sapu tangan kotor itu dan menaruhnya di dalam kantong jasnya kembali.


"Aku mengerti. Itu... terima kasih karena sudah membantuku dan bisakah sapu tangan itu biar aku saja yang mencucinya?" Anggi jadi tidak enak.


Sementara Sera di samping mencela drama klise nya yang sudah tidak asing.


Adit dengan wajah datar menolak,"Tidak perlu. Aku akan mencucinya sendiri. Kamu kembali lah ke atas sebelum Nyonya mencari mu."


Anggi buru-buru menganggukkan kepalanya dan tidak menolak saran Adit. Lagipula dia sudah tidak punya waktu lagi karena acara akad sebentar lagi akan dimulai.


"Baiklah, aku akan ke atas dulu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk Mas Adit." Katanya malu sebelum benar-benar melarikan diri ke atas tangga dan menghilang ke lantai dua.


"Kak Adit, sapu tangan itu sudah kotor dan tidak bisa digunakan lagi. Kenapa Kak Adit membuangnya saja ke tempat sampah dan aku bisa mengganti yang baru untuk Kak Adit." Sera menawarkan kebaikan, berbicara dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Adit.


"Tidak perlu, Sera. Ini masih bisa ku gunakan setelah aku menyukainya nanti. Oh ya, aku harus bersiap-siap dulu pergi menemui tuan sebelum dia marah karena aku tidak kunjung datang. Sera, sampai jumpa." Tolak Adit menolak.


Dia lalu pergi ke kamar tempat Davin bersiap dan meninggalkan Sera di tempat dengan segala ketidakpuasan di dalam hatinya. Sera adalah dokter hewan, hatinya lembut dan mudah tersentuh. Tapi ketika menyentuh jaga prinsip kebersihan, dia akan sangat keras kepala dan membuang kelembutan hatinya hanya untuk menyingkirkan kotoran itu dari sekelilingnya.


"Sera, kenapa kamu terlihat sangat murung? Bukankah Kak Adit selalu bersama kamu tadi?" Salah satu sepupu Sera datang menghampiri.