
Hari pernikahan Adit dan Anggi satu hari lagi. Dan selama waktu ini mereka semua telah terbang ke pulau pribadi Davin untuk bersiap-siap. Di sana semua sudah bergerak mulai mempersiapkan pernikahan mereka. Mulai dari dekorasi vila yang sengaja dibuat mewah dalam pandangannya Adit yang menggunakan konsep istana bunga hingga layanan wisata laut untuk para tamu yang berencana tinggal satu atau dua hari. Dibandingkan dengan pernikahan Davin dan Rein, pernikahan Adit dan Anggi justru lebih mengedepankan materi yang melimpah serta layanan yang lebih memukau. Tentu saja dengan premis mengabiskan banyak uang sebab semua yang Adit siapkan tidak main-main.
Jujur saja, Adit bukanlah orang yang boros atau suka menghabiskan uang. Dia malah tipe orang yang tidak tahu harus melakukan apa terhadap uang yang kian menggunung di tangannya. Kecuali membeli properti di beberapa tempat yang memiliki nilai pasar tinggi, Adit lebih sering menggunakan uangnya untuk berbagi kepada adik angkat serta kedua orang tua angkatnya. Sisanya dia tidak terlalu memperhitungkannya.
Pernikahan adalah hal yang sangat sakral di mata Adit sebab pernikahan adalah ibadah indah yang telah Tuhan berikan kepada para hambaNya yang mendambakan kehidupan yang lengkap. Adit selalu berpikir bahwa karena pernikahan ini sangat penting maka sebaiknya dia menikah dengan wanita yang dia cintai atau wanita yang diakui oleh hatinya yang terdalam. Wanita yang bisa menyediakan rumah untuknya kembali. Adit pikir butuh waktu lama untuk menemukan wanita yang diinginkan hatinya sebab perjuangan yang dilalui sahabatnya untuk mencapai Rein bukanlah jalan yang mudah. Dia pikir semuanya membutuhkan proses yang sama sulitnya.
Tapi ternyata itu tidak sesulit yang dia bayangkan. Wanita yang dia cari begitu dekat terlepas apa latar belakangnya, Adit tidak menghadapi hambatan setajam yang Davin dan Rein lalui.
Adit bersyukur dan untuk menebus kelegaan dihatinya, Adit menggelar acara pernikahan yang sangat mewah untuk calon istrinya.
Acara pernikahan akan digelar satu hari lagi dan beberapa tamu sudah mulai berdatangan. Tamu-tamu itu begitu exited datang ke pulau ini untuk menghadiri acara pernikahan. Selain itu mereka juga bertekad ingin mengeksplorasi pulau pribadi Davin yang sangat sulit dimasuki tanpa izin tertentu.
"Apa kita akan datang, Bu?"
Siang tadi rumah mereka tiba-tiba kedatangan seseorang yang diutus oleh Adit dan Anggi untuk mengantarkan sebuah undangan. Itu adalah undangan pernikahan yang akan diadakan satu hari lagi di pulau pribadi keluarga Demian.
"Ibu menyerahkan semuanya kepada Ayah." Ujar Ibu tidak berani membuat keputusan.
Sejak Ibu mengerti apa posisi keluarga mereka di mata Anggi, Ibu langsung menutup mata serta telinganya terhadap suara-suara kecil putrinya yang ingi bertemu dengan Anggi. Dia juga berusaha keras agar tidak memikirkan Anggi lagi sebab semuanya sudah berakhir. Anggi tidak akan bermurah hati sedikitpun kepada mereka.
Namun sekarang ada sebuah surat undangan mewah tergeletak di atas meja ruang tamu. Itu adalah surat undangan dari Anggi, orang yang tidak mau mengakui hubungan mereka.
"Ayah, kita jadi pergi yah?" Bujuk Tina kepada Ayah.
Ayah terdiam dengan kepala lurus menatap undangan tersebut. Dia tidak tahu apakah ini itikad baik dari Anggi atau justru sebaliknya, sebuah penghinaan untuk keluarga kecilnya yang tidak mampu.