My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
144. Siapa Yang Kamu Panggil Istri?



"Apa yang kamu lihat?" Suara Davin menarik perhatian ku.


Aku tersenyum tipis, menggelengkan kepalaku tidak mau menjawab. Wanita itu pasti orang yang pemalu dan tidak suka keramaian melihat dari sikapnya yang lebih memilih untuk menyendiri. Dia juga pasti sedang memiliki masalah karena ekspresi sendu di wajahnya terlihat sangat jelas di mataku. Kesedihan terukir sepi itu tidak bisa disembunyikan dari ku karena aku pikir posisinya sama seperti diriku 5 tahun yang lalu.


"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Dia bertanya dengan perhatian yang lembut, tangan besarnya terangkat menyentuh kulit wajahku.


Aku tersenyum malu, faktanya kesedihan sudah lama berlalu dan sekarang kekasihku sudah kembali menjadi milikku. Aku tidak akan melewati jalan yang sama, jalan yang penuh akan rasa sakit dan pedih lagi.


"Kamu melamun lagi." Aku sontak memejamkan kedua mataku begitu merasakan sapuan lembut di mataku.


"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, hem?" Tanyanya khawatir.


Aku tersenyum tipis, menggelengkan kepalaku seraya memegang erat tangan Davin. Walaupun aku sudah lama pergi dari situasi tidak menguntungkan itu tapi tetap saja, waktu-waktu itu masih meninggalkan jejak. Aku tidak mau berpisah dengan Davin lagi, aku tidak mau mendengar orang-orang mengatakan betap menyedihkannya Davin sama seperti tahun-tahun menyakitkan itu.


"Dav, aku kangen kamu." Lirih ku pelan.


Perlahan aku membuka mataku dan berhadapan langsung dengan sorot mata gelapnya yang sangat memukau ku.


"Aku juga kangen kamu." Tangan besarnya kini beralih mengusap kepalaku.


Perhatiannya malam ini jauh lebih lembut dan berani daripada malam-malam yang kami lalui kemarin. Padahal kami saat ini berada di dalam keramaian dan aku yakin sudah banyak pasang mata yang mengarahkan perhatian kepada kami. Tapi aku tidak perduli selama bersama dengan Davin dan Davin pun lebih tidak perduli lagi selama aku tetap bersamanya.


"Mau makan yang manis-manis?" Tawarnya dengan senyuman yang menenangkan.


Aku tersenyum puas, menganggukkan kepalaku dengan semangat tinggi karena lebih menyenangkan berkutat di depan makanan daripada harus mendengarkan orang-orang membicarakan bisnis.


"Hem, mau makan kue." Rengek ku tanpa sadar yang langsung direspon tawa rendah oleh Davin.


Aku sangat malu dan langsung menundukkan kepalaku tidak berani menatap ke arahnya. Tangan kami yang saling bertautan tidak pernah meninggalkan jarak sedikitpun. Rematan halus dari Davin membuatku tidak bisa berhenti tersenyum. Malu rasanya, tapi aku juga bahagia. Perasaan manis yang sudah lama tidak kurasakan. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa suatu hari Tuhan kembali mempertemukan aku kembali dengan Davin, mempersatukan kami setelah melalui hari-hari pesakitan.


"Padahal kamu tidak perlu makan kue karena aku saja sudah sangat manis." Bisiknya narsis.


Aku mendengus pura-pura tidak senang yang sekali lagi mengundang suara tawa renyahnya.


"Humph, dasar narsis!" Tapi aku setuju dengan apa yang dia katakan- eh, tidak sepenuhnya setuju karena Davin manis rasanya untuk hatiku sedangkan kue manis rasanya untuk perutku!


Ini tidak sama'kan?


Davin tidak tertawa lagi setelah memperhatikan ekspresi cemberut wajahku. Dia lalu menarikku pergi dari kumpulan orang-orang itu tapi masih dicegat oleh beberapa orang yang sejujurnya sangat menyebalkan bagiku.


"Tuan Davin, kemana kamu ingin pergi?" Seorang pemuda tinggi berjalan mendekati kami.


Davin tidak tersenyum saat menjawab,"Kekasihku ingin makan kue jadi aku minta maaf harus undur diri dari obrolan. Karena biar bagaimanapun urusan kekasihku jauh lebih penting untuk saat ini. Aku tidak mau malam ini tidur di luar karena terlalu sibuk berbicara dengan kalian."


