My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
25. (25)



Pukul 10 siang keluarga 4 orang itu datang berkunjung ke rumah Anggi. Mereka berhenti di depan rumah Anggi dari taksi yang mereka pesan secara online. Turun dari mobil, Ibu dan Tina menenteng dua kantong plastik putih yang berisi buah apel, buah salak, buah jeruk, dan buah anggur merah yang dibeli di toko buah pinggir jalan. Kali ini mereka benar-benar menunjukkan ketulusan mereka sebagai keluarga dan berbarap kedua orang tua Anggi tidak sekeras Anggi.


"Ini yang kedua kalinya kita datang ke sini. Setiap kali datang aku selalu di buat terkejut oleh rumah ini." Kagum Tina tak bisa mengalihkan matanya dari rumah Anggi.


Tidak hanya Tina, tapi yang lain juga tidak bisa menahan kekaguman di dalam hati mereka melihat rumah baru Anggi. Berbeda dengan pemandangan pada malam hari, rumah ini terlihat jauh lebih luar biasa saat siang hari karena segala sesuatu dan sudut-sudut rumah ini bisa dilihat dengan jelas.


"Kita datang saat itu waktu malam hari jadi kita tidak bisa melihat sisi luar biasanya." Kata Ayah menjelaskan kepada keluarga kecilnya.


Ayah kagum dengan rumah ini dan lebih kagum lagi dengan kinerja Anggi hingga bisa membeli rumah mewah ini. Dipastikan gaji Anggi pasti sangat besar sampai-sampai bisa membeli rumah mewah di pusat kota. Pasalnya rumah-rumah atau tanah yang ada di kota memiliki harga yang sangat mahal, hampir 10 kali lipat dibandingkan tempat mereka.


Memikirkan hasil ini Ayah mau tidak mau merasa cemburu kepada Kakaknya. Sebab mereka hanya memiliki Anggi tapi kinerja Anggi sangat luar biasa. Mereka tidak lagi hidup di tempat kumuh, punya banyak uang, bebas jalan-jalan ke mall dan memiliki rumah yang sangat nyaman juga bagus untuk beristirahat. Mereka hanya perlu melewatinya dengan bersantai karena segala sesuatu sudah disiapkan oleh Anggi. Mereka tidak akan kelelahan lagi. Hah, anak mereka sangat luar biasa. Memikirkan betapa luar biasanya Anggi, Ayah diam-diam melirik anak-anaknya. Usia mereka terpaut 2 atau 3 tahun dari Anggi tapi sampai dengan saat ini mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk mau bekerja ke luar seperti Anggi. Sekarang Anggi sudah memiliki pekerjaan tetap, gaji yang sangat besar, dan rumah yang mewah, karirnya telah berjalan dengan sukses. Tapi lihatlah Tina dan Widia, mereka masih berada di tempat, hanya bisa mengeluh dan merengek-rengek meminta ini atau itu tanpa memiliki niat untuk berusaha menggapainya sendiri.


Melihat anak-anaknya seperti ini, Ayah tiba-tiba menyesal kenapa anaknya tidak memiliki kecerdasan Anggi sedikit saja. Kenapa anak-anaknya tidak sehebat Anggi agar hidup mereka sedikit lebih baik dan strata mereka di dalam masyarakat bisa naik lebih banyak?


"Ayah kenapa liatin aku sama Widia?" Tina bertanya bingung.


Dari tadi Ayah terus melihatnya dengan Widia. Sesekali dia memperhatikan Ayah menghela nafas berat dan sesekali pula dia memperhatikan Ayah menggelengkan kepalanya agak tidak berdaya. Sungguh membingungkan.


"Berapa umur kamu sekarang?" Tanya Ayah tiba-tiba.


Tina dan Widia kompak saling memandang, ragu, dia lalu menjawab,"Aku berumur 25 tahun Ayah. Tapi Widia sudah 27 tahun." Kata Tina menjawab.


27 tahun... usianya memang tidak berbeda jauh dengan milik Anggi tapi entah kenapa terdengar ironis di mata ayahy.


"Kalian sudah setua ini tapi tidak punya calon suami dan belum kunjung-kunjung menikah. Tidak hanya kalian belum menikah, bahkan keluar mencari pekerjaan saja kalian tidak bisa. Kenapa kalian tidak mengikut jejak Anggi sedikit saja? Dia sudah menikah walaupun pada akhirnya bercerai, tetap saja dia meninggalkan anak-anak untuk kedua orang tuanya. Sekarang dia memiliki pekerjaan dengan bergaji besar, punya rumah untuk orang tuanya, dan banyak uang untuk di belanjakan kedua orang tuanya. Dan yang paling penting adalah dua juga memiliki pacar tampan yang sangat kaya, keberuntungannya jauh melampaui kalian berdua." Ayah membanding-bandingkan mereka dengan keberhasilan Anggi.


Karena cemburu dia tidak bisa menghentikan mulutnya sendiri untuk berbicara begitu karena faktanya memang sangat miris. Anak-anaknya adalah penyusah sedangkan Anggi adalah keberuntungan Kakaknya.


