My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
104. Janji Apa?



"Rein, tepati janjimu!"


Seseorang tiba-tiba berdiri di depannya. Dia berdiri dengan pose yang tidak biasa namun tidak bisa menutupi betapa kuat profil tingginya. Di tangan kirinya ada lampu senter yang menyala terabaikan menghadap bawah. Dia terengah-engah, seolah-olah dia datang ke sini dengan berlari kencang dan membabi buta.


"Rein," Panggilnya dengan suara serak.


Rein tersadar dari lamunannya.


"Rein, apa kamu-"


Grab


Tanpa menunggu laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, Rein segera bergegas bangun dari duduknya dan melemparkan diri ke dalam pelukan laki-laki itu. Ia memeluknya erat dengan suara isakan yang lebih besar dari sebelumnya.


"Aku membencimu, Davin! Aku sangat membencimu! Jika aku tahu akan terjebak di dalam hutan yang gelap sendirian lebih baik aku tidak pernah ikut ke sini bersama mu!" Keluhnya sembari memukul punggung Davin untuk melampiaskan kemarahannya.


Dia marah!


Dia sangat marah!


Dia tidak suka kegelapan dan dia membenci kegelapan!


Dia sudah tidak menyukai kegelapan apalagi sampai harus terjebak sendirian di dalam hutan dalam keadaan gelap gulita. Dengan senter saja masih menakutkan apalagi tanpa menggunakan senter. Rasanya sungguh mengerikan. Selama tinggal di sini ia merasa sangat tersiksa, ini jauh lebih menyiksa daripada tidak makan berhari-hari.


"Rein, tenanglah." Davin membalas pelukan Rein tidak kalah eratnya.


Setelah bertahun-tahun terjebak dalam imajinasi tiada akhir, ia akhirnya bisa memeluk Rein secara langsung tanpa mendapatkan penolakan. Tidak hanya tidak ditolak, namun Rein juga memeluknya dengan erat saat ini.


"Aku membencimu, Davin!" Perlahan Rein berhenti menangis.


Dia menenggelamkan kepalanya di dalam dada bidang Davin, menyembunyikan wajahnya yang pasti terlihat sangat memalukan saat ini. Padahal percuma saja menyembunyikannya karena Davin juga tidak akan bisa melihatnya.


"Aku tahu...aku tahu..." Ujar Davin tidak kehilangan senyum,"Tapi kamu tadi telah berjanji akan memaafkan bila aku berhasil menemukan mu, sekarang tepati janjimu, Rein."


Tuhan memberikan Davin kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Rein, maka mengapa ia tidak bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin?


Tidak, Davin akan memanfaatkan sebaik mungkin. Setidaknya ia dan Rein tidak lagi terjebak dalam hubungan benci.


Rein masih belum melupakan tentang kekesalannya di sini.


"Tapi... tapi aku tidak memaafkan masalah ini! Aku sudah bilang tidak suka gelap tapi kenapa aku masih saja dikirim ke sini!" Gerutu Rein mengundang tawa untuk Davin.


"Orang yang mengirim mu ke sini adalah bawahan ku dan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Akan tetapi kamu tenang saja karena masalah ini pasti aku tangani dengan serius, mereka yang mengirim mu ke sini akan mendapatkan hukuman yang setimpal." Ucap Davin dengan sorot mata ambisius.


Di dalam kegelapan, mata tajam Davin bersinar terang seperti serigala yang tengah menunggu mangsanya.


Dia tidak main-main dengan apa yang dikatakan tadi karena bertahun-tahun hidup di dalam dunia bisnis telah mengajarkan Davin apa itu dunia bersih dan gelap. Untuk menjadi mitra yang baik, Davin pasti akan berjalan di jalan yang benar tapi bagaimana jika dia bertemu dengan lawan yang kotor?


Tentu saja Davin tidak akan ragu menggunakan cara gelap. Lagipula dunia bisnis tidak selamanya murni dan bersih, mungkin dipermukaan terlihat begitu tenang tapi bagaimana dengan di dasar?


Itu penuh dengan kebusukan.


"Ya, itu bukan kamu secara langsung tapi tetap saja mereka adalah bawahan mu, Davin! Aku terpaksa membantu karena mereka sangat memaksa. Setelah mengirim ku ke tempat ini, mereka lalu meninggalkan ku senter dan HT mati. Aku tidak bisa melihat apapun dan aku juga tidak bisa menghubungi siapapun untuk dimintai bantuan!" Keluh Rein menjabarkan satu demi satu penyiksaan yang ia dapatkan di sini.


Sendirian tanpa cahaya penerang dan bahkan ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk dimintai pertolongan,


Hah, apakah semua ini adalah lelucon?


Davin mengelus puncak kepala Rein antara rasa geli juga prihatin. Betapa takutnya Rein dengan kegelapan, tidak ada yang lebih tahu daripada dirinya, Davin Demian.


Karena itulah masalah ini tidak akan ia lepaskan begitu saja.


"Apakah kamu mendengar ku? Karena itulah aku mengatakan akan memberikan mereka hukuman yang setimpal karena telah berani-beraninya menyakitimu, tidakkah ini membuat mu lega?" Tanya Davin lembut sarat akan perhatian.


Rein menggelengkan kepalanya,"Aku masih kesal."


Ia meremat kuat pakaian Davin,"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya tinggal sendirian di sini. Ada suara aneh dimana-mana, gelap, dan dingin-


Davin menghela nafas panjang dan dengan sabar mendengarkan semua keluhan Rein tanpa menyela sedikitpun. Ia mendengar semuanya dengan patuh seolah-olah semua yang Rein katakan adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh ia lewatkan.


"Sudah puas?" Tanya Davin geli.


Rein malu, dia baru menyadari bila posisi mereka terlalu intim dan sarat akan suasana ambigu. Lantas ia dengan enggan melepaskan pelukan Davin akan tetapi salah satu tangannya tidak mau melepaskan pakaian Davin.


"Ayo kita kembali, Tio pasti cemas mencariku." Kata Rein tidak berani menatap Davin.


"Pulang? Tentu saja kita akan segera pulang, akan tetapi pertama-tama kita harus memperjelas janji yang telah kamu ikrar kan." Davin mengingatkan dengan murah hati.


Wajah Rein terasa panas,"Janji apa?"


Rein berpura-pura tidak tahu, sayangnya kepura-puraan ini tidak berlaku untuk seorang Davin Demian.