
Silau. Kelopak matanya mengerjap enggan tidak mau melepaskan diri dari mimpi indahnya yang tidak berujung. Namun sinar terik yang menerpa matanya seolah buta terhadap perlawanannya untuk bangun. Maka dengan sangat terpaksa kelopak mata berat itu bergerak ringan, mengepaskan cahaya menusuk yang langsung menyerang retinanya begitu kelopak matanya terbangun.
"Ugh..." Dia meringis tertahan sambil menutup matanya dengan tangan terangkat.
Mengerjap beberapa kali membiasakan bola matanya, dia lalu menurunkan tangannya ke tempat semula. Melihat ke tempat sekelilingnya untuk memastikan tebakan di dalam hati.
Kamar yang asing tapi cukup meninggalkan kesan. Karpet permadani dipenuhi oleh berbagai macam ukuran kelopak bunga mawar merah yang memiliki kesan berani dan menggoda. Beralih dari karpet matanya jatuh pada lipatan pakaian tidurnya semalam yang sudah terlipat rapi di atas meja rias. Meskipun lipatan pakaian itu agak berantakan, tapi dia tahu orang yang melipat pakaian itu melakukannya dengan sungguh-sungguh.
"Dad, aku mau ketemu sama Mommy." Suara kekanak-kanakan Aska menarik perhatian Rein dari semua jejak-jejak ambigu yang dia dan suaminya tinggalkan semalam.
Melihat semua jejak-jejak memalukan itu ada dimana-mana, pipi Rein mengembangkan rona merah yang sudah seperti kepiting rebus saja rupanya.
Tadi malam.... mereka berdua benar-benar gila- ah, tidak! Lebih tepatnya Davin lah yang menggila!
Rein... Rein hanya terpancing saja. Em, dia hanya terpancing saja.
"Mommy lagi kurang enak badan, sayang. Nanti setelah Mommy membaik, kalian berdua pasti Daddy izinin ketemu Mommy lagi." Suara rendah Davin menghibur kerinduan anak-anaknya.
Rein juga ingin bertemu dengan anak-anaknya. Tapi dengan kondisi seperti ini.... Rein menatap ragu kulit telanjangnya yang telah dibersihkan secara pribadi oleh suaminya semalam.
"Aku tidak mungkin bertemu anak-anak dengan keadaan seperti ini." Gumam Rein dengan wajah tersipu.
Dia memegang erat selimut lembut di atas tubuhnya dan menarik selimut itu ke atas, hampir menutupi sebagian dari wajahnya yang merona.
Cklack
Pintu kamar dibuka oleh Davin. Setelah menenangkan anak-anak Davin langsung masuk ke dalam kamarnya sambil membawa makanan hangat dan lembut ditangannya.
Wajah kaku Davin seketika mencair menjadi senyuman lebar. Jika diperhatikan dengan baik, ada sentuhan rona merah di daun telinganya.
"Bangun?" Tanya Davin seraya berjalan ke arah ranjang dan menaruh makanan hangat itu ke atas nakas.
"Hem, jam berapa sekarang?" Tanya Rein masih tidak berani menunjukkan wajahnya.
Davin melirik jam di pergelangan tangan kirinya sebelum beralih menatap Rein dengan ekspresi penuh makna.
"Ini hampir jam 3 sore." Kata Davin mengagetkan istrinya.
"Jam 3 sore?!" Kaget Rein mendudukkan dirinya di atas ranjang, tapi-
"Argh!" Rein meringis kesakitan saat merasakan ngilu di bagian tertentu dalam tubuhnya.
"Ada apa? Dimana yang sakit?" Davin buru-buru membantu istrinya bersandar di kepala ranjang. Menaruh bantal empuk di punggungnya agar Rein bisa bersandar dengan nyaman.
Rein memejamkan matanya menahan ngilu. Karena tempat itu adalah bagian yang paling rahasia di dalam hidupnya, Rein enggan memberitahu Davin masalahnya.
"Tidak... bukan apa-apa." Kata Rein menahan ngilu.
Namun Davin tidak melepaskannya dan menebak masalah Rein secara akurat.
"Apa kamu membutuhkan salep? Semalam kamu berdarah-"
"Aku tidak membutuhkannya! Lagipula wajar saja milikku berdarah karena tidak pernah dipakai sebelumnya. Dan di tambah lagi...punyamu terlalu besar untuk ku..."