Tina dan Widia langsung berubah pucat pasi ketika mendengarkan suara berat Ayah menyentuh titik lemah mereka berdua. Tanpa diucapkan pun mereka juga ingin untuk segera menikah, memilih suami yang tampan dan kaya, siapa bilang mereka tidak menginginkannya. Tapi apalah daya. Mereka telah banyak berusaha di melalui sosial media. Begitu mereka ketemuan di suatu tempat, laki-laki yang ditaksir langsung menghilang tanpa kabar dan menolak untuk membalas pesan mereka. Ini adalah fakta yang sangat menyakitkan. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha terus.


"Ayah kok bilang gitu sih. Anak-anak kita adalah wanita yang baik-baik. Mereka tidak diizinkan bekerja karena mereka adalah calon nyonya rumah. Adapun suami, mereka masih belum menikah karena belum menemukan calon yang cocok dan Ibu juga setuju dengan pemikiran mereka. Ibu hanya ingin memiliki calon menantu yang ganteng dan banyak uang biar anak-anak enggak susah ke depannya nanti." Ibu buru-buru membela anak-anaknya.


Dia adalah seorang Ibu dan tentu saja tidak suka mendengar atau melihat anaknya dibanding-bandingkan. Dan Ibu juga tahu anak-anaknya disukai banyak orang sebab beberapa kali anaknya pasti akan pergi kencan dengan laki-laki meskipun seringkali pulang dengan ekspresi kecewa. Tiap kali Ibu bertanya apa yang terjadi, anak-anaknya pasti akan menjawab kalau mereka tidak suka laki-laki itu atau mereka kecewa dengan laki-laki itu. Maka kesimpulannya di sini anak-anaknya bukannya tidak laku tapi lebih tepatnya karena mereka masih belum menemukan calon suami yang cocok saja.


"Baiklah, terserah kamu. Tapi kamu harus ingat usia mereka sudah tidak muda lagi. Mau sampai kapan mereka begini terus, kalau mereka begini terus apakah kamu yakin masih ada laki-laki yang mau menerima mereka sebagai seorang istri? Jangan memaksakan situasi. Kalau kalian sudah ketemu sama seorang laki-laki asalkan dia baik dan mau menerima kalian apa adanya, maka pergilah menikah daripada kalian terus-menerus seperti ini dan menjadi gosip para tetangga di rumah." Kata Ayah terdengar kejam.


Tina dan Widia tersenyum canggung. Mereka tidak menjelaskan apapun karena takutnya Ayah akan semakin marah bila dia mengetahui kenyataan yang mereka berdua hadapi.


Tapi Ibu berbeda. Dia saat ini benar-benar kesal dengan Ayah. Dia ingin mendebat Ayah karena sakit hati anak-anak yang dilahirkan dari dalam rahimnya ini dibandrol dengan anak orang lain. Seakan-akan Ayah mengatakan bila anak yang lahir dari rahimnya adalah sebuah beban dan aib memalukan yang selalu menjadi perbincangan gosip. Ibu marah tapi masih bisa berpikir jernih bila bukan saatnya untuk berdebat sekarang karena yang terpenting adalah menyelesaikan misi terlebih dahulu. Tidak punya pilihan lain, Ibu harus . memendam kemarahannya di dalam hati.


"Sudahlah, jangan bicarakan ini lagi. Lebih baik kita sekarang masuk saja ke rumah Kakak." Kata Ibu seraya memimpin jalan.


Tidak lupa dia menarik tangan Widia agar ikut bersamanya dan disusul oleh Tina di belakang.


Ayah menghela nafas panjang dan mengikuti mereka dari belakang pula, karena dia seorang kepala rumah tangga maka Ayah mempercepat langkahnya hingga berjalan sejajar dengan Ibu. Melihat situasi canggung ini Widia mengambil inisiatif mundur ke belakang dan berjalan bersama dengan Tina.


"Wid, Ayah sepertinya tidak suka sama kita." Bisik Tina dengan suara kecil.


Widia menundukkan kepalanya, meskipun tidak menjawab tapi raut kesedihannya tidak bisa disembunyikan dari sang adik.


"Keberuntungan setiap orang kan beda-beda jadi Ayah enggak seharusnya ngomong gitu sama kita. Kali ini Kak Anggi yang beruntung, tapi di lain waktu mungkin giliran kita yang beruntung." Dia berbisik lagi ingin menghibur kesedihan Widia. Sama seperti Widia, dia juga sama sedihnya.


Dia dan Widia adalah seorang wanita yang ingin segera mendapatkan kebahagiaan. Teman-teman mereka satu persatu telah menikah dan memiliki anak-anak di gendongan. Tapi mereka... mereka masih berada di tempat dan menunggu keajaiban itu terjadi. Mereka masih menunggu Tuhan memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan hari penuh kebahagiaan itu.


"Jangan khawatir. Pikirkan saja makanan apa yang akan kita makan nanti malam." Kata Widia dengan senyuman manis di bibirnya.


