
"Papa, ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa dan semua orang. Jadi tolong jangan pergi sampai pembicaraan kita semua diselesaikan."
Gerakan Kakek Demian berhenti. Tanpa banyak ekspresi, dia membawa mata tuanya menatap wajah serius Revan, putranya yang dia vonis sendiri sebagai orang yang tidak berguna. Kini putranya yang payah dan tidak berguna berusaha memanjat ke tempat yang sangat tinggi tanpa perlu menggunakan anak tangga.
"Pa, ini sangat penting." Revan melihat Kakek Demian melihat ke arahnya.
Dia tidak bisa membaca apa yang sedang Kakek Demian pikirkan sekarang karena Kakek Demian sendiri tidak memiliki ekspresi mencolok di wajahnya. Tapi Revan tidak perlu ragu-ragu dengan sikap Kakek Demian apalagi untuk urusan kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya. Bahkan bila Kakek Demian marah, itu hanyalah sebuah kemarahan kecil. Kakek Demian tidak pernah menepati kata-kata ancamannya.
"Sayang, ayo dengarkan putra kita sekali saja." Bujuk Nenek membantu rencana Revan.
Kakek Demian melihat putra terakhirnya dengan ekspresi wajah yang sama sebelum menyapu pandangannya melewati Davin, pewarisnya yang dikatakan 'cacat'.
Berbeda dengan putranya yang sok serius, Davin malah terlihat sangat menikmati pertunjukan yang Revan ciptakan. Dia sangat tenang duduk di atas kursi roda, kepala menunduk seolah tidak mendengarkan apa-apa, tapi faktanya saat ini dia sedang tersenyum tipis tidak pada tempatnya.
Menghela nafas berat, Kakek Demian pada akhirnya mengalah. Lagipula bukan dia juga yang meminta namun mereka lah yang meminta.
"Baiklah, ayo bicara diruang tengah." Perintah Kakek Demian dengan suara berat nya yang tidak biasa.
Dengan dirinya yang memimpin, semua orang termasuk Davin dan Rein pergi menuju ruang tengah yang lebih cocok disebut sebagai aula. Pasalnya ruang tengah sangat besar dan luas, Rein ingat jika tempat ini sebelumnya dijadikan sebagai tempat perjamuan para tamu penting.
"Apa kamu takut?" Bisik Davin bersuara rendah.
Rein menundukkan kepalanya, tersenyum lembut, dia balas berbisik di telinga kekasihnya."Kamu ada di sisiku sekarang, jadi mengapa aku harus takut?"
Davin puas. Dia menyentuh puncak kepala Rein sebagai tanda pujian untuk kekasihnya. Sadar atau tidak sadar, sedari tadi interaksi manis mereka telah diperhatikan oleh seseorang. Orang itu menatap Davin dengan tatapan mencela sebelum beralih menatap wajah cantik Rein yang mempesona. Ketertarikannya untuk menyentuh Rein semakin menjadi-jadi di dalam hatinya. Tidak berhenti di Rein saja, dia juga melirik wanita yang ada di samping Rein. Anggi dengan gaun malam hitamnya yang anggun berjalan santai tepat di samping Rein. Entah apa yang Anggi pikirkan saat ini, tapi yang pasti dia tidak memiliki rasa takut yang dia rasakan satu setengah tahun yang lalu.
Perubahan ini sungguh aneh unik orang itu sendiri karena seingatnya Anggi sangat gemetaran ketika bertemu dengannya di toilet seat itu.
"Apa yang kamu lihat? Hati-hati, jaga mata dan sikap kamu!" Peringat Nenek sambil menyodok lengan Revan dengan sikunya yang tajam.
Revan segera menarik perhatiannya dari mereka berdua. Dia lalu melemparkan sebuah senyuman menyanjung untuk Nenek agar jangan marah.
"Ma, aku tidak akan membuat masalah apa-apa. Aku janji." Kata Revan menenangkan Nenek.
