My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
23. (23)



Mas Adit menurunkan tangannya dari pundak. Aku kembali dilanda perasaan gugup karena mas Adit sekarang mulai menatapku. Malu, kedua tanganku diam-diam saling meremat dan mulai mengeluarkan keringat dingin.


Bila mas Adit menolak ku lagi maka mungkin aku-


"Baiklah, tolong pijat kepalaku. Kepalaku agak pusing-pusing dan tidak nyaman." Kata mas Adit.


Begitu mendengar perkataannya, aku akhirnya bisa bernafas lega. Mas Adit tidak menolak ku, sungguh, aku sangat senang. Aku tidak tahu- ah, mas Adit tiba-tiba merebahkan kepalanya di atas pahaku. Tangan besarnya lalu mengarahkan tangan kananku untuk memijat posisi yang dia inginkan.


Bug


Bug


Bug


Suara jantungku berdetak kencang. Gendang telinga ku dipenuhi oleh suara detak jantungku yang melaju cepat karena dipicu oleh pendekatan mendadak mas Adit. Mas Adit, manusia yang ku juluki sebagai manusia batu karena wajah datarnya, laki-laki berwajah datar yang minim ekspresi dan kini menjadi pemilik tertinggi tahta di dalam hatiku. Laki-laki yang selalu menjadi angan-angan ku sebelum memasuki alam mimpi kini tengah berbaring di dekat ku dengan pahaku sebagai bantalnya. Jarak kami begitu dekat, sungguh sangat dekat. Dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan betapa lembut rambutnya yang hitam dipotong pendek, betapa wangi shampoo yang dia gunakan, dan betapa nyaman kepalanya yang sedang terpaku di atas pahaku.


Memiliki jarak sedekat ini bagaimana mungkin aku tidak gugup?


Dengan jarak sedekat ini aku bisa menyentuh wajahnya yang tampan juga minim ekspresi, dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya yang sangat tampan, dan dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan betapa bahagianya aku bersamanya.


Ya Tuhan, aku tidak tahu apakah ini ujian atau sebuah nikmat karena sekali lagi posisi ku benar-benar di ujung tanduk. Bisakah aku bersamanya?


Bisakah aku memilikinya?


Apakah aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang ku tunggu-tunggu bila bersamanya?


Dengan segala kekurangan dan masa lalu kelam yang pernah ku alami, apakah aku masih bisa bersamanya?


"Di sini sangat tidak nyaman.."


Aku tersenyum tipis, mengatur suasana hatiku senormal mungkin dan mulai menggerakkan jari-jari ku untuk memijat posisi yang mas Adit inginkan. Begitu tanganku bergerak mas Adit mulai memejamkan matanya terlihat cukup menikmati layanan tanganku.


"Apakah ini baik-baik saja?"


Dia berdehem ringan,"Cukup nyaman."


Aku tersenyum miris, malam ini aku merasa sangat beruntung karena bisa melakukan apa yang diinginkan mas Adit. Bila para wanita yang menyukai mas Adit tahu atau melihatku malam ini, aku bisa membayangkan betapa cemburunya mereka dan mungkin mereka juga akan membenciku karena telah mengambil perhatian mas Adit.


Yah, aku tahu betul perasaan ini karena aku sering merasakannya setiap kali melihat mas Adit dengan wanita lain. Apa-apaan aku ini, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mas Adit tapi aku sudah sok memilikinya.


Padahal mas Adit sendiri mungkin ogah denganku.


Yah, aku ini janda beranak dua dan punya masa lalu kelam, jadi... akan mustahil rasanya bila mas Adit juga memiliki rasa kepadaku.


"Kapan kamu mengantarkan semua barang-barang itu kepada Ibu dan Ayah?" Suara serak mas Adit menarik ku dari lamunan.


"Aku belum memikirkannya, mas. Aku tidak tahu kapan bisa pulang lagi ke rumah." Aku benar-benar belum memikirkannya karena aku tidak bisa semena-mena di sini.


Walaupun aku adalah sahabat nyoya Rein tapi aku juga pekerja di rumah ini jadi aku tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan semauku hanya karena hubungan persahabatan kami.


"Aku bisa meminta izin kepada tuan Davin dan nyonya Rein untukmu. Bagaimana dengan besok sore?"


