
Tapi dia masih belum pergi karena kedua matanya menangkap keberadaan kotak tissue kering yang ada di atas meja wanita itu.
"Apa ada sesuatu yang masih belum jelas?" Wanita itu merasakan tatapan Rein.
"Tidak, Bu. Ini.. apa saya boleh meminta beberapa lembar tissue yang ada di meja itu?"
"Ambillah, kamu tidak perlu bertanya." Wanita itu menggeser kotak tissue ke depan Rein sebelum fokus menatap layar komputer.
"Terimakasih, Bu."
Dia buru-buru mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan permukaan nampan dan pinggiran cangkir kopi yang telah ternoda air kopi.
Dengan begini, Davin tidak bisa menemukan ada sesuatu yang salah. Setidaknya Davin tidak akan marah nanti dan pekerjaan Rein masih bisa diselamatkan.
Berdiri di depan pintu masuk kantor Davin.
Rein ragu, dia menatap bisu pintu masuk ruang kantor Davin yang hanya berjarak satu langkah. Dia memejamkan matanya membayangkan setiap kata-kata kejam yang akan terlontar dari mulut angkuh Davin nanti jika berhasil menemukan ada sesuatu yang salah.
Sakitnya pasti tidak main-main dan Rein tidak boleh menangis sekejam apapun kata-kata itu menusuk pertahanannya.
Tok
Tok
Tok
Rein mengetuk pintu.
"Masuk." Suara bariton Davin yang sarat akan nada malas mengizinkan Rein masuk ke dalam.
Dengan gerakan hati-hati dia mendorong pintu masuk dan dengan hati-hati pula Rein masuk ke dalam ruangan kantor Davin. Di dalam Davin sedang duduk serius menghadap layar komputer dengan kacamata kerja berwarna abu-abu ringan bertengger manis di pangkal hidungnya.
Sejenak Rein diam membisu melihat betapa menawan Davin dalam mood serius bekerja. Apalagi jika menggunakan kacamata seperti ini, aura dominan dan seksinya tidak bisa terelakkan.
Hah..
Davin semakin menawan setelah 5 tahun tidak bertemu dengannya.
"Oh, maaf." Rein mengalihkan pandangannya pura-pura terlihat tenang. Padahal nyatanya dia sangat malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan Davin.
"Pak, ini adalah kopi pesanan, Anda."
Rein meletakkan nampan kopi itu di atas meja Davin tanpa menunggu perintah.
Setelah itu Rein mundur beberapa langkah ke belakang seraya mengantisipasi reaksi Davin ketika melihat kopi itu. Benar, dia memang sudah membersihkannya tapi Rein tetap saja khawatir Davin menemukan ada yang salah dari kopi tersebut.
"Apa saya boleh pergi sekarang, Pak?"
Davin tidak menjawab. Dia menyandarkan punggung kakunya di atas kursi, menatap malas Rein yang terlihat jauh lebih tenang dari yang dia bayangkan.
"Apa kamu serius memberikan atasanmu kopi ini?"
Rein memicingkan matanya,"Bukankah kopi ini yang Anda minta, Pak?"
Dia masih berusaha tenang.
Davin mengernyitkan alisnya tidak senang.
"Maksud kamu kopi bekas ini?"
Ah, rupanya Davin bisa melihatnya. Rein menyerah tidak tahu apa-apa.
"Maaf Pak, aku tadi tidak sengaja menjatuhkannya saat berada di dalam lift. Aku sempat berpikir meminta kopi lagi tapi aku takut Anda akan lebih marah lagi. Jadi ku putuskan untuk membawa ini saja." Rein menjelaskan dengan santai.
"Oh ya, jadi di matamu aku adalah orang yang mudah marah?"
Rein tahu tidak akan mudah menghadapi Davin.
"Bukankah begitu?"
Davin tertawa masam. Tangan kanan yang bebas menyisir rambut hitam pekat miliknya ke belakang tampak jauh lebih seksi.
"Rein, apa kamu sekarang mencoba mengenang masa lalu denganku?"