Tina juga ikut tersenyum, dia terinfeksi oleh senyuman yang ditularkan Kakaknya.


"Baiklah, bila kita berhasil berhubungan lagi dengan keluarga kak Anggi, nanti pulang kita akan mampir membeli beberapa mie instan pedas dan mencampurnya dengan beberapa sosis pedas untuk memuaskan hati kita." Kata Tina mulai menyusun rencana bersama kakaknya.


Mereka berdua adalah penggemar pedas, seringkali mereka membuat makanan pedas untuk untuk memuaskan kesedihan atau kegembiraan yang mereka rasakan walaupun ujung-ujungnya perut mereka selalu berakhir sakit setelah makan.


Tapi mereka sangat menikmatinya.


Tok


Tok


Tok


Ayah mengetuk pintu rumah Anggi dengan ringan.


Tidak seperti malam itu, tidak perlu menunggu waktu lama untuk membuka pintu karena kedua orang tua Anggi segera membuka pintu setelah mendengarnya. Mereka sudah melihat kedatangan keluarga empat orang ini dari jendela rumah jadi mereka telah siap untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum, kak." Salam Ayah sopan kepada Paman dan Bibi yang baru saja membuka pintu.


Paman dan Bibi menjawab salam dengan ringan dan segera mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.


Ayah dan Ibu langsung tersenyum, rasa canggung dari perdebatan mereka tadi seolah tersapu bersih. Mereka berempat masuk ke dalam rumah dan duduk di sebuah sofa empuk. Begitu pantat mereka menyentuh permukaan sofa, sebuah perasaan nyaman mulai melingkupi diri mereka. Tanpa sadar mereka ingin bersantai di sofa ini.


"Sofa ini pasti sangat mahal." Bisik Tina ke Widia.


Widia mengangguk setuju,"Harganya pasti mahal. Rumah ini besar dan mewah, jadi semua perabotan di dalam rumah ini pasti juga mahal." Balas Widia berbisik.


Dia dan Tina mengamati ruang tamu dengan ekspresi penilaian. Tempat ini lebih luas dari ruang tamu mereka. Guci besar dan mewah di posisikan di beberapa tempat sehingga membuat ruang tamu terkesan elegan dan mewah pada saat yang sama.


"Aku pikir anakku sudah menjelaskan semuanya kepada kalian." Kata paman memulai pembicaraan.


Suaranya sangat lembut dan nyaman di dalam pendengaran, berbanding terbalik dengan suara yang berat dan agak kasar.


Ibu dan Ayah sontak saling pandang, sorot mata Ibu jelas menunjukkan kepanikan dan dia memberikan Ayah kode untuk segera berbicara.


Ayah memutuskan kan kontak mata mereka sebelum beralih menatap Paman dan Bibi.


"Kakak, aku adalah adikmu. Hubungan kita tidak bisa diputuskan begitu saja hanya karena kesalahan di masa lalu. Memang aku harus mengakui bahwa dulu kami sempat mengecewakan Kakak dan keluarga Kakak, tapi kami sungguh tidak bermaksud melakukan itu. Kami memiliki uang tapi hanya cukup untuk keluarga ku sendiri. Aku tidak bisa membagi-baginya ke Kakak ataupun keluarga yang lain karena aku sama butuhnya dengan Kakak." Kata Ayah berbicara dengan suara beratnya.


Tidak seperti beberapa waktu lalu, nada suara Ayah telah turun satu oktaf sehingga memiliki ilusi bila Ayah berbicara dengan tulus dan penuh kerendahan hati. Meskipun faktanya hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Suamiku benar, Kak. Kami benar-benar melakukannya tanpa kesengajaan. Lihat saja anak-anak yang kami besarkan. Kami memiliki dua anak untuk dibesarkan sedangkan kalian berdua hanya memiliki Anggi seorang. Jadi bagaimana mungkin kami bisa membantu Kakak pada saat yang sama kami juga membutuhkan uang untuk membesarkan anak-anak kami." Setelah Ayah berbicara, Ibu langsung menyambung pembicara agar Paman dan Bibi semakin teryakinkan oleh penjelasan mereka berdua.


Namun pendapat Paman dan Bibi sepertinya tidak sama. Mereka jelas di dalam hati mereka bagaimana perlakukan keluarga ini tapi mereka telah lama melupakannya karena mereka juga bukan orang yang pendendam. Hanya saja tidak pendendam bukan berarti tidak kecewa. Mereka kecewa dan amat sangat kecewa dengan sikap penghindaran keluarga ini dulu. Saat miskin mereka menghindar, bertindak seolah-olah tidak saling mengenal. Tapi setelah Anggi berhasil dan membeli rumah yang sangat bagus, mereka tiba-tiba datang mengakui hubungan darah dan bertindak menyedihkan seolah-olah mereka adalah korban. Sungguh tidak tahu malu.


