My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
52. (52)



Anggi ikut berkata,"Iya, Bu. Mas Adit sangat sibuk di perusahaan sampai-sampai harus menginap di sana karena banyak pekerjaan. Aku dan mas Adit juga baru bertemu hari ini setelah 3 mingguan tidak pernah bertemu." Kata Anggi membantu Adit.


Anggi tahu bagaimana Ibu sangat menyukai Adit. Karena Adit adalah laki-laki pertama yang telah meluluhkan hati Ibu, laki-laki pertama yang membuat Ibu merasa nyaman melepaskan anak perempuan satu-satunya.


Ibu tidak ingin berbicara omong kosong, tapi melihat Adit dekat dengan Anggi adalah sebuah kebahagiaan yang Ibu rasakan di dalam hatinya. Setiap kali melihat Adit, Ibu kerap kali merasa bahwa dia lah kebahagiaan yang dicari anaknya dan dia lah sumber kebahagiaan yang telah lama ditunggu oleh anaknya.


Maka dari itu melihat Adit menghilang tanpa kabar membuat Ibu menjadi resah. Dia takut Adit kapok datang ke rumah lagi. Takutnya harapannya tidak terjadi karena Adit telah memiliki wanita yang lebih baik dan jauh lebih baik daripada putrinya.


Ini adalah ketakutan seorang Ibu yang sangat mengharapkan kebahagiaan untuk putrinya.


"Benar, begitu? Atau jangan-jangan Adit kapok lagi datang ke rumah ketemu sama keluarga?" Ibu tidak bisa menahan tawa lepasnya karena Adit akhirnya muncul bersama putrinya.


Lega, sangat lega rasanya. Ibu senang dengan kedatangan mereka berdua.


"Astaga, aku enggak akan kapok ke rumah Ibu. Jika bukan karena terlalu sibuk bekerja di kantor, aku mungkin akan sering membawa Anggi berkunjung ke rumah." Adit tidak mengecewakan Ibu.


Seperti yang Adit harapkan, tawa Ibu langsung pecah karena terlalu senang. Dia memukul pundak Adit sambil tertawa.


Ketika mereka bertiga asik mengobrol, ada satu orang yang sedang bermuram durja. Orang itu melihat interaksi mereka bertiga dengan tatapan cemburu yang tidak bisa disembuhkan oleh mata coklatnya. Dadanya naik turun dengan kecepatan tinggi, nafas memburu, serta kedua tangan mengepal membentuk bola tinju yang tertahan. Hatinya meraung tidak terima karena mantan istri dan mantan mertuanya memiliki sikap yang akrab dengan laki-laki itu. Dia cemburu dan merasa bila posisi itu seharusnya menjadi miliknya.


Menggertakkan giginya marah, Doni berjalan mendekati mereka bertiga dan menyapa Ibu dengan sapaan sopan.


"Bu, Anggi akhirnya pulang. Ibu ternyata tidak membohongi aku." Kata Doni menyela pembicaraan hangat mereka.


Beberapa jam yang lalu dia menghampiri Ibu, Ayah, Paman, dan Bibi yang sedang berjalan-jalan di taman hiburan dengan sikapnya yang sok akrab. Ibu dan Ayah tidak menyukainya sejak mereka tahu jika dia pergi berselingkuh dengan wanita lain. Tapi Doni memiliki wajah yang tebal. Sekalipun dia diberikan perlakuan dingin, Doni sama sekali tidak memasukkannya di dalam hati. Bahkan saat Ibu dan Ayah secara terang-terangan memintanya untuk pergi, Doni sama sekali tidak mendengarkan dan berpura-pura tidak mendengar pengusiran mereka. Dia memaksakan diri bercampur dengan pasangan lansia itu walaupun dia enggan. Untuk menjalankan misinya, nama anak-anak pun tidak luput dari perhatiannya. Dia membawa nama anak-anak agar dia bisa ikut pulang bersama mereka.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Ibu dan Ayah membawa Doni pulang. Tapi tidak menyambut kedatangannya ke rumah. Mereka membiarkannya berkeliaran di luar rumah bersama anak-anak dan tidak diizinkan masuk ke dalam rumah.