My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
103. Berani-beraninya Kamu!



"Aku...apa yang harus aku lakukan sekarang- eh, kenapa lampu senter ku semakin redup?"


Dan gelap.


Tepat setelah ia mengucapkan kata-katanya lampu senter itu segera kehilangan cahaya.


Rein diam membeku, menatap kosong senter- ah, sebenarnya dia tidak bisa melihat apa-apa di bawah sinar bulan redup malam ini. Sinar bulan memang terang, tapi itu berlaku di luar hutan karena tidak ada pohon yang menghalangi cahaya. Sedangkan di sini, sinar bulan tidak bisa masuk ke dalam hutan karena pohon-pohon di dalam hutan sangat rindang. Pohon-pohon itu menghalangi cahaya bulan sehingga hutan menjadi gelap gulita.


Sunyi-


Ini akan lebih menyeramkan bila benar-benar sunyi. Di sekelilingnya ada suara-suara dari hewan liar, memberikan rasa tak aman untuk Rein.


"Tidak, tidak mungkin! Senter ku pasti tidak mati!" Dengan tangan gemetaran, Rein memeriksa senternya.


Menekan tombol on berkali-kali tapi masih belum mengeluarkan cahaya yang ia harap-harap kan. Tidak menyerah, Rein lalu mengeluarkan batre senter beberapa kali sebelum memasangnya dengan hati-hati.


"Pasti bisa! Pasti bisa!" Dia melambungkan sebuah harapan sembari menekan tombol on-


"Hah?"


Rein menekan lagi tombol on tapi masih belum mendapatkan cahaya senter.


"Ya Tuhan, tidak mungkin!" Rein berteriak frustasi.


"HT, aku masih punya HT- lho, kenapa HT nya tidak bisa menyala!" Rein kian panik saat mengetahui HT di tangannya tidak menyala atau mengeluarkan suara.


Dia frustasi, mencoba beberapa cara untuk menghidupkan HT tapi hasilnya nihil.


Sedih bercampur rasa marah, Rein mendudukkan dirinya di bawah pohon. Memeluk kedua lututnya sembari berharap ada peserta yang akan melewatinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang..." Dia bertanya kepada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Beberapa kali kepalanya akan menoleh melihat sekelilingnya, memperhatikan pohon-pohon tinggi yang memiliki kesan mengerikan di malam hari. Terkadang ia akan berjenggit kaget ketika mendengar suara gemerisik dari dedaunan. Ucapan doa dan harapan tidak pernah ada putus-putusnya di dalam hati.


Namun sudah setengah jam, tidak ada satupun peserta yang melewati pos 5. Rein tidak bisa berpikir jernih, ia menduga bila orang-orang itu sengaja meninggalkannya di sini untuk alasan yang tidak diketahui.


"Davin, brengs*k!" Umpat Rein marah untuk melampiaskan kekesalan hatinya.


"Kenapa kamu memperkerjakan orang yang tidak becus seperti mereka? Kenapa kamu memperkerjakan orang-orang jahat seperti mereka, hiks! Aku sudah bilang takut gelap tapi kenapa mereka tidak mengetahui, hiks... kenapa mereka tidak mau mendengar?" Dia menangis terisak, memeluk kedua lututnya sembari membenamkan kepalanya untuk mencari perlindungan.


Jantungnya berdetak kencang karena takut, kedua tangan dan kakinya menjadi dingin karena takut, dan ia tanpa menahan diri menangis terisak sejadi-jadinya.


"Aku hiks... merindukan Tio." Isak nya melankolis.


"Aku sangat merindukan putraku! Jika Davin... jika Davin datang menyelamatkan ku saat ini dan mempertemukan ku dengan Tio maka aku akan memaafkan semua kesalahannya hiks...aku tidak akan marah lagi kepadanya hiks...aku-"


Sreg


Suara gemerisik dari semak-semak di depan sana membuat Rein spontan memeluk kedua lututnya. Dia ketakutan, tangisannya semakin menjadi-jadi seperti anak kecil yang tersesat mencari Ibunya.


"Aku...aku-"


"Rein, tepati janjimu."


...🍃🍃🍃...


Sudah 30 menit berlalu namun Rein tidak kunjung-kunjung kembali ke kamar penginapan. Davin tidak sabar ingin bertemu dengan Rein, tapi masih mencoba menahan diri dan menunggu kedatangan Rein lebih sabar lagi.


15 menit berlalu, Davin masih belum melihat batang hidung Rein. Mengintip dari jendela pun tidak ada gunanya karena tidak ada bayangan Rein di luar.


"Adit, apa kamu yakin telah memberitahunya untuk segera kembali dalam 30 menit?" Tanya Davin tidak sabar, sesekali tangan panjangnya akan bergerak menyibak kain gorden.


Mengintip keluar apakah Rein sudah kembali atau tidak.


"Aku sudah memberitahunya, bos, dan dia juga menyanggupinya untuk kembali dalam waktu 30 menit." Adit menjawab yakin.


Davin resah, atau mungkin lebih tepatnya sangat gugup. Ada banyak kata-kata yang ingin segera ia bicarakan dengan Rein namun, orang yang ia tunggu-tunggu tidak kunjung datang.


"Bos, aku bisa pergi mencari dia-"


"Tidak perlu," Potong Davin tidak tahan lagi.


"Aku akan pergi mencarinya dan kamu jaga Tio saja di sini. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku atau tidak, kamu bisa menanganinya dengan caramu sendiri." Pesan Davin sebelum menutup pintu.