"Kalian memang keluarga kami dan aku juga bukannya tidak mengakui bila kalian adalah adik juga adik iparku. Tidak, aku tidak mengatakan itu karena biar bagaimanapun kalian di masa lalu, kalian adalah keluargaku. Hanya saja sekarang kita sudah memilki keluarga dan kehidupan masing-masing. Kalian dulu tidak bisa membantuku karena suatu alasan dan sekarang pun aku tak bisa membantu kalian karena anakku. Anggi adalah anak satu-satu ku dan dia telah lama menahan penderitaan. Untuk keinginannya ini aku berjanji untuk tidak mengecewakannya. Jadi apapun yang terjadi di masa depan yang kami tidak bisa ikut campur di dalam keluarga kalian-"


"Tapi, Kak-"


"Memang benar, kita adalah keluarga tapi bukan berarti kami menanggung semua yang kalian inginkan dan butuhkan. Kita sudah memiliki keluarga masing-masing jadi urus saja keluarga sendiri dan jangan menyusahkan keluarga lain. Bukankah kita dulu seperti ini? Kenapa tidak pertahankan saja dan jangan menyalahi aturan ini?" Paman masih terus berbicara sekalipun Ayah sempat memotongnya.


Ekspresi Paman sangat bersahaja ketika mengatakan ini tapi nada ketegasannya tidak bisa ditutupi. Dia menegaskan secara langsung bahwa mereka memang memiliki hubungan keluarga yang tidak terbantahkan tapi bukan berarti harus berbagi duka bersama sebab luka di masa lalu akan terus mengingatkan Paman dan Bibi bahwa keluarga empat orang ini sangat serakah. Lihat saja sekarang. Ketika mereka masih miskin, keluarga ini menghindar, tapi setelah mereka menjadi kaya, keluarga ini tiba-tiba datang mengakui hubungan darah. Ironisnya, semua ini terjadi karena uang, uang, dan uang. Tanpa uang mereka mungkin akan terus bersikap acuh.


"Kakak....kami sungguh meminta maaf untuk masa lalu -"


"Adikku." Potong Paman serius.


"Kamu adalah adikku dan semua yang terjadi di masa lalu telah kami maafkan tapi bukan berarti kami bisa melupakannya. Terlebih lagi ini adalah keinginan putriku sendiri dan aku tidak bisa membuatnya kecewa." Sambung Ayah menekankan lagi.


Ibu dan Ayah saling memandang, ekspresi mereka berdua sangat buruk dan tampak gelisah. Tidak tahan, Ibu akhirnya berbicara dengan gayanya sendiri yang khas.


"Kakak sangat berlebihan. Anggi adalah putri kalian jadi bagaimana mungkin kalian mengikuti kata-kata putri kalian sendiri? Ingat, kalian adalah orang tuanya dan berkuasa untuk mengatur segala sesuatu tentang hidupnya. Jika kalian mau saja diatur seperti ini oleh Anggi, maka bukankah Anggi sama saja merendahkan kalian sebagai orang tuanya? Ini sungguh tidak benar, kak. Tidak seharusnya dia melakukan ini kepada kalian sekalipun dia adalah anak satu-satu kalian." Kata Ibu dengan nada suara menyalahkan.


Betapa buruknya, bagaimana mungkin kakak dan kakak iparnya mau dibodohi oleh anak sendiri? Mereka adalah orang yang melahirkan dan membesarkannya, jadi bagaimana mungkin Anggi berhak mengatur keputusan atau urusan mereka berdua?


Apa yang Ibu ucapkan juga disetujui oleh Ayah dan anak-anak. Mereka sangat setuju dengan apa yang diucapkan Ibu jadi Tina dan Widia segera menyuarakan pendapat mereka sebagai anak-anak yang baik.


"Paman dan Bibi, apa yang Ibu katakan memang benar. Kalian adalah orang tuanya jadi tidak seharusnya kak Anggi memerintah ataupun mengatur-atur kehidupan kalian. Dia tidak ingin melakukan itu kepada kalian. Paman dan Bibi, coba lihat aku dan Widia. Kami adalah anak adik kalian tapi kami tidak pernah melakukan apa yang Anggi lakukan kepada kalian. Kami tidak pernah memerintah Ibu dan Ayah atau bahkan mengurusi kehidupan pribadi mereka. Kami tidak berani melakukan itu karena mereka adalah kedua orang tua kami, orang yang berjasa melahirkan dan membesarkan kami." Kata Widia berapi-api dan sesekali menekankan betapa baiknya mereka berdua sebagai seorang anak, seolah-olah mereka secara tidak langsung mengatakan bila Anggi bukanlah anak yang berbakti.


Ibu dan Ayah jelas puas dengan ucapan Widia. Mereka diam-diam mengacungkan dua jempol kepada Widia.


Mendengar apa yang Ibu dan Widia katakan, Paman dan Bibi tidak tersinggung. Mereka masih memiliki senyum di wajah tua mereka yang sangat meneduhkan.


