
"Bagus, huh. Menyogok anak-anak dengan hadiah. Apa kamu pikir anak-anakku semurah itu?!" Kata Doni murka karena diabaikan oleh mereka berdua.
Doni sangat marah karena anak-anak lebih mendengarkan Adit daripada dirinya hanya karena mereka dijanjikan sebuah hadiah. Padahal Adit adalah orang luar di sini sedangkan dia adalah ayah kandung mereka. Namun hubungan darah mereka begitu mudahnya dipatahkan oleh Adit dengan sebuah janji. Dan dia semakin marah lagi ketika melihat interaksi mesra Anggi dan Adit. Hei, dia masih di sini, masih di depan mereka tapi keberadaannya sama sekali tidak dianggap serius.
Doni mengepalkan tangannya murka. Hatinya bergejolak cemburu. Menurutnya Anggi masih istrinya karena dia menolak untuk bercerai jadi tidak seharusnya Anggi bermain dengan laki-laki lain.
"Anak-anakku tepatnya tidak semiskin kamu." Kata Adit datar dengan ekspresi datar pula di wajahnya.
Gaya bicara Adit terkesan menantang dan meremehkan sehingga membuat Doni tidak bisa menahan diri lagi. Dia menunjuk Adit dengan jari telunjuk tangan kirinya.
"Kamu merasa hebat hanya karena kamu punya banyak uang. Ingat, sampai kapan pun Aldo dan Aldi adalah anak-anak ku. Mereka tidak akan pernah mengakui kamu sebagai papanya karena aku adalah ayah kandung mereka!"
Adit mendengus dingin, dia merasa bila gaya bicara Doni terkesan kekanak-kanakan dan cukup menggelitik akal sehatnya.
"Bahkan meskipun kamu menolaknya, Aldo dan Aldi akan tetap menjadi anakku. Dia telah resmi menjadi anak-anak ku semenjak Anggi menjadi calon istriku. Adapun kamu...haha, kamu memang ayah kandungnya. Tapi apa yang telah kamu lakukan kepada mereka? Kamu meninggalkan mereka dengan selingkuhan kamu. Melarikan diri dengan uang hasil menjual istrimu ke laki-laki lain, hei, apa kepala mu sehat? Setelah apa yang kamu telah lakukan kamu sangat berani datang ke sini dan ingin memperbaiki semuanya lagi? Sungguh, aku tidak pernah melihat manusia yang lebih sakit dari kamu." Cecar Adit dengan senyuman dingin di bibirnya.
Gayanya sangat mencolok dan terkesan arogan. Di depan Doni, dia sama sekali tidak menahan diri dan berperilaku ektrem seperti menghadapi musuh bebuyutan yang telah mendarah daging di dalam hatinya.
"Kamu...kamu!" Doni tidak bisa berkata-kata ataupun membantah apa yang Adit katakan.
Apalagi saat melihat mata penghindaran Anggi di seberang sana, tentunya Anggi tidak akan sudi untuk bertemu dengannya apalagi sampai bertatapan dengannya. Daripada melihatnya, Anggi lebih rela melihat ke arah Adit. Memanjakan setiap otot-otot penglihatannya untuk melihat Adit yang tampan dan memiliki pesona heroik malam ini.
"Anggi...aku ingin berbicara dengan mu." Kata Doni mengalihkan fokusnya kepada Anggi.
Nada suaranya memohon namun Anggi sama sekali tidak bersimpati ataupun merespon permohonannya.
Doni mengepalkan tangannya patah hati,"Apa semua yang kita lewati di masa lalu tidak ada artinya di matamu?"
Anggi tersenyum lembut, menidurkan kepalanya di pundak nyaman Adit untuk mencari kenyamanan.
