My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
8. (8)



"Kemarilah, temani aku berjalan-jalan di sekitaran pantai. " Ajak Adit seraya mengulurkan tangannya di hadapan Anggi.


Anggi lambat merespon. Dia tidak pernah mengantisipasi pergerakan tiba-tiba Adit saat ini. Pujian tadi saja sudah membuat hatinya berdebar kencang apalagi uluran tangan kuat di depannya. Bagaikan mimpi, Anggi seketika linglung ditempatnya. Dia menatap wajah lembut Adit yang langka, lalu beralih menatap uluran tangan kuat di depannya.


"Kemarilah." Kata ini kembali terngiang-ngiang di dalam kepalanya.


Anggi mengangkat tangannya ragu, perlahan bergerak mendekati tangan kuat itu. Ketika jarak mereka hanya beberapa senti lagi, tangan kuat itu tiba-tiba menyambar tangan Anggi. Belum cukup Anggi terkejut dengan gerakan tadi, pemilik tangan kuat itu lalu menariknya ke depan. Mengikuti langkah demi langkah pemilik punggung tegap yang kini tengah memimpin jalan di depannya.


Dia pun berjalan termangu seperti gadis remaja yang sedang dimabuk cinta pertama. Seluruh tubuhnya berdesir dalam nafas rasa manis dari virus sang merah jambu yang sangat meresahkan, membuat dada berdebar kencang, dan pandangan menjadi linglung. Tapi anehnya rasa ini sungguh candu untuk siapapun, termasuk Anggi sendiri yang pernah gagal dalam hal percintaan.


"Ah!"


Adit tiba-tiba berhenti di depan dan Anggi tidak sempat menghentikan langkahnya sebelum dia dengan bodohnya membentur punggung kuat Adit.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Adit menggodanya.


Anggi sangat malu. Wajah merah meronanya telah lama masuk ke mata Adit jadi tidak ada gunanya bersembunyi.


"Aku...senang bisa menikmati malam indah ini bersama mas Adit." Akui Anggi segera merutuki kejujurannya sendiri.


Harusnya kata-kata ini dia simpan saja di dalam lubuk hatinya.


Adit lantas tertawa. Dia kembali menarik tangan Anggi agar mengikuti langkahnya.


"Aku juga." Balas Adit dengan suara rendahnya yang seksi.


Telinga Anggi langsung panas mendengarnya. Dia menundukkan kepalanya di belakang sambil berusaha mengimbangi langkah besar kaki Adit. Mungkin merasakan perjuangannya di belakang, Adit perlahan memperlambat langkah kakinya agar Anggi bisa mengimbanginya.


Untuk suatu alasan di dalam hatinya, dia tidak memaksa Anggi berjalan sejajar di sampingnya tapi membiarkan Anggi diam-diam mengikuti di belakang pada saat yang sama tangan mereka masih bertaut.


Berjalan tanpa berbicara, Adit dan Anggi menapaki pasir pantai berwarna putih di pulau ini dalam suasana yang sangat damai. Tak jarang keberadaan mereka berdua akan menarik perhatian beberapa tamu undangan yang menginap di sini, pertukaran kata sepatah dua kata tidak bisa dihindari namun tidak membuat Adit kesulitan karena ekspresi datarnya sulit dihadapi.


Karena ekspresi dingin dalam artian 'menjaga jarak' ini, perlahan perjalanan mereka tidak menemukan hambatan. Para tamu undangan enggan bertegur sapa dan Adit maupun Anggi pun sama. Mereka menikmati malam ini dengan cara mereka sendiri.


"Akh..." Anggi sontak berjalan pincang di belakang.


"Ada apa?" Adit mendudukkan Anggi di atas batu pantai.


Anggi menggelengkan kepalanya malu.


"Aku tidak sengaja menginjak pecahan karang." Kata Anggi.


Adit mengernyit. Salah satu alisnya terangkat tampak terganggu. Dengan gerakan alami Adit membawa kaki kanan Anggi yang sakit dan menaruhnya di atas paha sembari mengabaikan penolakan Anggi.


"Kakiku tidak terluka, mas. Aku bisa berjalan lagi kok setelah mendiamkannya beberapa menit lagi." Kata Anggi serius.


Kakinya tidak terluka walaupun menginjak pecahan karang. Memang pecahan karang yang dia injak tadi memiliki permukaan kasar dan tajam tapi tidak sampai melukai kakinya. Jadi dia tidak menganggapnya serius.


"Bohong, jelas-jelas kakimu terluka." Kata Adit membuat Anggi tersedak.


Anggi tidak percaya dengan apa yang Adit katakan karena dia merasa telapak kakinya sendiri baik-baik saja. Namun setelah Adit menunjukkan posisi lukanya, Anggi langsung terdiam dan tidak membuat suara apapun lagi.


Sejujurnya dia merasa sangat rumit karena luka kakinya tidak separah yang Adit pikirkan. Ini hanya goresan...kecil dan tipis seperti dicakar kucing. Ini sama sekali tidak seserius yang Adit khawatirkan tapi dia tidak berani berbicara karena Adit tampaknya sangat serius.


"Seharusnya kamu bilang pasir pantai di bagian sini agak kasar." Keluh Adit dengan bibir mengkerut.


Mulut Anggi berkedut,"..." Dia tidak selemah itu, okay.


Dia adalah orang kampung dan terbiasa dibesarkan dengan cara yang agak keras dari wanita di kota. Maka dari itu pasir kasar ini bukanlah masalah serius untuknya.


"Gunakan ini." Adit menyerahkan jasnya ke Anggi.


Anggi mengambilnya bingung,"Eh, kenapa?"