"Kalian berdua bercanda, apa yang kalian semua katakan sangat berlebihan. Uang yang kami pakai untuk membeli baju dan makan adalah hasil kerja keras Anggi, dan bahkan rumah ini pun adalah hasil kerja keras Anggi, jadi bagaimana mungkin Anggi dianggap sebagai anak yang durhaka, suka memerintah dan mengatur-atur kehidupan pribadi kami? Tidak, tidak, Anggi bukanlah orang yang seperti itu dan kami sendiri pun sangat santai di sini. Semua yang kami nikmati hari ini adalah milik Anggi maka apapun yang kami lakukan selain dari konsumsi pribadi harus bertanya kepada Anggi terlebih dahulu sebagai pemilik asli. Dan Anggi bukanlah orang yang pelit, selain meminta kami untuk tidak memberikan kalian uang, dia tidak meminta apa-apa lagi. Katakan seberapa baik anakku kepada ku dan istriku? Bukannya hidup terkekang dan sedih, tapi kami malah bahagia dan nyaman di sini."


Kata-kata Ayah bagaikan seember air dingin yang disiramkan tepat dia atas kepala. Mereka sangat malu dengan ketegasan ucapan Paman terhadap Anggi. Sungguh hal yang paling memalukan adalah ketika Paman menekankan secara serius bila segala sesuatu yang ada di sini adalah hasil kerja keras Anggi jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu.


"Ini..." Ayah tersedak dengan apa yang Paman katakan barusan.


"Tetap saja berlebih jika dia sampai melarang Kakak berhubungan dengan kami." Kata Ayah sakit kepala karena marah juga malu.


Melihat dan mendengar apa yang Paman katakan tadi telah menunjukkan betapa bencinya Anggi kepada mereka. Dia melarang orang tuanya sendiri untuk memberikan mereka uang adalah hal yang sangat membuat Ayah merasa hina pada saat yang sama juga malu.


Paman menggelengkan kepalanya membantah,"Dia tidak melarang kami berhubungan dengan kalian tapi hanya melarang kami memberikan uang kepada kalian sebab dia tahu bila kalian adalah orang yang mampu dan tidak kekurangan uang." Kata Paman menjelaskan.


Pada awalnya Paman tidak setuju dengan keputusan Anggi karena biar bagaimanapun Ayah adalah adiknya, tapi setelah mengetahui penjelasan mendalam Anggi, Paman akhirnya setuju dan menganggap langkah ini untuk mencegah tindakan serakah adiknya.


Mendengar apa yang Paman katakan, Ibu sungguh tidak setuju dan ingin membantah. Tapi apa yang akan dia ucapkan tiba-tiba diinterupsi oleh sebuah ketukan pintu dari luar.


"Assalamualaikum?" Suara laki-laki paruh baya datang dari luar.


Paman dan Bibi langsung bangun mendengar salam laki-laki paruh baya itu. Mereka melangkah tergesa-gesa untuk membukakan sang tamu pintu.


"Waalaikumussalam, kak. Kakak akhirnya datang. Aku dan Ayah sudah lama menunggu kedatangan kalian." Kata Bibi seraya mencium tangan laki-laki paruh baya itu serta istrinya.


Laki-laki paruh baya itu adalah Paman Anggi dari pihak Ibu. Jasa dan kebaikannya dalam hidup ini tidak akan pernah Anggi lupakan karena mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Ketika keluarganya ditimpa suatu musibah, orang pertama yang mengulurkan tangan adalah keluarga paman ini. Padahal hidup mereka juga sangat susah pada saat itu tapi masih menyempatkan diri untuk mementingkan keluarga Anggi.


"Kamu datang ke sini setelah menerima telpon dari Anggi. Dia meminta kami hari ini datang ke sini bersama putra kami, Rangga." Kata laki-laki paruh baya seraya mendorong bahu laki-laki kurus nan pendek yang sedari tadi berdiri kaku di samping wanita paruh baya itu.


Mereka telah mendengar kabar bila Anggi dan orang tuanya sekarang telah memiliki kehidupan yang baik tapi mereka tidak berani bertanya ataupun mendatangi Anggi. Takutnya mereka dikira ingin memanfaatkan Anggi dan orang tuanya. Dan karena masalah ini pula beberapa orang di tempat mereka membuat gosip bila Anggi telah melupakan mereka karena kehidupan Anggi sekarang sangat baik.


Tentu saja mereka sedih tapi mereka juga senang karena kerabat mereka akhirnya memiliki kehidupan yang sangat baik. Jauh dari kemiskinan di tahun-tahun itu.


"Anggi sudah menjelaskannya tadi pagi, Kak. Dia bilang kalian akan datang ke sini. Kami sangat senang dan telah menunggu kedatangan kalian." Kata Paman sambil meraih bahu laki-laki paruh baya itu.


Sambutan yang ramah dan senyuman yang tulus pula, perlakuan keluarga Anggi masih sama seperti dulu. Ini membuat keluarga laki-laki paruh baya itu akhirnya bisa bernafas lega.


"Mari masuk, Kak. Kita bicarakan semuanya di dalam sembari menunggu kedatangan Anggi."


Tadi pagi Anggi sudah menelpon dan memberitahu jika nanti siang dia kan pulang ke rumah untuk mengantarkan oleh-oleh dari kota D.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum lega,"Terima kasih."


