
Dia mengelus pipi lembut dan chubby Tio yang kini sudah terlelap damai terbuai di alam mimpi. Di dalam hatinya dia berharap dengan tulus bila dunia mimpi yang dimasuki Tio adalah dunia mimpi yang indah dan bukannya dunia mimpi buruk seperti di dunia nyata.
"Mommy gak suka kamu terlalu cerdas, Nak."
Sebelum Tio tertidur bibir manisnya berceloteh menanyakan beberapa hal tentang laki-laki itu, Ayahnya. Tio bertanya apa yang Ayahnya suka dan benci, makanan apa yang Ayahnya sukai, atau apakah Ayahnya juga menyukai bubur suwir ayam seperti dirinya.
Dia tersenyum kecil. Tatapan sendunya tidak bisa menyembunyikan duka lara yang hatinya rasakan saat ini. Dia sejujurnya tidak kuasa menahan air mata ketika melihat wajah bahagia Tio saat membicarakan tentang laki-laki itu. Jika bisa dia ingin mengatakan bahwa laki-laki itu, laki-laki yang sangat Tio rindukan ini sebenarnya sudah hidup bahagia bersama wanita yang dicintai.
Mereka mungkin sudah punya satu atau dua anak, dan mungkin tidak ada tempat untuk Tio berdiri dihatinya.
Tio, anak yang lahir dari rahimnya..dia tidak yakin laki-laki itu mau menerima keberadaan Tio. Jangankan menerima, mempercayai keberadaannya saja sungguh sangat mustahil untuk laki-laki itu.
"Mommy minta maaf karena telah membohongi kamu, Nak. Mommy sungguh tidak bermaksud menyakiti kamu. Semua ini Mommy lakukan karena sudah tidak punya cara lain. Kamu merindukan Ayah, kamu ingin diakui sama seperti teman-teman kamu karena itulah Mommy menciptakan sebuah kebohongan. Padahal.." Tangan kurusnya yang kasar dan tidak selembut dulu kini beralih mengusap pipi merah Tio yang sudah tidak terlalu merah lagi.
Hatinya sungguh kesakitan melihat Tio diperlakukan seperti ini oleh anak-anak yang lain. Tionya, putra cerdas yang dia lindungi dan lahirkan dengan susah payah diperlakukan salah oleh para orang-orang kaya.
"Davin tidak pernah tahu kamu lahir bahkan ada di dunia ini. Dia tidak tahu tentang kamu, Nak, dan mungkin tidak akan perduli jika tahu karena dia sudah punya kebahagiaan sendiri. Maafkan Mommy, sayang.. kenyataan ini memang kejam kita sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Bila Tuhan mengirim kamu dari rahim wanita sempurna maka kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan."
Lagi-lagi ini semua adalah salahnya.
Salahnya karena cacat dan salahnya pula karena miskin. Jika dia sempurna maka Davin tidak akan pernah meninggalkannya dan jika dia kaya maka Tio tidak akan pernah direndahkan seperti ini.
Benar, semua ini adalah salahnya.
"Mommy.."
"Iya, sayang?"
Dia buru-buru menghapus air matanya takut Tio melihatnya menangis. Tapi ketika dia selesai membersihkan dan mengatur ekspresi di wajahnya, Rein tiba-tiba merasa konyol saat melihat wajah terlelap Tio yang masih damai.
"Kamu di sana mimpiin, Mommy, yah?"
Sepertinya Tio sedang bermimpi.
"Jangan mimpiin, Mommy, sayang. Karena Mommy adalah mimpi buruk untuk kamu di dunia nyata dan di dunia mimpi. Tapi mimpikan lah kehidupan yang lebih baik, misalnya seperti terjebak di dalam pabrik permen.. percaya sama, Mommy, rasanya pasti sangat manis."
Dia berbicara seolah-olah Tio bisa mendengarnya.
Rein tersenyum kecil. Setelah memastikan Tio benar-benar tertidur, dia lalu keluar dari kamar. Rein menatap ruang tamu yang sudah mirip seperti kapal pecah karena ulah Tio beberapa jam yang lalu. Dia tidak marah, justru merasa lucu dan lega karena putranya masih bisa tertawa.
