My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
235. 7



"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya untuk pergi bersamaku?" Suara Dimas dingin.


Ail mengecilkan lehernya malu bercampur takut,"Aku minta maaf, Paman..." Bisik Ail tidak melakukan pembelaan apapun.


Memang pada dasarnya dia adalah orang yang bersalah di sini.


Dimas mendengus dingin. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan mempercepat langkahnya untuk segera pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah Dimas langsung mengernyit melihat mobil mewah yang terparkir asing di pekarangan rumahnya. Mobil mewah ini asing dan belum pernah Dimas lihat sebelumnya. Seingat Dimas, tidak ada satupun orang di desa ini yang memiliki mobil semewah ini jadi kemungkinan besar mobil mewah ini berasal dari kota.


Lihat saja reaksi orang-orang di desa. Mereka datang berkerumun di sekitar pekarangan rumah Dimas hanya untuk menonton mobil mewah ini. Reaksi mereka sangat norak, tampak seperti sedang menonton topeng monyet di jalanan.


"Dimas, Dimas! Akhirnya kamu pulang juga. Cepatlah masuk. Ada teman dari kota yang mencari mu." Kata seorang tetangga sambil menyeret Dimas pergi.


"Teman?" Setahu Dimas dia telah menghilangkan kontaknya dari teman-teman di kota.


Sudah bertahun-tahun berlalu dan seharusnya teman-temannya yang ada di kota tidak bisa menghubungi ataupun mencari tahu keberadaannya. Sebab dia tinggal di sebuah desa pinggiran.


"Astaga, ada apa dengan kalian berdua?! Bagaimana bisa kalian pulang dengan keadaan kotor seperti ini?" Tetangga itu baru menyadari bila Dimas pulang hanya dengan kaos tipis berlumpur saja.


Dan keadaannya ini tidak jauh berbeda dengan Ail.


Dimas tidak malu sama sekali dengan penampilannya sekarang,"Ada kecelakaan di sawah tadi." Katanya singkat.


Setelah berbicara singkat dengan tetangga itu, Dimas lalu membawa Ail masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang karena tidak nyaman melihat tamu dengan penampilan seperti ini.


"Mandilah di kamar mandi kamar ku dulu. Nanti aku bisa mandi di kamar mandi belakang." Kata Dimas lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan.


Ail tidak bisa menolak dan dengan patuh masuk ke dalam kamar Dimas. Tapi setelah mengambil beberapa langkah ke dalam, Ail berbalik lagi ke luar dan bertemu dengan tatapan pengawasan Dimas. Malu, Ail langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung ke wajah dingin Dimas.


"Ada apa lagi?" Tanya Dimas agak jutek.


Ail mengepalkan tangannya gugup.


"Paman, aku ingin mengambil pakaian ku di kamar." Percuma saja dia mandi jika dia tidak membawa pakaiannya.


Dimas menunjuk lemari pakaiannya di samping ranjang.


"Di lemari nomor dua, ada kantong kresek putih di dalamnya. Kemarin Ibu membelikan kamu pakaian tapi tidak sempat memberikannya kepadamu." Kata Dimas masih dengan suara yang agak jutek.


"Oh.." Lalu bagaimana dengan pakaian dalamnya?


"Pakaian dalammu juga ada di sana." Kata Dimas singkat,"Mandilah."


Ail sangat malu. Dia buru-buru masuk ke dalam lagi, membuka lemari nomor dua dan menemukan kresek putih di sana. Tanpa perlu mengecek isinya Ail langsung masuk ke dalam kamar mandi Dimas.


Dimas menghela nafas panjang. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tapi hanya sesaat karena setelah itu kembali membentuk garis datar. Setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, barulah Dimas pergi ke kamar mandi belakang untuk membersihkan dirinya.


...🌪️🌪️🌪️...