Berselang beberapa menit kemudian suara Kakek Demian kembali menarik perhatian semua orang. Dia meminta semua orang duduk di sofa sementara dia sendiri duduk di kursi kebesarannya yang megah. Duduk bersantai di atas sofa kebesarannya, Kakek Demian menatap acuh tak acuh beberapa orang yang diam-diam meliriknya dengan pandangan menilai. Begitu keluar dari ruang makan, temperamen Kakek Demian langsung mengalami perubahan. Penampilan Kakek Demian malam ini mengingatkan mereka pada hari-hari dimana Kakek Demian masih sangat berkuasa dan belum terlalu tua.
"Davin, apakah kamu membutuhkan bantuan?" Revan datang menawarkan bantuannya kepada Davin.
"Tidak dibutuhkan. Aku baik-baik saja dengan duduk di kursi roda." Tolak Davin acuh tak acuh.
Bukannya duduk di sofa yang disediakan untuknya tapi Davin malah menarik Rein untuk menggantikan posisinya. Rein awalnya tidak nyaman. Tapi saat melihat tatapan iri, cemburu, juga benci beberapa orang. Rein tiba-tiba menikmati tempat duduknya saat ini.
"Terima kasih." Bisik Rein seraya menggenggam erat tangan Davin.
Davin tersenyum lembut. Membawa tangan Rein ke sisinya dan tidak pernah melepaskannya.
"Ouh, kamu sepertinya sangat nyaman dengan kursi roda mu." Ucap Revan dengan nada mencibir, namun samar.
Davin tidak terlalu memperdulikannya dan bertindak seolah-olah tidak ada Revan di sini.
Revan tersenyum masam melihat perlakuan acuh tak acuh Davin terhadapnya. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah sementara wajahnya menunjukkan senyuman lebar seakan tidak melihat keterasingan Davin terhadapnya.
"Jangan terlalu sombong, setelah malam ini kamu akan tahu bagaimana rasanya dicap sebagai 'sampah' tidak berguna." Bisik Revan dengan suara rendahnya.
Dia sedang memperingati Davin agar jangan membuat ulah dengan tetap bersikap arogan atau keras kepala karena sebentar lagi semua posisinya akan menjadi miliknya. Untuk hasil akhir ini, Revan sangat percaya diri bisa menenangkannya.
Davin tersenyum dingin, tanpa meliriknya dia balas berbisik,"Tempat itu hanya bisa menjadi milikmu dan aku tidak berani merebutnya darimu, gelar sampah ini... bagaimana aku lebih layak mendapatkannya dibandingkan denganmu?" Balas Davin menghina.
Rein yang kebetulan mendengar semua pembicaraan mereka sontak menutup mulutnya untuk menahan tawa. Lidah Davin sangat beracun dan tajam, siapapun pasti akan sakit hati jika mendengarnya karena Rein pernah ada diposisi ini.
Jika tidak sakit hati, mungkin tangan orang yang mendengarnya sudah gatal mengambil sebuah benda dan melemparkannya ke kepala Davin.
"Kamu-" Revan tiba-tiba tidak bisa mengatakan apa-apa saking marahnya.
Davin tersenyum, yang bukan lagi disebut sebagai senyuman. Dia mengangkat kepalanya melihat Revan yang sudah terbakar amarah,"Ada apa, Paman kecil? Wajah Paman kecil sebelumnya tidak semerah ini?" Ejek Davin bersenang-senang.
Volume suara Davin tidak rendah juga tidak tinggi jadi beberapa orang masih bisa mendengarnya dan mengikuti petunjuk Davin. Mereka menatap Revan dengan pandangan ingin tahu sekaligus heran karena wajah Revan sebelum ini tidak merah.
"Revan, duduk di tempatmu dan jangan ganggu keponakanmu dulu. Davin masih belum sehat, dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya." Tegur Nenek dengan halus mempermalukan kondisi Davin.
Revan merasa tertolong. Dia melirik Davin dengan perihatin sebelum berjalan kembali ke tempat duduknya di dekat Nenek.
"Keponakan ku tersayang, cepatlah sembuh dan jalani kehidupan dengan baik." Ucap Revan perhatian- namun jelas sangat palsu dan mudah dibaca.