Lagi-lagi aku diberikan kejutan oleh tindakan tidak terduga mas Adit. Bila mas Adit yang meminta izin, tuan Davin dan nyonya Rein sepertinya tidak akan banyak berpikir. Mereka pasti tidak keberatan. Dan bila aku pergi besok sore sepertinya waktu-waktu itu agak sulit karena aku harus mulai menyiapkan makan malam di mansion.


Setelah merenung sebentar, aku pikir sore bukanlah waktu yang nyaman untuk berpergian. Mungkin jika siang hari masih tidak apa-apa karena orang rumah biasanya sedang beristirahat.


"Sore tidak bisa, mas, soalnya aku harus menyiapkan makan malam. Tapi kalau siang sepertinya agak longgar."


Mas Adit tampaknya mulai tertidur karena dia lambat merespon.


"Hem, kalau begitu besok siang."


Mas Adit mungkin akhirnya tertidur terlihat dari suara nafas berat dan pergerakan dadanya bergerak naik turun teratur jauh lebih santai daripada sebelumnya. Melihatnya tertidur aku tidak langsung pergi tapi menunggu beberapa saat lagi agar tidurnya lebih nyaman dan dia tidak terganggu. Hingga setengah jam kemudian aku memutuskan untuk keluar dari kamar Adit. Dengan hati-hati aku menaruh bantal di bawah kepalanya, mengambil selimut panjang nan hangat di atas kasur untuk menutupi tubuhnya. Selesai. Aku tersenyum geli melihat postur tidurnya tapi aku harus segera pergi.


Sebelum menutup pintu kamar, aku menyalakan lampu tidur untuknya dan mematikan lampu kamar. Dan klik, aku menutup pintu kamarnya dan kembali ke kamarku sendiri untuk tidur.


...🌪️🌪️🌪️...


Selepas mobil Adit pergi, Mama dan Sera masuk ke dalam rumah dengan reaksi berbeda-beda di wajah mereka. Bila Sera tampak muram karena Adit menolak masuk dan mampir, maka Mama justru jauh lebih tenang seolah tak ada yang pernah terjadi. Mungkin karena usianya yang sudah berkepala empat menumpuknya menjadi orang yang lebih tenang dan berkepala dingin saat menghadapi sesuatu yang tidak disukai.


"Ma, Sera kesel banget tahu, enggak!" Adu Sera mau curhat ke Mama.


Dia melemparkan dirinya ke atas sofa, meringkuk kesal dalam kemarahannya.


"Anak Mama kenapa kesel, hum? Siapa yang gangguin kamu, Nak?" Tanya Mama lembut.


Jarang-jarang anaknya bertingkah manja. Biasanya dia terbiasa bersikap dewasa dan memiliki kesan wanita yang lembut sampai-sampai Mama maupun Papa pernah berpikir bila putri mereka sudah dewasa. Tapi melihatnya seperti ini Mama tiba-tiba merasa penasaran apa yang telah memicu putrinya sampai seperti ini?


"Ma, aku kesel banget sama mbak Anggi! Dia tuh di rumah kak Davin cuma pemandu tapi sikapnya belagu banget. Masa nih Ma, dia kan enggak tahu apa-apa tentang bisnis dan harusnya kerja di mansion ngurusin segala urusan rumah tangga, tapi malah ikut kak Adit ke kota D. Padahal Sera udah senang banget keluar sama kak Adit. Sera pikir kita keluar berdua aja karena mas Adit gak ada ngomong apa-apa soal mbak Anggi ikut. Eh besoknya waktu Sera ke rumah kak Davin, kak Adit bilang mbak Anggi disuruh ikut buat bantu-bantu dia selama di kota D. Enggak sampai situ aja, Ma, yang buat aku kesel! Tahu enggak, Ma? Setelah sampai kota D pun mbak Anggi semakin menjadi-jadi. Entah apa yang dia katakan ke kak Adit waktu itu karena kak Adit bilang aku enggak boleh ikut. Aku harus urus urusan ku sendiri di kota D! Aku enggak bisa ngomong apa-apa dan terpaksa tinggal di klinik untuk sementara waktu. Parahnya lagi selama 3 hari itu kak Adit enggak bisa dihubungi! Aku enggak pernah ketemu sama kak Adit selama 3 hari itu! Sera kan kesel!" Curhat Sera panjang lebar dengan volume yang cukup tinggi.


