
Dia ingin memberikan orang kaya angkuh seperti wanita ini sebuah pelajaran jika kekuasaan tidak selamanya bisa digunakan. Mungkin rumah penitipan anak takut berhadapan dengannya tapi tidak dengan Rein sendiri. Dia sudah muak melihat anaknya terus diganggu.
"Berani-beraninya kamu!" Wanita angkuh itu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Awas kamu yah, masalah ini tidak akan aku lepaskan begitu saja. Oh, ternyata kamu hanya bekerja sebagai pegawai kasar di perusahaan Demian property. Pantas saja kamu memberikan anakmu nama belakang Demi-"
"Diam!" Potong Rein dingin.
Wanita angkuh itu jelas terkejut. Dia berdiri, menarik tangan anaknya dan tidak lupa pula mengambil tas bermerk miliknya yang ada di atas meja.
"Jika kalian tidak mengeluarkan anak ini dari sini maka rumah penitipan anak-"
"Tidak perlu," Potong Rein dengan nada tidak tertarik.
"Tio tidak akan kembali lagi ke sini. Jadi Mbak tidak perlu bersusah payah memblokir dana rumah penitipan anak ini." Dia lalu mengusap lembut puncak kepala Tio.
Tio menatapnya dengan wajah berbinar, jauh lebih lembut daripada ekspresi cemberutnya yang sangat mirip dengan milik Davin.
"Ayo kita pulang, Nak. Di luar uncle Dimas sudah menunggu kita keluar."
"Okay, Mommy!"
Rein mengucapkan terimakasih kepada pengasuh yang telah menjaga Tio dan segera keluar tanpa perlu memberikan wajah kepada wanita angkuh itu.
Dalam langkahnya yang lurus dan ringan, ada rasa sakit yang tidak terelakkan. Dia kecewa, sangat kecewa kepada dirinya sendiri karena tidak mampu membuat Tio berdiri sejajar dengan anak-anak yang lain.
"Sayang, jangan lakukan ini lagi di masa depan, okay? Mommy gak suka Tio berbuat kasar kepada orang lain." Rein menasehatinya dengan lembut.
"Mom, Tio sayang, Mommy. Tapi Tio gak suka mainan dali Mommy meleka lusakin, Tio akan malah!" Jawab Tio dengan ekspresi cemberut yang tampak sangat menggemaskan.
"Lagi-lagi kamu seperti dia," Rein sungguh tidak berdaya.
"Siapa, Mom?" Tanya Tio polos.
Rein tersenyum tipis,"Seperti Davin Demian, Ayah kamu."
...🍃🍃🍃...
"Sekarang kita harus gimana?"
Dimas ikut mendudukkan dirinya di lantai, meluruskan kedua kaki jenjangnya untuk mencari kenyamanan.
Rein belum menjawab. Dunianya saat ini dipenuhi oleh wajah lembut Tio yang kini sedang tertidur lelap di atas pahanya. Dia menyisir rambut Tio dengan gerakan mendayu-dayu. Menarik Tio ke dalam dunia mimpi tanpa perlu menoleh untuk mengintip dunia nyata.
Dimas memperhatikan Rein masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia menghela nafas panjang, menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan Rein agar bisa mencium wangi manis Rein yang sudah lama menjadi candu untuknya.
"Dim," Panggil Rein pada akhirnya.
"Hem?" Dimas menjawab singkat.
"Lo tahu gak Tio mirip banget sama Davin kalau lagi marah." Kenang Rein mengingat kejadian tadi sore.
Dimas tidak suka membicarakan tentang Davin, laki-laki brengsek yang telah menyakiti Rein. Bila dia tahu akan ada hari dimana Rein akan sangat terluka karena perbuatan Davin, dia mungkin lebih suka menyatakan perasaannya sejak dulu. Saat-saat Rein masih belum bertemu dengan Davin.
"Dia mewarisi sikap angkuh Davin dan keras kepalanya yang menjengkelkan. Meskipun ditindas orang Tio tidak mudah menerima kekalahan. Dia sangat marah.. sangat marah hingga melempari kepala anak nakal itu dengan sebuah mainan. Tio-"
"Rein," Panggil Dimas tampak masam.
"Lo kenapa bahas dia terus?"
Rein langsung tersadar dari lamunannya ketika nada masam suara Dimas masuk ke dalam pendengarannya.
"Dim..lo sejak kapan di sini?" Rein menggeser duduknya secara alami tidak mau terlalu dekat dengan Dimas.
Dia tidak berpikiran yang aneh-aneh, hanya saja dia tidak terbiasa duduk sedekat ini dengan Dimas.
Dimas menahan nafas, memaksakan senyum yang sudah tidak bisa disebut lagi sebagai senyuman.
"Gue baru aja duduk di sini. Lo gak sadar yah karena ngelamun." Ujar Dimas berlagak tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Lagi ngelamunin apa sih, gue boleh tahu gak?"
Rein langsung menolak.
"Gak boleh, privasi."
"Gak apa-apa deh kalau lo gak mau ngasih tahu. Tapi gimana soal Tio, lo udah ada rencana gak Tio setelah pulang sekolah mau dititip kemana?" Dimas mengalihkan pembicaraan secara alami.
Rein melihat ke bawah. Menatap wajah damai Tio yang menggunakan pahanya sebagai bantal.
"Gue mau bawa Tio kerja setengah pulang sekolah besok." Jawab Rein hati-hati.
"Lo gila, Rein!" Panik Dimas bercampur marah.
"Lo tahu sendiri kan di perusahaan ada siapa? Lo tahukan kalau ada Davin di sana! Kalau Davin ketemu sama Tio gimana? Kalau dia curiga sama Tio gimana?. Lo gak takut Davin bakal apa-apain Tio?" Teriak Dimas mencerca Rein dengan berbagai macam pertanyaan.