
"Davin, jangan bawa-bawa Revan ke dalam masalah ini." Peringat Kakek Demian.
Davin tersenyum,"Kenapa? Aku adalah calon kepala keluarga ini jadi aku tidak bisa mengangkat masalah keluarga yang akan aku pimpin? Di samping itu, wajah keluarga ini sudah menjadi bahan tertawaan banyak orang karena Paman kecil dan ditambah sekarang, apa kita masih memiliki wajah untuk bertemu dengan keluarga yang lain?"
Kakek Demian menghela nafas panjang. Dia sudah mengetahui masalah apa yang disebabkan oleh putranya yang paling payah itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan?
Putranya terlalu tidak berguna dan memuakkan.
"Baiklah, masalah itu akan ku tangani nanti dengan benar. Sekarang kembali ke pembicaraan kita sebelumnya. Kamu sudah memutuskan untuk bersama dengan wanita lagi dan telah mempermalukan Anya. Katakanlah dengan jujur, masalah ini apa akan dilepaskan begitu saja oleh keluarganya?"
Davin mendengus dingin,"Apa Kakek pikir aku berada di posisi ini karena kekuasaan yang Kakek jatuhkan ke tanganku?"
Kakek Demian memalingkan wajahnya tidak mau menjawab.
"Kakek harusnya lebih tahu dari siapapun jika posisi ini aku dapatkan dengan jerih payahku sendiri. Untuk posisi ini, sudah berapa lawan kuat untuk aku tumbangkan? Jelas keluarga Anya tidak ada apa-apanya. Jika mereka memang ingin membuat masalah kepadaku maka aku akan menyambutnya dengan senang hati. Toh, pada akhirnya yang akan memenangkan pertempuran pada akhirnya hanyalah aku. Bukankah begitu?"
Apa yang Davin katakan benar dan Kakek Demian tidak memberikan bantahan. Keluarga Anya memang bukan lawan yang berat jadi masalah ini tidak terlalu darurat. Tapi bagaimana jika keluarga Anya...
"Posisimu sangat krusial sekarang. Apalagi kamu akan segera menikah dan sudah memiliki putra. Dengan situasi mu ini, posisi kamu benar-benar tidak aman." Kata Kakek Demian mulai melembutkan suaranya.
Dia sudah tua, bukan tugasnya lagi memikirkan uang ataupun kekuasaan. Dia hanya perlu menikmati hari-hari tuanya di sini. Namun dia tidak bisa menutup mata terhadap bahaya yang mengincar cucu terbaiknya hanya karena masalah yang dia buat sendiri.
"Katakanlah lebih jelas, Kek." Davin menuntut Kakek untuk bicara.
Bukannya dia tidak tahu apa maksud Kakek, tapi Davin lebih suka Kakek sendiri yang mengakuinya.
"Hah..." Kakek menghela nafas panjang.
"Semua orang di rumah kini menatapmu. Kamu adalah mangsa serigala bermata putih, mengenyahkan mu dan keluarga kecilmu adalah rencana yang sudah pasti akan mereka lakukan. Sebagai tetua aku hanya bisa mengingatkan untuk berhati-hati kepada mereka. Takutnya keluarga Anya memanfaatkan kesempatan ini untuk bekerja sama dengan orang-orang rumah, mengenyahkan kamu atau mencelakai keluarga kecilmu."
Davin juga tahu posisinya saat ini sangat genting. Dia harus melindungi dirinya dan keluarga kecilnya sampai dia benar-benar menikahi Rein secara sah. Karena dengan begitu dia akan secara resmi menduduki kepala keluarga Demian menggantikan posisi Kakek Demian.
"Dulu, saat kedua orang tuaku belum mengalami kecelakaan, apakah Kakek juga sempat mengingatkan mereka tentang bahaya yang sedang mengincar mereka?" Kedua tangan Davin mengepal karena rasa sakit dihatinya.
Kakek terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Namun, meskipun begitu Davin tahu jawabannya.
Davin mengambil nafas panjang, tersenyum malas, dia lalu berkata,"Maka lindungilah keluarga kecilku sebagai permohonan maaf mu kepadaku, Tuan Demian."
Setelah mengatakan itu dia membalik badannya membelakangi wajah tua Kakek Demian. Kaki jenjangnya lalu mengambil langkah mantap tanpa niat untuk menoleh sedikitpun.