Mama bahkan harus menutup kedua kupingnya karena teriakan sang putri tapi dia sama sekali tidak marah dan memberikan anaknya kesempatan untuk berbicara, mengeluarkan kekesalannya dari dalam hati. Sebab bila ditahan terus hasilnya akan sangat buruk jadi lebih baik disuarakan saja.


"Sudah selesai ngomongnya?" Tanya Mama masih dengan nada keibuannya yang hangat.


Sera merenggut kesal, menggigit bantal sofa yang ada di pelukannya tampak masih kesal tapi setidaknya tidak sesak sebelumnya.


"Ma... Sera enggak suka sama mbak Anggi." Kata Sera merajuk.


Mama mengangguk paham, dia mengerti maksud putrinya. Memangnya siapa yang menyukai saingan cintanya terus-menerus dekat dengan laki-laki yang disukai?


Putrinya pun tidak terkecuali. Dia tidak menyukainya.


"Anggi ini sepertinya tidak mudah dihadapi." Kata Mama memberikan penilaian.


Dia masih ingat senyuman Anggi saat mendengar penolakan Adit untuk mampir ke dalam rumah. Anggi jelas senang dengan penolakan Adit jadi Mama menyimpulkan bila Anggi sebenarnya memiliki maksud tertentu kepada Adit. Sebagai seorang Ibu yang mencintai putrinya, Mama jelas lebih mendukung Adit dengan Sera daripada mendukungnya bersama wanita lain.


"Mbak Anggi emang enggak mudah, dia kan mantan penggoda." Kata Sera kekanak-kanakan dan agak asal-asalan.


Mama mengernyit,"Penggoda, maksud kamu, Nak?"


Mama mengenal Davin dengan baik, jika Anggi memiliki kesan yang sangat buruk dia tidak mungkin menjadikannya sebagai ketua pelayan apalagi menjadi asisten istri tercintanya, dia tidak mungkin sebodoh itu. Namun bagaimana mungkin penilaian anaknya salah? Pasti ada sesuatu yang dia lewatkan.


Apa hubungannya dengan Anggi?


"Ingat." Kata Mama mencoba mencari cerita yang telah dia lewatkan di dalam kepalanya, tapi dia tidak mengingat satupun tentang cerita ini.


"Nah, korban yang dia perdagangkan di sini salah satunya adalah mbak Anggi, Ma. Dia dibeli dengan harga sekian juta untuk melayani Paman kecil di atas ranjang. Mungkin kalau enggak salah dia melakukannya selama setengah bulan. Jangan heran kenapa dia diangkat jadi orang penting di mansion karena kak Rein sendiri adalah sahabat mbak Anggi. Kak Rein kasihan kepadanya dan meminta kak Davin memperkerjakan di mansion." Jelas Sera menjelaskan dengan nada suara berapi-api.


Dia berbicara seolah-olah dia tahu betul cerita ini dan mengalaminya sendiri. Entah disadari atau tidak, karena terbakar cemburu karakter lembutnya telah tergantikan oleh wanita keras kepala sok tahu.


"Eh, seriusan?" Cerita ini sebelumnya pernah dibicarakan oleh saudara-saudaranya saat mereka sedang berkumpul tapi Mama tidak memasukkannya ke dalam hati dan perlahan seiring waktu mulai melupakannya.


"Iya, Ma. Dan parahnya lagi setelah Paman kecil masuk penjara mbak Anggi mulai beraksi mendekati kak Adit, kegatelan banget emang. Padahal dia tuh janda beranak dua, Ma! Apa dia enggak sadar dengan status dan situasinya!" Ucap Sera kesal, marah, cemburu menjadi satu.


Semua keluhan dihatinya ini telah terakumulasi sejak beberapa hari ini dan ingin segera diledakkan.


"Nak, jangan berbicara seperti itu. Apapun statusnya dia masihlah wanita." Tegur Mama terganggu dengan emosi putrinya.