Dug


Dug


Dug


Aku melihat reaksi pemuda tinggi itu agak shock setelah mendengar jawaban Davin. Tidak hanya pemuda tinggi itu saja tapi orang-orang yang kebetulan mendengar kata-kata Davin juga menunjukkan reaksi yang sama dengan pemuda tinggi itu.


Mereka semua menatap Davin dengan pandangan terkejut sebelum berpaling menatapku dengan ekspresi penilaian. Ugh, sejujurnya ini sangat memalukan ditatap oleh banyak pasang mata dari orang-orang kalangan kelas atas. Di kepala mereka saat ini mungkin muncul sebuah kebingungan karena bagaimana mungkin aku adalah kekasih Davin disaat dia masih memiliki seorang tunangan model.


Mereka kebingungan tapi aku sama sekali tidak perduli karena Davin lah yang mengakui kepada mereka bahwa aku adalah kekasihnya. Dan Davin pula yang tidak keberatan difoto bersamaku oleh ratusan kamera dari berbagai media dan majalah ataupun surat kabar.


Sudah jelas bila semua tindakan Davin menunjukkan bahwa dia ingin mengekspos tentang hubungan kami ke semua orang. Dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa akulah kekasih yang sesungguhnya dan bukan model itu.


Ya Tuhan, Davin terlalu berani tapi sejujurnya aku sangat senang. Karena wanita manapun di dunia ini pasti akan senang bila kekasihnya mau mengakui hubungan mereka dan begitupula dengan diriku.


Aku bahagia- tidak, aku sebenarnya sangat bahagia malam ini.


"Oh tentu, silakan pergi. Kamu bisa menyenangkan kekasihmu terlebih dahulu karena acara juga belum dimulai."


Dengan itu Davin lalu membawaku ke tempat yang telah dipenuhi oleh berbagai macam makanan lezat. Aku pikir ini adalah gudang kue karena tempat ini sangat kaya akan kue-kue cantik dan menggoda. Toko kue yang ada di samping apartemen Dimas malah kalah dengan kue di ruangan ini.


Di sini lebih kaya dan tentu saja lebih berkelas! Aku yakin mereka mengeluarkan banyak uang untuk kue-kue ini. Oh astaga apa yang aku telah pikirkan?


Bangun lah Rein! Kamu saat ini sedang mendatangi pesta perjamuan orang kaya dan bukannya orang biasa! Jadi semua makanan ini bukanlah apa-apa untuk mereka semua.


"Sinar matamu menunjukkan bahwa kamu sangat menyukai semua kue ini."


Aku menoleh menatap Davin yang kini sedang menatapku dengan sebuah seringai lebar. Aku sontak tersenyum dan buru-buru memalingkan wajahku darinya. Dia sudah melihat pikiranku dan aku juga tidak berniat mengelak.


"Kamu harus tahu jika setiap wanita pasti akan berteriak histeris melihat semua kue ini karena wanita adalah pecinta makanan manis dan lezat!" Aku menyanggah untuk menyelamatkan harga diriku.


"Itu bukanlah rahasia umum. Hanya saja aku tidak menyangka bila istriku juga termasuk golongan itu." Dia jelas sedang mengolok-olok ku.


"Siapa yang kamu panggil istri!" Tanyaku pura-pura marah.


Ugh, pipiku sangat panas. Aku mengipas-ngipasi wajahku dengan tangan kanan sambil berharap panasnya segera menghilang walaupun sejujurnya aku tidak merasa ada perubahan sedikitpun!


Bersambung..


Assalamualaikum semuanya. Jadi ada yang nanya Calon Adikku Menjadi Suamiku kapan dilanjutkan dan kenapa gak di NovelToon?, jadi saya jawab di sini aja yah.


Kapan dilanjutkan? jawabannya segera. Saya masih menulisnya karena saya telah melakukan perombakan alur dan mungkin update lagi setelah setengah alurnya saya tulis, in sya Allah.


Publish di NovelToon? ya, in sya Allah saya berencana update di sini tapi segera setelah setengah alurnya saya tulis.


Saya sengaja menunda publish untuk tidak membocorkan alur dan selebihnya saya juga sedang bersiap menyiapkan projek bulan ramadhan. Jadi, khusus novel Calon Adikku Menjadi Suamiku ditunda dulu publish nya sampai waktu yang telah ditentukan.


Readers santai aja karena bila sudah tiba waktunya novel itu pasti sudah ada di sini. Oh ya, sedikit informasi nama tokoh utamanya Rain bukan Rein.


Tapi mungkin karena mirip jadi saya sering salah ketik, tolong dimaafkan 🍃


Sekian, salam hangat, author 🍃