"Davin, kejadian itu-"
Davin segera memotongnya,"Kau tahu aku masih belum memaafkan siapapun yang terlibat dalam kematian kedua orang tuaku. Dan jika orang yang sama berulah ingin menyentuh keluarga kecilku, maka tolong jangan salahkan aku tuan Demian jika keluarga 'harmonis' mu mendapatkan sedikit masalah."
Cklack
Davin keluar, meninggalkan Kakek Demian yang masih berdiri di tempat yang sama, terjebak sepi dalam guratan masa lalu.
"Masa lalu...andai saja bisa terulang kembali..." Bisiknya lemah.
...🌪️🌪️🌪️...
Davin pasti mendapatkan masalah di dalam sana karena dirinya. Kalau tidak, mengapa dia Kakek Demian mengirimkan sebuah tamparan ke wajah Davin?
Davin mengambil tangan Rein dan mengecupnya sayang. Sikap dingin dan ekspresi dinginnya telah lama digantikan oleh kehangatan semenjak dia keluar dari ruangan itu.
"Bukan masalah besar." Katanya lembut.
Rein menggigit bibirnya sakit hati.
"Bohong! Kamu pasti dimarahi oleh Kakek karena aku, kan?" Rein tidak mempercayainya.
Apalagi ada jejak cap lima jari di wajah tampan kekasihnya, jadi bagaimana mungkin Rein percaya tidak ada masalah yang terjadi di dalam sana?
"Aku tidak berbohong, sungguh tidak terjadi apa-apa di dalam sana. Dan tamparan ini, Kakek memberikannya kepadaku sebagai balasan karena aku telah merusak hubungan pertemanan Kakek dengan Kakeknya Anya." Davin berkata jujur tapi Rein masih sulit mempercayainya.
Rein sedih. Kedua matanya memerah ingin menangis. Dia berusaha untuk tidak menangis tapi sakit hatinya benar-benar tidak terbendung dan pada akhirnya air mata itu tumpah tanpa bisa ditahan.
"Jangan menangis.." Davin ingin menjangkau wajah Rein tapi segera ditepis.
"Aku bilang...aku bilang mau bersama kamu... asalkan kamu harus jujur kepadaku. Jika ada masalah.... Aku ingin kamu jujur dan jangan memendamnya sendirian. Kalau tidak...aku tidak mau me-"
"Rein, dengar." Potong Davin tidak mau mendengar ucapan Rein selanjutnya.
Rein dipegang tapi dia tidak mau mengangkat wajahnya yang basah menatap Davin.
"Aku sungguh tidak berbohong." Kata Davin serius. "Kakek menamparku karena aku telah mengacaukan hubungan pertemanannya dengan keluarga Anya. Selebihnya, semua baik-baik saja. Kakek tidak memarahi ku ataupun menyalahkan ku. Dia hanya mengatakan aku harus bekerja keras menjadi pemimpin keluarga Demian setelah aku resmi menikahi mu nanti." Ucap Davin setengah benar dan sisanya berbohong.
Rein masih menangis dan enggan menatap wajah Davin.
"Percayalah Rein, semua yang aku katakan ini benar. Jika kamu tidak percaya maka tanyakan saja semua ini kepada Kakekku." Rein tidak akan berani melakukannya.
"Kamu gila?!" Tanya Rein cemberut.
Davin tersenyum lebar,"Maka percayalah kepadaku karena apa yang aku katakan benar adanya."
"Jika kamu ketahuan berbohong?"
Davin memutar kepalanya dengan cepat,"Aku akan tidur di lantai."
Rein sudah berhenti menangis,"Lantai di ruang tamu?"
Davin dengan senyuman lebarnya yang tidak luntur menjawab,"Lantai kamar kita."
Rein yang hampir tersedak air liurnya sendiri,"...." Seharusnya dia tahu Davin tidak akan mau merugikan diri sendiri.
"Enyah!" Kesal Rein enggan melanjutkan pembicaraan dengan kekasihnya.
Akan tetapi, diam-diam dia menyembunyikan senyumnya dari Davin. Kekasihnya ini, seringkali membuatnya jengkel tapi pada saat yang sama Rein gemas dibuatnya.