
"Makan dulu. Setelah kamu selesai makan, anak-anak akan aku bawa ke kamar ini dan kamu bisa melihat mereka sepuasnya asalkan jangan sampai membuat kamu kelelahan. Dengar?" Davin tidak ingin mendengar keluhan Rein lagi.
Rein cemberut dan tidak bisa mengatakan apa-apa karena Davin selalu seperti ini bila sudah membuat keputusan, tidak mudah untuk digoyahkan. Apalagi dengan kondisi dirinya yang tidak menjamin, Rein tahu bahwa kekasihnya tidak akan pernah membuat pilihan kedua.
"Dengar, tidak?" Tanya Davin menekan.
Mulut Rein mengkerut, enggan, dia masih mengalah di bawah tekanan suaminya.
"Dengar, Mas." Kata Rein patuh.
Davin melihat wajah cemberut istrinya yang menggemaskan. Menghela nafas panjang, dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia bersyukur karena masih bisa bertahan menghadapi Rein. Padahal Rein adalah kelemahannya dalam hidup ini.
"Patuhlah, ini demi kebaikan mu sendiri."
Setelah itu Davin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan sebaskom air hangat. Dia dengan gerakan telan mengambil kain lembut, membasahinya dengan air hangat, setelah basah Davin mulai mengelap tubuh istrinya dengan hati-hati.
Jika dilihat dari gerakannya yang berhati-hati Rein menebak bila Davin lah yang bertugas mengelap tubuhnya selama pingsan. Ini tidak mengherankan karena Davin sendiri orang yang sangat posesif.
Rein menatap suaminya termenung. Jujur, ada perasaan hangat yang berpendar di dalam hatinya. Dia tidak bisa melupakan tahun-tahun kesepian itu dimana dia melakukan semuanya sendiri setelah selesai operasi. Dimas tidak diizinkan membantu karena dia adalah seorang laki-laki lajang meskipun mereka bersahabat. Bukankah sahabat juga ada batasnya?
Dia sakit tapi tidak bisa memberitahu siapapun dan tidak bisa meminta siapapun. Karena kondisi ini dia melakukan segala sesuatu sendirian dan Rein mengakui bila sendiri itu sangat menyakitkan apalagi sedang sakit, Rein tidak menyukai.
"Mas Davin?"
"Hem?" Davin sibuk mengelap.
"Terima kasih."
"Untuk apa?" Davin tersenyum.
"Semuanya."
Rein mungkin menebaknya.
"Mas Davin mau imbalan apa?"
Davin menghentikan gerakan menyekanya. Menegakkan punggungnya, dia menatap Rein lurus langsung ke dalam bola matanya yang jernih dan indah.
"Jangan pergi. Temani aku seumur hidupmu. Entah di dunia ini atau di dunia sesungguhnya nanti, aku ingin kamu selalu bersamaku." Ada kilatan cahaya posesif di dalam mata suaminya.
Mungkin ini agak mengerikan untuk beberapa orang tapi untuk Rein sendiri, ini adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan kepadanya. Karena Rein tahu untuk mencapai kadar posesif ini cinta Davin pasti sangat dalam di hatinya sampai-sampai memperlakukan Rein sebagai dunianya.
"Diterima." Rein menjawab.
"Selama Tuhan merestui hubungan kita hingga ke dunia yang sesungguhnya, aku akan selalu berada di sisi Mas Davin, selamanya."
Davin sangat puas. Sebuah senyuman lebar kembali terbentuk di wajah tampannya.
"Maka kamu tidak diizinkan untuk melanggarnya." Peringat Davin serius.
Rein menganggukkan kepalanya secara alami. Davin adalah dunianya jadi bagaimana bisa dia melanggar janji ini?
Aneh, dia bukan wanita bodoh.
Mereka berbicara sebentar, lalu lanjut makan siang. Karena Rein sangat ingin bertemu dengan anak-anak, dia mempercepat makan siangnya sampai hampir tersedak.
Davin tidak senang dan mengomelinya tapi Rein tidak hanya membawanya masuk ke telinga kiri lalu mengeluarkannya dari telinga kanan.
Tidak sampai 10 menit Rein sudah menyelesaikan buburnya. Minum obat dan mengelap mulutnya dengan tissue kering, Rein sudah tidak bisa menunda lagi.