Dia dan anak, istrinya lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam mereka bertemu dengan Ayah dan Ibu yang telah memiliki ekspresi muram di wajah mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak marah dan kesal?! Perlakuan Anggi kepada mereka sangat berbeda dengan perlakuan Anggi kepada keluarga Ayah. Mereka disambut hangat sedangkan keluarga Ayah disambut dengan sambutan dingin. Di tambah lagi hal yang paling membuat mereka kesal adalah Anggi secara pribadi meminta keluarga asing ini datang, sedangkan keluarga Ayah sendiri harus berjuang keras datang ke sini untuk meminta maaf dan menyambung tali kekeluargaan yang sempat berdebu.


Sungguh sangat menyebalkan.


"Kalian kedatangan tamu? Apa kami mengganggu pembicaraan kalian?" Laki-laki paruh baya merasa bila orang-orang ini terlihat agak familiar tapi dia tidak yakin pernah melihatnya dimana.


"Bukan apa-apa, Kak. Ini adalah adikku. Dia sudah ada di sini sejak 1 jam yang lalu." Kata Paman sembari meminta laki-laki paruh baya itu duduk di sofa bersama anak dan istrinya.


Mereka duduk dengan hati-hati dan sangat sopan karena memperhatikan ada orang lain di sekitar mereka juga. Sedangkan Bibi sudah pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka. Karena hampir semua makanan ringan dihabiskan oleh Ibu, Widia dan Tina, maka Ibu harus menyiapkan makanan lain lagi untuk kakaknya.


"Ini minumannya Kak, minumlah selagi hangat." Kata Bibi mempersilakan mereka.


Ibu, Widia, dan Tina memperhatikan beberapa piring cemilan manis di atas meja. Tanpa malu-malu mereka mengambil piring itu dan memakannya dengan santai. Mereka berperilaku seolah rumah ini adalah rumah keluarga dekat mereka.


Bibi melihat perilaku mereka dan tidak bisa memberikan komentar apapun karena mereka juga salah satu keluarga.


"Kakak terlalu bias kepada kami. Saat kami datang, kalian tidak menyambut kami dengan baik tapi saat keluarga ipar datang, kakak menyambut kedatangan mereka dengan berlebihan." Ucap Ibu bias dengan mulut yang tidak berhenti menguyah kue-kue di piring saji yang baru saja menyentuh permukaan meja.


Jelas saja pernyataan ini membuat laki-laki paruh baya itu tidak nyaman. Mereka merasa tidak enak tinggal di tempat yang sama dengan keluarga Ayah.


Ayah berkata,"Bukankah sudah jelas? Apa aku perlu menjelaskannya lagi alasannya kepadamu?" Tanya Paman kini telah kehilangan senyumnya.


Mulut Ibu yang sedang mengunyah langsung terasa kaku. Dia menggeser duduknya tidak nyaman apalagi saat mendapatkan tatapan tajam dari Ayah.


"Tapi tetap saja kami adalah keluarga terdekat Kakak." Gumam Ibu masih belum kapok.


Dia sangat putus asa ingin segera mendapatkan perhatian Paman dan Bibi, ingin berhubungan lagi dan mendapatkan beberapa lembar uang. Juga dengan pekerjaan Anggi sekarang mereka bisa memanfaatkannya untuk kehidupan jangka panjang ke depan. Bukankah ini sangat bermanfaat?


"Aku sudah menjelaskan. Kita memang keluarga dekat tapi aku tidak bisa melakukan apapun kepada kalian." Kata Paman menekankan.


Ayah mengerti apa yang kakaknya maksud dan dia juga sangat malu dengan posisimu saat ini. Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini karena pihak lain selalu memberikan penolakan tapi dia juga tidak rela dengan situasi ini. Lihat saja bagaimana mereka memperlakukan laki-laki paruh baya ini, mereka jelas mendapatkan banyak manfaat dari Anggi apalagi laki-laki paruh baya itu diundang langsung ke rumah ini oleh Anggi.


Ayah terdiam dan tidak tahan melihat istrinya berbicara terus jadi dia mencubit paha istrinya agar segera menutup mulut. Kesal, tapi Ibu dengan patuh menutup mulutnya agar tidak membuat masalah dengan mereka.


"Anggi meminta kami ke sini, aku tidak tahu mengapa dia meminta kami ke sini, apa kalian tahu?" Tanya laki-laki paruh baya itu segera mengambil topik pembicaraan setelah melihat ketegangan di antara mereka.


Paman menggelengkan kepalanya tidak tahu karena Anggi tidak mengatakan apa-apa.


"Dia menelpon tadi pagi untuk memberitahu kami tentang kedatangan kalian ke sini dan hanya meminta kami untuk mengurus kalian sampai dia datang." Kata Paman menjelaskan.


Anggi akan segera datang ke sini dan Ibu serta yang lainnya telah mendengarnya beberapa kali. Kedatangan Anggi jelas bukan ide yang bagus. Mereka pasti akan diusir seperti malam sebelumnya.