Emosi boleh tapi kalau sampai menyebut urusan pribadi orang lain, Mama jelas tidak suka sebab mereka juga wanita. Bahkan meskipun putrinya mengungkapkan aib Anggi dia masih belum mempercayai sepenuhnya. Dia butuh bukti dan dia akan mencari tahu semua kebenarannya sendiri. En, ini dia lakukan bukan karena ingin membela Anggi tapi karena ingin memastikan kebenaran dari apa yang baru saja disampaikan oleh putrinya.


Dia seorang Ibu dan tentu saja lebih mendukung putrinya bersama Adit daripada dengan wanita lain.


"Sera enggak bermaksud gitu, Ma. Sera cuma kesel aja ngeliat mbak Anggi mepet kak Adit terus. Karena menurut Sera, kak Adit pantas mendapatkan yang terbaik. Dia harus bertemu dengan wanita lajang dan memiliki karir yang bagus juga dengan latar belakang keluarga yang baik."


Mama sontak menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Mencubit pipi gembil putrinya yang cantik,"Dari apa yang Sera katakan kenapa Mama merasa bila deskripsi ini menggambarkan Sera sendiri?"


Sera langsung tertawa malu tapi dia tidak membantahnya karena dia pun menyukai Adit dan ingin bersamanya.


"Sera suka kak Adit, Ma. Sera mau hidup sama kak Adit. Sebelumnya Mama dan Papa pernah bilang ingin melihat Sera menikah secepat mungkin tapi aku terus saja menolak karena waktu itu kak Adit masih sangat sibuk di luar negeri. Sekarang kak Adit sudah di sini dan bila Mama ataupun Papa ingin melihat Sera menikah maka kali ini aku tidak akan menolak. Asalkan calon suamiku kak Adit, aku pasti mau memenuhi impian Papa dan Mama." Kata Sera diwarnai keseriusan.


Dia tidak memiliki cara selain melibatkan kedua orang tuanya dalam masalah ini. Dia ingin segera memiliki Adit dan dia pikir jalan satu-satunya yang paling cepat juga memiliki hasil terbaik adalah dengan melibatkan kedua orang tuanya.


Mungkin dengan cara ini dia terkesan curang dan kekanak-kanakan tapi dia tidak perduli sama sekali. Selama dia bisa bersama Adit, maka cara apapun baik-baik saja.


"Nak, kamu sangat pintar!" Keluh Mama tidak berdaya.


Bagaimana mungkin dia tidak tahu jalan pikiran putrinya. Dia tahu tapi berniat mendukungnya. Sebab dia juga menginginkan yang terbaik untuk putrinya.


"Sera cinta sama kak Adit, Ma. Selain dia, aku enggak mau nikah." Tekan Sera sangat serius.


Dia benar-benar hanya menginginkan Adit, kecuali Adit, lebih baik tidak usah menikah sekalipun kedua orang tuanya memaksa.


"Anak ini!" Mama mencubit pipi gembil putrinya gemas.


"Nak, ketahuilah Mama senang banget ketika tahu kamu suka sama Adit. Karena Mama dan Papa sangat menyukai Adit, dia adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab jadi kami bisa tenang melepaskan kamu kepadanya. Sebelum ini kami sempat khawatir kamu menemukan laki-laki yang salah dan berniat menjodohkan kamu dengan Adit. Tapi setelah mengetahui perasaan kamu kepada Adit, kami akhirnya bisa bernafas lega. Dan kamu tenang saja untuk masalah Adit karena kami berencana mengunjungi keluarga Adit beberapa hari ke depan. Kami akan membahas tentang hubungan kalian jadi kamu tidak perlu berpikir yang macam-macam lagi tentang Anggi itu." Kata Mama memberikan kabar gembira.


Ketika mendengar jaminan Mama yang menjanjikan, Sera sontak bangun dari acara rebahan nya, meraih tangan Mama dan memegangnya erat-erat.


"Beneran, Ma?!"


Mama tersenyum lembut,"Tentu saja benar. Mana mungkin Mama bohong sama kamu." Kata Mama menegaskan.


Sera sangat senang. Dia memeluk Mamanya erat untuk menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini. Suara teriakan nyaring nya sangat berisik dan mengganggu tapi Mama tidak marah karena ikut senang melihat putrinya juga senang.


