My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
5. (5)



"Jadi apa yang mereka katakan memang benar, ya?" Potong Adit dengan nada malasnya.


Anggi mengangkat kelopak matanya selebar mungkin, menatap hati-hati ekspresi malas Adit yang kini tengah berdiri sambil menatapnya. Aura malas yang dia rasakan dari Adit membuat Anggi merasa bila ekspresi acuh tak acuh Adit tidak sesederhana yang dia bayangkan. Ini seperti bunglon dengan berbagai macam kamuflase di sekitar tubuhnya. Untuk sebuah perlindungan atau mungkin untuk menjebak mangsanya masuk ke dalam wilayahnya.


"Kenapa hanya diam saja?" Tegur Adit membuyarkan lamun Anggi.


"Aku... Aku dijebak, apakah Mas Adit meragukan ini?" Tanya Anggi takut-takut.


Adit adalah satu-satunya orang yang paling mengetahui setiap detail kasusnya pada saat itu maka bagaimana mungkin dia masih mempertanyakan sesuatu yang sudah ada jawabannya?


Adit mengangkat alis sebelah kanan dengan rasa arogansi yang seksi. Dari sudut pandang Anggi sebagai objek yang sedang ditatap, dia khawatir bila Adit sekarang sedang mencemooh dirinya karena melemparkan pertanyaan yang tidak berguna?


"Entahlah, karena kamu mengakui apa yang pelayan itu katakan maka aku tiba-tiba memiliki pikiran jika kamu menyukai tipe laki-laki seperti tuan Revan. Sebab dengan kekayaan dan ketampanan yang dia miliki, bukan hal yang aneh menduga beberapa wanita jatuh hati kepadanya."


Gen keluarga Demian memang tidak sembarangan. Entah itu wanita ataupun laki-laki, mereka semua lahir dengan kondisi yang sangat baik dan memiliki penampilan yang sempurna. Jadi wajar saja melihat beberapa orang jatuh hati kepada mereka karena semua orang tahu bila keluarga Demian sangat baik secara fisik maupun finansial.


Dia tidak tahu bagaimana reaksi dan ekspresi Adit saat ini namun yang pasti dia tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung ke mata Adit.


Takut dia melihat tatapan sinis dari kegelapan mata Adit, takut mendengar nada cemoohan dari suara Adit, takut bila Adit memberikan reaksi yang tidak sesuai dengan harapan hatinya.


"Jika kamu berpikir seperti itu maka tempat ini mungkin tidak pantas untukmu." Suara Adit dingin.


Anggi ketakutan. Mulutnya meringkuk membentuk garis keriput seakan-akan berusaha keras menahan isak tangisannya.


"Apakah kamu tahu bila keluarga besar seperti keluarga Demian memiliki air laut yang keruh dan dalam?" Perumpamaan ini untuk menggambarkan betapa dalam dan kelamnya kehidupan orang-orang kaya.


"Tahu, aku pernah mendengarnya." Jawab Anggi takut-takut.


Adit tersenyum datar,"Jika kau tahu lalu kenapa kamu masih berani tinggal di sini dan bahkan menatap sebagai ketua pelayan keluarga Demian?"