"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, apa semua yang kita lewati dulu tidak ada artinya di depan uang? Mas Doni, jangan mengungkit masa lalu denganku. Kau tahu, hatiku sudah lama merasa muak kepadamu. Aku sungguh tidak ingin mengatakannya tapi karena kamu terus mengganggu hidupku maka aku tidak akan ragu mengatakannya, mas Doni...jangan ganggu hidupku lagi. Ketahuilah, di mataku kamu terlihat sangat menjijikkan. Aku sungguh tidak ingin melihat kamu lagi atau bahkan sampai bertemu denganmu. Jangan mengungkit masa lalu karena itu akan semakin membuat ku bertambah. Muak sampai aku bertanya-tanya mengapa aku mau mengorbankan hidupku untuk tinggal bersama laki-laki seperti dirimu. Dan jangan mengungkit masalah anak-anak. Ketahuilah, mereka jauh lebih bahagia tanpa kamu. Mereka selama ini hidup dengan baik dan nyaman di sini. Mereka sama sekali tidak merasa kesepian karena ada sosok Papa yang akan selalu mengisi kekosongan hati mereka." Kata Anggi mengeluarkan unek-unek isi hatinya.
Luka yang dirasakan atas pengkhianatan di masa lalu mungkin belum sembuh total walaupun Anggi sudah mengikhlaskan nya karena memiliki Adit sebagai harapan masa depannya. Namun tetap saja, hatinya pasti akan sakit setiap kali mengingat atau mendengar orang lain membicarakannya. Rasanya ingin sekali dia menghapus jejak masa lalu ini agar dia bisa percaya diri lagi menghadapi masa lalu.
Sungguh, dia berharap semuanya bisa menghilang- tapi dia tidak bisa melakukannya karena awal pertemuannya dengan Adit dimulai dari tragedi menyesakkan ini.
"Anggi...aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu-"
"Kamu sudah datang, nak?" Suara lembut Ibu memotong ucapan Doni.
Mereka bertiga kompak melihat ke arah pintu masuk. Di depan pintu Ibu, Ayah, Paman, dan Bibi berdiri sambil memperhatikan mereka bertiga.
Raut Ibu terlihat sangat tidak ramah ketika melihat ke Doni. Dia tidak senang dan tak ingin menyapa Doni karena dia masih mengingat betapa buruk putrinya diperlakukan oleh laki-laki jahat ini. Ibu masih marah karena Anggi ditinggalkan selingkuh dan parahnya lagi, Doni pergi bersama selingkuhannya.
Itu adalah kejadian yang tidak mengenakkan. Dia sebenarnya trauma kepada laki-laki ini. Tapi untunglah sekarang Adit selalu ada bersama putrinya. Tidak hanya menerima putrinya tapi juga menerima anak-anak dengan baik. Betapa senangnya Ibu melihat mereka berdua datang bersama.
"Selamat malam, semuanya. Maaf kedatangan ku mengganggu istirahat kalian semua." Sapa Adit langsung berubah menjadi mood hangat dan penurut.
Ibu langsung tertawa keras. Dia berjalan mendekati Adit dan tanpa sungkan menepuk pundaknya.
"Nak, ibu sangat merindukan kamu! Ibu pikir kamu tidak akan mengunjungi kami lagi!" Keluh Ibu kepada Adit.
Dia tahu Adit adalah orang besar tapi dia tidak tahu betapa sibuknya Adit dalam kehidupan sehari-harinya. Melihatnya tidak kunjung datang membuat Ibu bertanya-tanya apakah Adit sudah bosan berkunjung ke rumah mereka?
"Ibu," Adit mencium tangan ibu lembut sarat akan rasa hormat.
Dia sangat menghormati wanita cantik ini yang telah berjasa besar melahirkan perempuan hebat yang telah resmi menghuni hatinya.
"Maaf karena baru mampir sekarang. Aku sangat sibuk di perusahaan dan baru bisa keluar sekarang." Kata Adit masih dengan senyumnya yang hangat dan ramah.
Anggi ikut berkata,"Iya, Bu. Mas Adit sangat sibuk di perusahaan sampai-sampai harus menginap di sana karena banyak pekerjaan. Aku dan mas Adit juga baru bertemu hari ini setelah 3 mingguan tidak pernah bertemu." Kata Anggi membantu Adit.