"Sera, kalem. Ini sudah tengah malam. Enggak baik teriak-teriak." Tegur Mama lembut.


Sera terkekeh malu, dia melepaskan pelukan Mama dengan malu-malu dan kembali duduk ke sudut sofa. Semenjak mendengar jaminan Mama, bibir tipisnya tidak pernah berhenti mengukir sebuah senyuman tampak bahagia. Dia jelas dalam suasana hati yang sangat baik berbanding terbalik dengan setengah jam yang lalu.


"Hehehe... habisnya Sera senang banget, Ma, jadi kelepasan." Kata Sera malu-malu.


Mama memutar bola matanya main-main,"Kamu akan segera menikah jadi biasakan untuk bersikap kalem di depan Adit nanti."


Nasihat Mama membuat Sera dilanda perasaan senang tapi juga malu karena belum saja resmi menikah tapi sudah digoda oleh Mama.


"Iya, Ma. Terus kapan rencananya Mama datang ke rumah kak Adit?" Dia sudah tidak sabar mengklaim hubungannya dengan Adit agar Anggi menjauhi calon suaminya.


Saat itu terjadi dia ingin melihat apakah Anggi masih berani menggangu calon suaminya.


"Secepatnya. Tunggu sampai urusan Papa kamu selesai." Kata Mama santai.


Sera tidak sabar,"Kapan urusan Papa selesai?"


Mama lagi-lagi memutar matanya malas. Anaknya ini sangat cerewet malam ini tapi dia menganggap wajar sebab anaknya sedang dalam suasana hati yang baik.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi. Udah, kamu tenang saja dan biarkan kami yang mengurus semuanya. Kamu hanya perlu fokus pada pekerjaan mu saja dan jangan pikirkan yang lai , mengerti?"


Sera buru-buru menganggukkan kepalanya puas. Agaknya malam ini hatinya bisa ditenangkan setelah berbicara dengan Mama. Hem, tentu saja berbicara dengan Mama adalah yang terbaik dan jauh lebih menyenangkan.


"Sera kan cuma khawatir, Ma. Em...kenapa Mama enggak bilang sih sebelumnya mau jodohin aku sama kak Adit? Tau gitu lebih baik aku ngomongnya dari dulu biar bisa nikah muda." Kata Sera main-main.


Mama tidak menganggap serius ucapannya dan hanya menganggapnya sedang main-main tapi masih menjawab serius.


"Kamu waktu itu sibuk banget sama klinik jadi Mama pikir kamu enggak mikirin nikah dulu. Dan Mama juga agak ragu jodohin kalian soalnya Adit orangnya jutek banget. Mama takut kamu enggak nyaman."


Sera buru-buru menggelengkan kepalanya membantah. Siapa bilang dia tidak suka? Bukan hanya suka tapi justru suka banget malah.


Adit orangnya perfeksionis, disiplin tinggi, dingin, orangnya pembersih, dan yang paling penting dia sangat bertanggungjawab jadi bagaimana mungkin Sera tidak jatuh hati?


"Sera suka semuanya tentang kak Adit, Ma. Jadi Mama jangan ragu lagi jodohin aku sama dia."


Jika putrinya sudah berbicara seperti ini bagaimana mungkin Mama masih menolak. Ini justru kabar baik untuknya karena Sera akhirnya bisa menikah dan akan melahirkan beberapa cucu lucu untuknya. Bagaimana mungkin dia tidak senang menantikan kebahagiaan di masa depan?


"Yakinlah, Mama tidak akan ragu kali ini. Udah ah, Mama enggak mau ngomong lagi. Mana udah ngantuk. Kamu sendiri enggak ngantuk apa habis dari perjalanan jauh?"


Sera sudah lama melupakan rasa kantuknya sejak Mama berjanji akan ke rumah Adit beberapa hari mendatang. Dia masih ingin berbicara panjang lebar dengan Mama tapi melihat wajah mengantuk Mama, akhirnya Sera menekan perasaan antusiasnya.


"Ngantuk, Ma. Kalau gitu aku naik ke kamar dulu, ya. Dah Mama."


Sera mengecup pipi kanan Mama sebelum melarikan diri ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Melihat tingkah manis anaknya, Mama mau tidak mau ikut bahagia. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum melihat putrinya sebahagia ini.