"Oh, kalau begitu kami akan menunggu." Kata laki-laki paruh baya itu.


"Ibu, kapan kita mulai makan?" Tanya Widia kepada Ibunya.


Dia telah mencium wangi masakan sejak tadi tapi berusaha menahan diri karena Paman dan Bibi belum menyebutkannya.


Ibu juga kelaparan. Dia tahu betul ada sesuatu yang baik di rumah. Masakan yang dimasak di sini pasti lezat dan kaya akan berbagai macam rasa jadi mana mungkin dia melewatkannya begitu saja.


"Kakak, kapan kita mulai makan siang? Anak-anak ku sudah kelaparan dan ingin segera makan." Kata Ibu tidak tahu malu.


Paman dan Bibi langsung geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Ini masih jam 11, belum saatnya makan siang. Selain itu Aldi dan Aldo juga belum pulang sekolah jadi kita harus menunggu beberapa saat lagi sampai mereka pulang sekolah." Kata Bibi menjelaskan.


Bukannya dia pelit atau tidak ingin berbagi. Bibi bukan orang yang seperti itu. Dia hanya menunggu anak-anak pulang sekolah sebelum mulai makan siang.


Tapi tanggapan ini sepertinya diremehkan oleh Ibu dan lainnya.


"Mereka masih kecil, mereka bisa makan setelah kita makan. Lagipula ini jam 11 siang dan anak-anakku sudah kelaparan, lebih baik kita segera makan siang, Kak." Desak Ibu serakah.


Paman dan Bibi tahu bila orang-orang ini telah kehilangan rasa malu di dalam diri mereka. Jadi dengan enggan mereka membawa semua orang ke ruang makan di ruang tengah. Sepanjang jalan ke ruang tengah, Ibu, Widia, Tina tidak berhenti berdecak kagum melihat isi rumah ini. Tangan dan kaki mereka tidak bisa diam, mereka menyentuh-nyentuh beberapa tempat dengan serakah dan sesekali ingin masuk ke dalam kamar atau ruangan yang menarik perhatian mereka. Jika saja Ayah tidak langsung menghentikan mereka, Paman dan Bibi pasti sudah lama kehilangan sabar terhadap mereka bertiga.


Ayah sendiri mau tidak mau merasa malu dengan kelakuan anak serta istrinya. Tidak seperti mereka yang tidak bisa diam, keluarga laki-laki paruh baya itu justru sangat kalem dan kaku sepanjang jalan. Mereka memang mengangumi rumah ini tapi tidak sampai menyentuh di sana sini yang sangat memalukan.


"Diam lah. Kalian tidak malu apa dilihat sama keluarga itu?!" Murka Ayah kepada istri dan anak-anaknya.


Ibu melihat keluarga yang lain, mereka kalem dan tidak melakukan apa-apa, sangat terkendali.


Berdecih jengkel,"Mereka juga sebenarnya ingin menyentuh seperti kita tapi mereka malu saja. Sangat munafik-"


"Diam! Apa kamu bisa berhenti membuatku malu?!" Potong Ayah kehabisan sabar.


Ibu langsung cemberut. Dia tidak mengatakan apa-apa dan mengikuti langkah Ayah dengan patuh. Tapi sikap patuh mereka hanya sementara saja. Karena begitu duduk di kursi makan, mereka dengan rakus memakan setiap hidangan lezat yang ada di atas meja makan. Tangan mereka tidak berhenti menjangkau dan mulut mereka pun tidak berhenti mengunyah, mereka tampak seperti orang yang belum pernah makan berhari-hari. Sangat rakus.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan perbincangan sembari menunggu kedatangan Anggi. Orang pertama yang paling cepat pergi dari meja makan adalah Ibu dan anak-anaknya. Mereka takut di suruh mencuci piring. Jadi mereka melarikan diri. Awalnya mereka ingin melakukan tur ke beberapa ruangan tapi segera dicegah oleh Ayah.


Kesal, mereka dengan enggan kembali ke ruang tamu dan duduk di posisi yang sama seperti sebelumnya.


Bosan dengan suasana kaku dan membosankan di sini, Tina mulai mengantuk setelah makan banyak makan lezat. Dia kekenyangan dan ingin tidur.


"Bu, aku mengantuk." Lapor Tina ingin tidur.


Ibu mengusap puncak kepalanya,"Sabar, tunggu sebentar lagi. Ayah dan Ibu belum berhasil membujuk mereka." Kata Ibu memintanya untuk menunggu dengan sabar.


Tapi Tina memiliki pikiran lain. Dia ingin sekali tidur di kamar tamu atau kalau bisa di kamar Anggi. Sebab dia penasaran dan ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di tempat yang mewah dan empuk.


"Bu, aku bisa tidur di kamar kak Anggi sambil menunggu kalian selesai berbicara." Kata Tina memberikan solusi.


Ibu pikir juga ini bukan masalah karena mereka adalah keluarga jadi tidak masalah bila putrinya tidur di kamar Anggi.