"Ini sudah larut malam dan dingin. Angin laut juga tidak terlalu bagus untuk kesehatan di waktu selarut ini." Jawab Adit dengan suara yang lebih rendah dan serak dari sebelumnya.


Anggi tertegun. Dia menatap kosong jas Adit yang ada di tangannya. Suhu hangat tubuh Adit masih belum menghilang dan wanginya... Anggi tanpa sadar memejamkan matanya untuk menghirup kuat wangi yang menguar dari jas ini.


Anggi juga tidak mau munafik. Di samping kedinginan, dia juga senang bisa menggunakan sesuatu yang pernah Adit gunakan apalagi masih memiliki suhu tubuh maupun wanginya. Anggi jelas tidak mau melepaskan kesempatan berharga ini.


Hem, suhu hangat segera melingkupi tubuhnya seolah-olah dia sedang didekap oleh pemilik jas ini, membuatnya kian gugup.


"Terima kasih, mas." Wajah Anggi merona.


Adit tersenyum simpul.


"Ayo naik, kita harus pulang sebelum tuan Davin mencari kita."


Adit duduk membelakangi Anggi, memberikan isyarat agar Anggi naik ke punggungnya.


"Mas Adit aku pikir ini..."


Awalnya Anggi ingin menolak karena dia tidak apa-apa, tapi saat menatap punggung tegap yang selalu membayang-bayangi malam tanpa tidurnya, Anggi menyerah. Dia ingin bertindak egois dan serakah untuk sekali saja. Untuk sekali saja.. kesempatan berharga ini dia tidak akan pernah menyia-nyiakannya.


Jadi, dengan hati-hati menyandarkan dirinya ke punggung Adit, menyentuh pundak kuatnya sebelum beralih melingkari leher Adit.


"Hufth..." Anggi menghirup wangi ini lagi.


Wangi yang dia dapatkan dari jas Adit juga tercium di lehernya. Wangi ini jelas lebih candu dibandingkan dari jas meskipun mereka semua berasal dari orang yang sama.


"Kamu cukup berat." Suara berat Adit menarik Anggi dari lamunannya.


Berat?!


Kata-kata ini sangat sensitif untuk wanita pada umumnya. Ini adalah tabu, okay!


"Aku...aku akan menurunkan berat badan." Kata Anggi berjanji dengan gelisah.


Setelah ini dia akan memulai program dietnya agar berat badannya turun!


"Hahaha...tidak perlu menurunkan berat badan. Menurutku berat badan ini lebih baik daripada para wanita yang ku temui. Seperti Nyonya Rein dulu, tuan Davin bilang dia sangat ringan. Itu adalah kabar buruk karena Nyonya Rein dulu sepertinya mengalami kekurangan gizi." Ucap Adit terkekeh.


Anggi tidak terlalu berat juga tidak ringan, intinya nyaman di gendong seperti ini.


"Maka...aku tidak akan menurunkannya.." Tapi dia berjanji akan menjaga pola makannya mulai dari sekarang.


Hum, ketahuilah, jatuh cinta adalah salah satu motivasi terbesar untuk siapapun merubah hidupnya termasuk Anggi sendiri tidak terkecuali.


"Yah, ini jauh lebih bagus."


Lalu mereka berdua tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun tidak mengurangi kedamaian yang dirasakan oleh hati masing-masing. Hingga sebuah topik sensitif berkelebat di benak Adit. Dia akhirnya punya waktu untuk menanyakannya dan beruntung dia mengingatnya malam ini.


"Em... bagaimana dengan mantan suamimu? Apakah dia masih menghubungi mu?"


Mendengar pertanyaan Adit, dia tidak langsung menjawab. Suasana damai tadi langsung menjadi stagnan, namun ini tidak berselang lama karena Anggi tidak mau terjebak dalam kebisuan.


"Dia sudah tidak lagi menghubungi ku sejak berita penangkapan tuan Revan tersebar." Jawab Anggi gelisah.


Ya, dia gelisah karena takut sang mantan suami kembali datang mengganggunya. Padahal dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang bersama anak-anaknya.


"Jangan khawatir, dia sekarang jadi buronan polisi. Dia tidak akan berani menghubungi kamu lagi. Tapi jika dia benar-benar berani, maka dia mungkin memiliki nyali yang sangat besar atau kepalanya mengalami masalah." Ucap Adit dengan senyuman miring di wajah datarnya.


Anggi merasa sedikit tenang setelah mendengar kata-kata ini. Sang mantan suami sudah menjadi buronan polisi karena terlibat dalam kasus perdagangan manusia dengan Revan. Tentu saja kasus itu masih kasus dimana saat Anggi dijual kepada Revan seharga beberapa ratus juta, sungguh menjijikkan.


"Aku tahu...dia tidak mungkin berani menggangguku lagi dan anak-anak." Kata Anggi jelas lega.


"Lalu apakah kamu masih memiliki perasaan dengan mantan suamimu itu?" Sekarang topik sudah merambat ke masalah pribadi Anggi.


Tapi dia masih menjawab.


"Aku sudah tidak. Aku adalah wanita yang bodoh bila masih memiliki perasaan kepada laki-laki bejat itu." Bantah Anggi tidak sudi.


Tidak cukup dijual tapi dia juga diselingkuhi, hah! Dia akan sangat bodoh bila mempercayai dan masih menyukai laki-laki itu lagi.


Daripada kembali hidup bersama dengannya, lebih baik Anggi menjanda seumur hidupnya. Ini jauh lebih baik daripada terjebak dengan laki-laki tidak berperasaan itu seumur hidupnya.


"Aku tahu kamu bukan wanita yang bodoh. Bagaimanapun, tuan dan nyonya mempercayakan kamu berada di sisi mereka." Puji Adit tiba-tiba.