My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
59. Tes DNA



Davin lalu keluar dari kantornya. Di luar ia bertemu dengan Lisa dengan penampilannya yang baru. Dia tidak lagi menggunakan sepatu dengan hak tinggi, tidak lagi menggunakan parfum yang kemarin, dan tidak lupa juga rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan rapi.


Semua ini ia lakukan untuk bersikap 'patuh' kepada Davin. Ia pikir dengan mengikuti semua keinginannya Davin akan memberikannya sebuah pujian. Namun, itu hanya angan-angannya saja karena ketika Davin keluar dari ruangannya, dia sama sekali tidak melirik Lisa yang sudah berdiri setengah jam menunggunya Davin keluar.


"Selamat pagi, Pak." Lisa buru-buru mengejar langkah besar Davin.


"Pagi." Jawab Davin tanpa melirik.


Lisa tidak berkecil hati. Senyuman manis dibibir merah terangnya masih belum pudar.


"Pak, saya sudah mengikuti semua perintah, Anda." Lapor Lisa menginginkannya pujian.


Davin masih tidak tertarik.


"Hem," Dia lalu berhenti tiba-tiba, membuat Lisa terkejut di belakang dan hampir saja menabrak punggung tinggi Davin.


Davin berbalik ke belakang, menatap Lisa yang sudah memerah wajahnya dengan ekspresi datar.


"Hari ini kamu harus mengawasi ruang kerjaku. Jangan biarkan siapapun masuk dan jangan biarkan Rein keluar."


Lisa tercengang.


"Rein.. Rein di dalam?"


Davin menjawab malas,"Hem, dia adalah pegawai office girl yang biasa bertugas mengantarkan kopi kepadaku."


Bukan ini yang Lisa maksud! Tentu saja dia tahu siapa Rein. Namun hal yang ingin ia pertanyakan adalah apa alasan Davin menahan 'wanita malam' itu di dalam kantornya?


"Dia...apa saya bisa tahu mengapa Anda menahannya di dalam?" Lisa berusaha tenang.


Davin tidak suka masalah pribadinya diungkit-ungkit. Apalagi oleh orang asing yang baru ia temui.


"Apa ini adalah urusan mu?" Davin bertanya tajam.


Lisa segera melambaikannya tangannya panik. Dia takut bila Davin marah.


"Tidak, Pak. Aku tidak akan berani."


"Kalau begitu fokus saja ke pekerjaan dan tugas mu." Ucap Davin sebelum berbalik masuk ke dalam lift presiden.


Sorot matanya yang angkuh dan tajam membuat lutut Lisa lemah. Siapapun akan mudah terpesona bila berhadapan dengan aura tajam Davin.


"Wanita penggoda ini benar-benar licik." Katanya tidak terima.


Dia ingin masuk tapi tidak bisa karena Davin sudah mengingatkan tidak boleh mengizinkan siapapun masuk ke dalam. Dan bila dia nekat masuk ke dalam, Lisa lebih takut lagi jika Rein mengadukannya ke Davin.


Hasilnya akan sangat buruk, dia bisa dipecat karena telah melanggar peraturan yang dibuat langsung oleh Davin, CEO perusahaan ini.


...🌼🌼🌼...


Sebuah mobil limusin berwarna putih pucat tiba-tiba menarik perhatian banyak orang di sekolah taman kanak-kanak karena parkir di depan sekolah.


Para orang tua yang sedang menunggu kepulangan anak-anak mereka terpaksa harus menyeret lehernya ke halaman sekolah untuk melihat siapa gerangan pemilik mobil mewah tersebut. Pasalnya, selama anak mereka sekolah di sini, mereka tidak pernah melihat mobil mewah ini muncul dan mereka juga tidak pernah tahu bila di sini ada tuan muda generasi kedua orang kaya.


Maka tidak mengherankan bila kepala dan mata mereka tidak bisa berpaling dari mobil limusin putih tersebut.


Sementara itu di dalam mobil, pemilik mobil yang telah menarik perhatian banyak orang tua masih duduk santai di dalam mobil dengan sebuah dokumen laporan hasil tes DNA di tangan. Setiap kata dan paragraf yang ia lewati membuat senyuman di wajahnya semakin lebar. Jelas saja saat ini suasana hatinya sedang sangat baik, berbanding terbalik dengan kemarin-kemarin.


"Pak, kita sudah sampai di sekolah Tuan muda." Adit dengan sopan mengingatkan Davin.


Begitu ia menerima hasil tes DNA Tio dan telah mengkonfirmasi bila Davin adalah Ayah biologis Tio, ia segera mengubah panggilannya kepada Tio menjadi Tuan muda, calon penerus perusahaan Demian di masa depan nanti.


"Aku tahu." Davin memasukkan kembali hasil laporan tes DNA Tio- lebih tepatnya hasil tes DNA putranya ke dalam map coklat tersegel.


"Simpan ini untukku. Laporan ini sangat penting untuk ku nanti." Kata Davin dengan senyum aneh di wajahnya.


Adit dengan sigap mengambil map coklat itu dari Davin dan memasukkannya ke dalam tas kerja.


"Apa kita akan turun sekarang, Pak?" Adit sudah bersiap membuka pintu mobil tapi segera dihentikan oleh Davin.


"Tunggu," Davin segera menyingkirkan kacamata kerjanya.


"Bagaimana jika dia tidak mau mengakui ku sebagai Daddy-nya?" Davin merasa gugup.


"Anda bisa mengajaknya bicara dengan baik-baik, Pak. Tuan muda masih kecil dan mudah dipengaruhi jadi Anda hanya perlu berbicara dengannya." Kata Adit memberikan jalan.


Davin mengangguk ringan. Ia pikir apa yang Adit katakan memang masuk akal. Dan jika Tio masih menolak mengakuinya nanti, Davin tidak akan kecewa karena ia punya banyak cara untuk bisa mendapatkan Tio, putranya.


"Kita keluar sekarang." Perintah Davin dalam suasana hati yang baik.


Adit mengangguk patuh. Dia kemudian membuka pintu mobil, keluar terlebih dahulu dan berdiri di depan pintu menunggu Davin turun.