My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
28. Sulit Diungkapkan



Rein tidak ingin berpikir negatif tapi pengalamannya bertahun-tahun yang lalu membuktikan bahwa perasaan tulusnya ternyata hanya senilai nominal uang dan dianggap sebagai pelayanan 'ranjang' yang tidak memuaskan.


"Ini gak mahal, kok. Aku belinya dengan harga teman karena kebetulan aku punya teman yang kerja di sana." Revan membuat alasan.


Rein tetap tidak bisa menerimanya.


"Aku gak bisa, aku gak suka coklat." Ini adalah sebuah kebohongan.


Revan langsung memutar kepalanya.


"Kalau kamu gak mau kasih Tio aja. Aku dengar kamu tinggal sama Tio di kota ini-"


Rein terlanjur panik.


"Kamu tahu Tio darimana?"


Revan melihat jika Rein tidak terlalu suka dengan topik pembicaraan yang dia buat. Terutama ketika dia menyebut nama Tio tadi, wajah Rein langsung berubah dingin.


"Aku tahu dari Mbak Anggi, kenapa? Gak boleh, ya?" Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rein agak lega.


"Gak, gak apa-apa."


Dia menghela nafas panjang. Davin sekarang sudah ada di sini jadi dia harus memikirkan cara untuk menyembunyikan Tio dari siapapun terutama dari Devan. Tidak ada yang boleh mengetahui keberadaan Tio karena satu-satunya alasan dia terus berdiri adalah karena Tio, buah hatinya.


"Aku..aku harus pergi dulu, coklatnya lebih baik kamu kasih ke yang lain aja. Dah, Rev."


Rein mengambil peralatan bersih-bersihnya tadi untuk dibawa pergi entah kemana.


Seiring punggung kurus Rein perlahan menghilang dari pandangannya, senyuman lembut di wajah Revan juga ikut menghilang. Dia menatap jejak terakhir Rein, lalu beralih pada kantong plastik putih yang ada di tangannya.


"Cih,"


Kantong plastik putih itu segera melayang masuk ke dalam bak sampah.


"Rein Xia, hem.. rupanya kamu tidak mudah." Bisik Revan semakin tertarik mendekati Rein.


Membayangkan wajah indah itu berbaring pasrah di bawahnya, semangat Revan untuk menaklukkan Rein semakin membesar.


Rein memang tidak sebohai wanita diluar sana, dia juga tidak secentil wanita diluar sana yang butuh dimanjakan, dan Rein adalah orang yang tidak suka banyak bicara. Justru karena itulah daya tarik Rein untuk Revan. Ekspresi kesal, marah, cemberut sudah sering Revan perhatikan tapi tidak dengan wajah berlinang air mata yang Revan angan-angankan terjadi di bawah dominasinya di atas ranjang. Revan sudah cukup bersabar untuk momen langka itu.


...🌼🌼🌼...


"Dimas, gue mau ngomong sama lo." Rein langsung menarik Dimas ke ruang tamu untuk berbicara.


"Lo udah tahu?" Tanya Dimas langsung.


Langkah Rein berhenti. Dia berbalik menatap Dimas dengan tenang.


"Jadi semalam lo gak mabuk? Dan mengenai permintaan lo agar gue berhenti itu emang karena Davin'kan?"


Dimas tidak mengelak.


"Ogah." Potong Rein amit-amit.


"Dim, gue bukan Rein yang dulu jadi lo gak perlu khawatir." Ucap Rein sebelum masuk ke dalam kamar, meninggalkan Dimas yang masih belum bergeming.


Beberapa menit kemudian dia tersenyum kecil,"Gue tahu lo bohongin gue."


Dimas sudah sangat mengenal sahabatnya itu. Dia tidak mungkin sekuat yang terlihat, karena faktanya dia rapuh, sangat rapuh.


"Rein, alasan sebenarnya lo nolak nikah sama gue karena lo masih cinta sama Davin'kan? Lo masih belum bisa ngelepasin Davin walaupun lo pernah disakiti sama dia sebelumnya, iya'kan, Rein?" Dimas tersenyum tipis, dia mengusap wajahnya lelah.


Beberapa detik kemudian matanya kembali jatuh melihat pintu kamar Rein yang sudah tertutup rapat. Menyembunyikan sosok indah nan cantik yang telah menghiasi perjalanan hidupnya di apartemen ini selama 5 tahun.


"Nyatanya semua pengorbanan gue selama 5 tahun ini gak cukup besar ngebuat lo ngeliat hati gue, Rein." Gumamnya tidak berdaya.


"Rein,"


Dimas memanggil dengan suara yang amat sangat lembut, panggilan lembut yang tidak pernah dia lakukan ketika Rein berada di dekatnya.


"Apa kamu akan marah jika suatu hari aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?"


...🌼🌼🌼...


Di lain tempat, laki-laki itu masih enggan bergerak dari kursi kebesarannya. Matanya yang biasa bersinar tajam kini melembut, menampik sosoknya yang tidak biasa.


"Rein Xia, dia sekarang tinggal di gedung apartemen biasa yang tidak terlalu jauh dari perusahaan. Dia punya shift siang sampai sore di sini dan langsung pulang ke rumah jika sudah selesai bekerja. Sebelum pergi bekerja dia akan membawa seorang anak laki-laki bernama Tio yang kini berusia 4 tahun ke sebuah sekolah kanak-kanak," Sampai di sini dia berhenti melihat layar komputer.


Alis pedangnya berkerut tampak terganggu,"Seorang anak laki-laki berumur 4 tahun.."


Pikirannya melayang pada hari dimana Rein melemparkannya sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal tapi anehnya juga dia nantikan.


"Apa karena kamu ingin keturunan?" Jika ini masalahnya maka Rein bisa memberikan Davin.


Dia saat ini sedang mengandung anak mereka berdua, sudah dua bulan.


Davin tidak mengelak.


"Tentu saja."


Ada harapan.


"Bagaimana jika aku bisa hamil?" Tanya Rein sedikit berharap.


"Bagaimana jika kamu hamil?" Dengan suara rendah, Davin mengulangi pertanyaannya ini kepada Rein yang jauh di sana.


"Rein, apa hubungan mu dengan anak laki-laki ini?"


Dia melepaskan kacamata kerja di wajahnya, menyentuh keningnya yang mulai berdenyut pusing karena lelah bekerja seharian.


"Jika kamu bisa hamil maka mungkinkah anak itu adalah milikku?"


Bersambung..