"Kakak, anakku mengantuk. Dia ingin tidur di kamar Anggi. Dimana letak kamar Anggi, biarkan aku mengirimnya ke sana."


"Maaf, Anggi tidak suka ruang pribadinya dimasuki oleh orang lain." Tolak Bibi tegas.


Jelas itu adalah tempat pribadi putrinya, tempat yang hanya diperuntukkan untuk Anggi beristirahat dan tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Siapapun itu apalagi Tina dan Widia yang tidak akrab dengan Anggi.


Ibu tidak senang dengan penolakan Ibu, jadi dia berkata keras kepala,"Kakak berlebihan. Anak-anak ku bukan orang lain. Mereka adalah adik-adik Anggi. Jadi bagaimana mungkin mereka tidak bisa tidur di sana."


Bibi menjawab santai,"Bagi putriku mereka adalah orang asing. Kalian harusnya tahu dengan baik ini."


Mendengar apa yang Bibi katakan, Ibu langsung meledak dalam kemarahan.


"Kakak sangat sombong setelah menjadi orang kaya. Kalian dari tadi bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap kami hanya karena kamu tidak sekaya kalian. Kakak tidak boleh seperti ini, kami adalah keluarga kalian dan memiliki hubungan darah yang kental dengan kalian!" Kata Ibu emosi mengejutkan semua orang.


Dia menuduh Paman dan Bibi bersikap bias kepada keluarganya. Tuduhannya ini memang terbukti benar tapi semua orang di sini jelas tidak suka mendengarkan tuduhannya.


Bibi dan Paman menduga bila hasil ini akan datang pada akhirnya, mereka juga tidak terkejut dengan sikap kasar keluarga Ibu sebab mereka pada awalnya datang ke sini karena memiliki niat yang salah.


"Jangan asal menuduh. Adik-adik ku bukanlah orang yang seperti itu. Kalian sendirilah yang tidak bisa menahan diri di rumah ini. Meskipun kalian adalah keluarganya tapi tidak sepantasnya kalian memaksakan diri memasuki rumah mereka apalagi sampai ingin menjelajahi tempat pribadi mereka." Laki-laki paruh baya itu mau tidak mau berbicara untuk adiknya.


Dia tidak senang adiknya dituduh buruk padahal jelas-jelas orang yang sangat buruk di sini adalah keluarga Ibu dan Ayah sendiri.


Ayah menatap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan tidak bersahabat,"Apa yang kamu tahu? Kamu hanyalah orang asing di sini." Kata Ayah sok tahu.


Mendengar apa yang dikatakan Ayah, Paman kali ini tidak bisa menahannya lagi.


"Kakak bukanlah orang asing, dia adalah saudara dan keluargaku. Dulu saat kami kesusahan Kakak selalu datang membantu kami, membawa beras dan sayuran, terkadang memberikan Anggi uang untuk berbelanja padahal kehidupan Kakak pada saat itu sangat susah. Sedangkan kalian? Di sini kalian lah orang asing yang sebenarnya. Kalian menghilang dan menghindar kami, jadi bagaimana mungkin kalian masih tidak menjadi orang asing untuk keluargaku?" Kata-kata Paman sangat tajam dan langsung mempermalukan Ayah.


Ayah tiba-tiba menjadi malu bila Kakaknya terus menerus mengungkit masa lalu. Dia jelas tidak senang masa lalu diungkit di sini apalagi di depan orang asing.


"Kakak jangan mengungkit masa lalu, ini sudah berlalu." Ayah memohon.


Paman menatapnya dingin,"Bukankah kamu yang lebih dulu ingin mengungkitnya? Mengatakan bila Kakak ku adalah orang asing padahal jelas-jelas kamulah yang asing di sini." Kata Paman tanpa ampun mengabaikan ekspresi suram Ayah dan Ibu.


Ibu ingin membuat pembelaan tapi segera diinterupsi oleh ketukan pintu di luar.


Tok


Tok


Tok


Bibi bangun untuk membuka pintu dan mendapati dua laki-laki kekar berjas hitam kini tengah berdiri di luar dengan sikap yang dominan.


"Maaf, siapa yang kalian cari?" Tanya Bibi sopan sebab orang-orang ini terlihat tidak biasa pada pandangan pertama.


Salah satu laki-laki kekar memberikan sebuah kartu nama, di sana tertulis sebuah nama perusahaan ternama di negeri ini.


Grup Demian.


"Ini..." Bibi kaget.


"Maaf telah mengganggu waktu Ibu. Kami di sini ditugaskan oleh tuan Adit untuk menjaga kalian. Tuan mengatakan kami harus mengawasi rumah ini dari beberapa tamu yang bermasalah dan salah satu daftar orang yang diantisipasi adalah keluarga dengan empat orang anggota. Mereka adalah Paman dan Bibi mbak Anggi. Tuan bilang bila mereka sudah lebih dari dua jam di dalam, maka kami diminta untuk mengambil tindakan kepada mereka." Kata laki-laki kekar itu.


"Mengambil tindakan?" Bibi bertanya bingung.