My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
57. Keanehan Davin



"Tio sepulang sekolah jangan kemana-mana, yah? Tunggu Mommy jemput ke sini." Pesan Rein kepada putranya, Tio.


Tio mengangguk dengan patuh. Karena kepatuhannya yang menggemaskan ini Rein memberikannya sebuah kecupan manis di kepala dan kedua pipinya. Setelah itu, Rein mengusap puncak kepalanya sebelum Tio dibawa masuk ke dalam kelas oleh gurunya.


Rein menghela nafas panjang. Untuk mengikuti semua keinginan Davin, ia terpaksa harus memajukan shift nya menjadi pagi dan ia juga tidak bisa menemani Tio sampai pulang sekolah seperti biasanya.


Rein tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus mengorbankan banyak waktunya untuk menghadapi Davin sambil berdoa putranya di sini baik-baik saja. Ia percaya, guru kelas akan menjaga putranya di sini.


"Baiklah, aku harus segera ke perusahaan sebelum laki-laki menyebalkan itu membuat masalah di kantor." Katanya menyemangati diri sendiri.


Ia menoleh ke sekolah Tio beberapa kali sebelum membawa cepat langkah kakinya berjalan menuju perusahaan. Kebetulan perusahaan Davin tidak terlalu jauh dari sini dan ia masih punya waktu untuk sekedar berjalan.


Sesampainya di kantor. Rein langsung mengganti bajunya dengan seragam office girl sebelum naik ke lantai 11 untuk membersihkan ruangan kantor Davin. Ia membawa beberapa alat kebersihan bersamanya karena kantor Davin tidak menyediakan alat kebersihan yang lengkap.


Beruntung ini masih jam 7 pagi, karyawan yang datang ke perusahaan tidak terlalu banyak karena jam kerja kantor dimulai dari pukul 8 pagi. Jadi, dia bisa menggunakan lift tanpa perlu mendapatkan masalah dari karyawan sombong seperti tempo hari.


Sebenarnya Rein tidak pernah mendapatkan konflik dengan karyawan wanita selama bekerja di perusahaan ini. Kecuali Yuni dan Lisa, yang lainnya menganggap Rein bukanlah orang yang mengganggu.


Ting~


Dia sampai di lantai 11, lantai yang sangat kental akan nasib buruk dan kesialan, pikir Rein.


Belum ada siapapun di sini, bahkan Lisa juga masih belum datang ke kantor.


"Ini jauh lebih baik daripada aku harus bertemu dia." Gumam Rein santai.


Dia kemudian masuk ke dalam kantor Davin. Menatap bosan ruangan kerja yang sudah ia bersihkan kemarin pagi ini kembali terlihat sangat berantakan. Ada sampah kertas kusut dimana-mana, dokumen yang ia duga penting entah bagaimana berserakan dimana-mana, dan... pecahan cangkir?


"Dia benar-benar ahli membuatku marah." Rutuk Rein kesal.


Dengan wajah cemberut ia mulai mengumpulkan sampah-sampah, mengumpulkan dokumen dan menyusunnya rapi di atas meja, tidak lupa juga ia membersihkan pecahan cangkir kopi yang berserakan di atas lantai. Setelah itu ia mulai mengepel lantai kantor Davin, mengelap meja dan kaca, dan terakhir ia mengganti pengharum ruangan.


Di atas meja sebelah kiri Davin, tepatnya di dekat komputer ada sebuah pengharum ruangan otomatis yang sangat mungil. Sekilas, orang akan salah paham menganggap jika pengharum ini adalah boneka mungil yang manis padahal nyatanya tidak.


"Ck, sampai kapan kamu akan terus melamun di situ?" Suara dingin Davin mengangetkan Rein.


Rein spontan melemparkan pengharum ruangan itu ke lantai, menciptakan bunyi nyaring dari benturan di lantai. Tidak berselang lama, sebuah benda bundar menggelinding panik di sekitar lantai. Menabrak kaki sofa dengan polos dan tidak disengaja. Rein seketika merapatkan mulutnya tidak berani mengucapkan sepatah katapun.


"Kau..." Davin kesulitan mengucapkan kata-kata yang memenuhi kepalanya sekarang.


Rein tahu Davin akan segera meledakkan amarahnya, menusuk ia dengan kata-kata tajam yang tidak disaring dan penuh akan rasa arogansi. Rein sudah siap untuk momentum ini, sebab hati dan telinganya sudah terbuka lebar siap menampung setiap kata-kata kejam menusuk yang Davin muntah kan.


"Kenapa kamu tidak lebih berhati-hati lagi?" Pada akhirnya Davin tidak seburuk yang Rein harapkan.


Jelas ini membuat Rein tercengang. Dia bahkan tanpa sadar membuka kedua matanya lebar-lebar karena terkejut melihat reaksi Davin yang jauh lebih santai daripada waktu-waktu sebelumnya.


Apa... kepala Davin tadi malam membentur benda tumpul?


Kenapa tempramen nya hari ini lebih baik?


"Benda ini memang tidak mahal tapi aku sangat menghargainya." Kata Davin masih dengan nada dingin yang menjengkelkan.


Davin masuk ke dalam kantor dengan langkah ringan. Sebelum menaruh tas kerjanya di atas meja ia terlebih dahulu menghampiri sofa untuk memungut tutup pengharum ruangan yang telah menjadi saksi keterkejutan Rein pagi ini.


"Oh," Rein mendadak kesulitan menghadapi sikap Davin pagi ini.


Di dalam hati ia bertanya-tanya apakah orang ini sedang sakit atau kepalanya bermasalah karena terbentur benda tumpul?


"Pasang kembali." Perintah Davin sembari melemparkan tutup pengharum ruangan itu kepada Rein.


Rein segera menangkapnya, dan dengan buru-buru menyatukan kembali pengharum ruangan mungil Davin. Takutnya Davin akan kembali menjadi laki-laki bermulut tajam bila ia telat beberapa detik saja. Setelah kepalanya disatukan kembali, Rein diam-diam menggunakan kain seragamnya untuk mengelapnya sambil mewanti-wanti apakah ada sisi yang mengalami lecet atau bermasalah.