Roni dan Fani melihat keramaian di rumah Dimas, mau tidak mau mereka tertarik bercampur dan langsung terkesan ketika melihat mobil mewah di pekarangan Dimas. Fani sangat senang dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia tanpa sadar ingin mengikuti Dimas ke belakang rumah, tapi untung saja salah temannya menghentikan pikiran gilanya. Jika tidak, betapa malunya dia bila ditolak oleh Dimas masuk ke dalam rumah.


"Fani, apa kamu gila?! Mas Dimas mau mandi dan kamu ingin mengikutinya?!" Kata Tina dengan nada masam sambil menyeret temannya menjauh.


Tina sangat cemburu melihat Fani bisa dekat dengan Dimas sedangkan dia tidak bisa. Huh, bukannya dia tidak bisa tapi lebih tepatnya dia tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi seperti yang Fani miliki. Alasannya sudah sangat jelas. Fani adalah kembang desa dan memiliki paras yang sangat cantik, di samping itu dia juga anak juragan beras di desa ini sehingga dia memiliki kualifikasi yang sangat tinggi untuk bersanding dengan Dimas, laki-laki tampan yang telah menghabiskan banyak waktunya di kota.


"Aku gak tahu. Aku gak kepikiran ke sana." Kata Fani sambil memutar bola matanya.


"Eh, ngomong-ngomong mobil siapa ini? Kenapa bisa parkir di depan rumah Mas Dimas?" Kepala Fani kini sudah dipenuhi oleh mobil mewah ini.


Mobil mewah ini tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Bahkan orang-orang kaya di kota pun tidak semuanya memiliki mobil ini karena harganya sangat mahal! Tapi terlihat sangat keren!


"Aku gak tau. Pemilik mobil ini adalah dua laki-laki yang sangat tampan. Aku pikir Mas Dimas bisa bersaing dengan mereka berdua." Kata Tina dengan senyuman di bibirnya.


Dia tidak bisa menghilangkan betapa tampannya kedua laki-laki itu dari benaknya. Terutama laki-laki tinggi dan berwajah dingin yang memiliki sikap dominan kepada laki-laki satunya itu. Tina pikir laki-laki itu pasti sangat kaya dan berasal dari keluarga yang terhormat. Hem, jika dia bisa menikah dengan laki-laki itu, maka bisa dibayangkan betapa cemburunya orang-orang desa.


"Mereka juga sangat tampan?" Fani tiba-tiba merasa sangat bangga calon suaminya mengenal orang-orang ini.


"Yah, kata orang mereka adalah teman mas Dimas yang berasal dari kota." Kata Tina penuh minat.


"Nah, sudah ku duga kan. Hidup mas Dimas di kota pasti tidak biasa dan tidak menutup kemungkinan dia menghasilkan banyak uang di sana." Kata Fani kian membanggakan calon suaminya di depan Tina.


Tina memutar bola matanya cemburu. Dia tidak rela melihat Dimas bersanding dengan Fani tapi dia sungguh tidak berdaya karena dengar-dengar dari para tetangga, Ibu Dimas telah merestui Fani sebagai calon menantunya.


"Yah, siapa yang tahu. Kalau Mas Dimas memang punya banyak uang, lalu kenapa dia kembali ke desa dan tidak membeli mobil atau rumah baru?" Tina meremehkannya tapi jauh dari dalam hatinya dia juga memiliki pemikiran bahwa Dimas memiliki banyak uang di tangannya.


"Apa yang kamu tahu? Mas Dimas pulang ke desa karena permintaan kedua orang tuanya. Jika orang tuanya tidak meminta maka mas Dimas pasti lebih suka hidup di kota. Dan kamu seharusnya tidak boleh lupa dengan rumor yang beredar beberapa tahun yang lalu tentang seberapa banyak uang yang dimiliki mas Dimas. Orang yang pernah melihatnya di kota pernah bilang jika mas Dimas bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat tinggi. Jadi mana mungkin dia tidak punya uang? Hah, lihat saja temannya yang datang hari ini. Bukankah mereka sangat kaya?" Bela Fani tidak senang calon suaminya diremehkan.