Rein kemudian membersihkan ruang tamu yang berantakan karena ulah Tio sambil menunggu Dimas pulang. Dia mengumpulkan mainan Tio di atas lantai dan menyapu ruang tamu agar lebih bersih. Setelah itu dia mencuci piring di dalam dapur sebelum mengirim semua pakaian-pakaian kotor Tio ke dalam mesin cuci.
"Setidaknya para Tuan emas itu tidak akan bisa bersantai lagi di masa depan."
Dia mengambil tas sekolah Tio dan membawanya duduk di atas lantai. Rein ingin melihat kemajuan Tio selama di sekolah karena banyak guru yang bilang jika Tio sangat pintar di anak seusianya.
"Eh?"
Di dalam tas Tio ada mainan robot-robotan yang Dimas berikan dihari ulang tahun ini. Robot-robotan itu seharusnya masih utuh dan baru karena baru diberikan tapi apa yang Rein lihat sekarang justru sebaliknya.
Robot-robotan itu sudah rusak, terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Rein mencoba menyatukannya tapi tidak bisa karena robot-robotan ini sudah benar-benar rusak parah.
"Mainan Tio rusak lagi, ya?"
Ketika masuk ke dalam apartemen dia tidak menemukan siapapun di luar, bahkan salamnya pun tidak ada yang menjawab. Dia pikir Rein dan Tio sudah tidur tapi ternyata Rein malah sedang melamun di ruang tamu dengan robot-robotan rusak milik Tio di tangannya.
Iya, mainan Tio memang sering rusak dan Dimas pikir itu adalah hal yang wajar karena Tio masih anak-anak. Dia masih belum pandai untuk menyimpan barang-barangnya.
"Dim, hiks.." Rein mengangkat kepalanya menatap Dimas.
Dimas tidak menyangka diamnya Rein bukanlah melamun tapi ternyata karena ia sedang menangis. Dia menjadi panik melihat wajah basah Rein dan segera mendekatinya.
"Lo kenapa nangis, Rein?"
Rein mengangkat tangannya untuk menunjukkan mainan robot-robotan Tio yang sudah rusak parah.
"Mainan Tio rusak lagi hiks.."
Dimas menghela nafas lega, nyatanya ini bukan masalah besar.
"Jangan cengeng gitu, dong. Ini cuma mainan biasa dan gak mahal kok. Besok sepulang dari kantor gue mampir ke toko mainan buat beli yang baru untuk Tio."
Tapi Rein sama sekali tidak merasa lega. Bukannya berhenti menangis tapi dia malah semakin terisak sedih.
"Udah Rein, gue kan udah bilang bakal beliin Tio mainan baru." Dimas berusaha membujuk.
"Enggak, enggak gitu, Dimas. Anak gue dibully di sekolah, anak gue gak punya teman di sekolah, anak gue dihina karena gak punya Ayah dan miskin. Gue capek, Dim! Gue sakit hati liat anak gue begini terus tapi gue gak bisa lakuin apa-apa karena apa yang mereka semua bilang itu benar. Gue miskin makanya gak bisa berbuat apa-apa saat anak-anak kaya itu menjatuhkan anak gue dan Tio juga gak punya Ayah seperti anak-anak yang lain. Gue..ini salah gue karena lahir cacat, Dim. Seandainya gue gak cacat Davin pasti gak akan milih cewek lain dan seandainya Davin gak ninggalin gue, Tio pasti punya Ayah dan hidup berkecukupan. Ini salah gue yang lahir cacat, Dimas! Gue cacat!"
Rein tenggelam dalam rasa sakitnya. Dia sudah tua bisa menahan semuanya lagi. Mengingat memar merah di pipi chubby Tio membuat Rein langsung menyadari bahwa dia sungguh-sungguh sangat rendah. Dia tidak punya kelebihan apapun untuk Tio, untuk putranya yang berharga.
"Rein, please berhenti."