Ia memakai mantel hitamnya di luar, tersenyum lebar, ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah seperti seekor serigala yang tengah mencari mangsanya. Di dalam keramaian dan hiruk pikuk para karyawan yang sedang bersiap melakukan jurit malam, Davin tidak menemukan mangsa- ah, lebih tepatnya orang yang ia cari-cari.


"Rein, dimana kamu bersembunyi?" Bisik Davin merasakan jantungnya berdetak.


Dia merasakan euforia yang sudah lama tidak ia rasakan. Perasaan berdebar, gugup, dan juga rasa kepuasan yang hanya bisa dipuaskan bila bertemu dengan sumber dari euforia ini.


Davin membetulkan letak kerah mantelnya, tersenyum miring, ia lalu membawa langkahnya menyusuri beberapa tempat. Melewati keramaian yang menawarkan sensasi menyenangkan namun juga menyeramkan, Davin dengan santainya menolak setiap tawaran bawahannya karena semua fokusnya saat ini hanya tertuju pada satu orang, Rein Xia.


"Kemana kamu pergi, Rein? Bukankah kamu sendiri lebih tahu bahwa tidak ada gunanya bersembunyi dariku, Hem?" Dia berbicara dengan nada menggoda, seakan-akan orang yang di goda kini ada di depannya.


Davin terlampau tidak sabar, ia menyusuri beberapa tempat yang sering Rein datangi selama beberapa hari di sini. Tapi, nihil yang ia dapatkan.


Davin berdecak tidak puas, ia ingin menelpon Adit untuk memastikan keberadaan Rein tapi suara percakapan seseorang berhasil mengurungkan niatnya.


Ia menoleh ke asal suara, diam, ia berusaha menyamarkan keberadaannya dari orang-orang itu sembari memfokuskan kedua telinganya untuk mendengarkan percakapan mereka.


Sejujurnya Davin bukanlah tipe orang yang mau tahu urusan orang tapi itu tidak sama bila menyangkut tentang Rein, sang kekasih yang kini tengah menjadi bahan topik pembicaraan.


"Aku sudah melakukannya tapi aku takut Pak Adit mengetahui rencana kita ini."


Lawan bicaranya membalas,"Jangan khawatir, Pak Adit dan Pak Davin tidak punya waktu untuk memikirkan keberadaan wanita penggoda itu. Daripada memikirkannya, mereka lebih baik bermain dengan keponakan Pak Davin."


Itu adalah suara angkuh dari seorang wanita yang tidak Davin kenal- atau mungkin hanya Lisa yang ia kenal di perusahaan itu. Sisanya, Davin harus melihat id card di leher karyawannya untuk mengetahui nama karyawannya.


"Tapi Yuni, aku dengar dari teman-teman yang lain jika Pak Adit pernah memperingati mu untuk tidak mengganggu wanita itu lagi karena wanita itu adalah orang penting-"


"Jangan mengatakan omong kosong! Pak Adit tidak pernah mengatakan apapun kepadaku! Sudahlah, jangan pikirkan ini lagi karena yang terpenting sekarang adalah wanita penggoda itu telah kita beri pelajaran. Dia harus merasakannya tinggal sendirian di dalam hutan, gelap tanpa pencahayaan dan bahkan tidak bisa menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan-"


"Aku bertanya-tanya," Suara dingin nan sarat akan nada marah mengintrupsi ucapan Yuni.


Yuni dan kedua temannya sontak menoleh ke arah asal suara, menatap kaku pada laki-laki tinggi nan tampan- sayangnya berwajah datar dan tampak tidak ramah.


"Pak...Pak Davin!" Wajah mereka bertiga langsung berubah menjadi pucat pasi.


"Hem?" Davin menatap mereka bertiga dengan amarah tertahan.


"Apa...Anda-"


"Aku bertanya-tanya kemana kekasihku pergi karena aku telah telah mencarinya kemana-mana, namun tidak kunjung ku temukan. Aku pikir ia pergi bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari ku namun ternyata aku salah besar karena bukannya bersembunyi, kekasihku malah sengaja disembunyikan oleh orang lain tanpa sepengetahuan ku. Kalian bertiga benar-benar pandai membuatku marah." Katanya sambil membentuk garis senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.


Mungkin ini lebih tepatnya garis seringai, sebuah pertanda buruk untuk mereka bertiga.


"Pak Davin, Anda salah paham-"


"Dimana dia berada?" Potong Davin tidak mau membuang waktu.


Pasalnya Rein benci gelap, dia tidak akan bisa bertahan lama bila terjebak di tempat yang gelap.


Yuni meremas pakaiannya ketakutan. Dia tidak pernah menyangka jika rencananya hancur begitu mudah. Hanya beberapa menit saja, ia sudah tertangkap basah oleh Davin langsung.


"Dimana dia berada?" Tekan Davin mulai kehilangan sabar.


"Kau tahu, jika kekasihku sampai terluka karena perbuatan mu ini maka jangan salahkan aku bila hidup keluargamu harus memiliki akhir yang buruk." Ancam Davin tidak main-main.


"Pak..jangan lakukan-"


"Dimana?" Potong Davin lagi.


Yuni tergagap,"Dia...dia ada di pos 9, Pak."


Davin mengernyit, pos 9 tidak bisa digunakan karena pengelola hutan bilang pos 9 sudah masuk bagian hutan dalam. Hutan dalam adalah kawasan hutan lindung yang memiliki banyak hewan buas dan liar-


"Berani-beraninya kamu!" Teriak Davin marah.


"Pak aku minta-"


"Kamu adalah orang yang meminta ini jadi jangan pernah menyesalinya!" Ancam Davin sebelum pergi berlari memasuki hutan.