
"Lalu jelaskan Mama, Pa. Agar Mama tidak berpikiran yang macam-macam tentang dia lagi. Ayo, Pa. Mama ingin tahu orang seperti apa Anggi ini." Desak Mama ingin mendengar penjelasan suaminya tentang siapa Anggi sebab Adit sendiri yang langsung memberitahunya aa identitas Anggi dan apa hubungan mereka.
Papa menepuk punggung tangan istrinya ringan untuk menenangkan kecemasan sang istri. Mengambil nafas panjang, dia lalu mulai menceritakan siapa Anggi yang dikatakan oleh Adit langsung hari itu.
"Anggi adalah sahabat nyonya Rein, Ma. Dia adalah sahabat nyonya Rein ketika masih bekerja sebagai pegawai office girl di perusahaan sampingan grup Demian kota C. Anggi sebenarnya lahir dari keluarga biasa dan menikah dengan suami biasa pula. Namun dia tidak pernah mempertanyakan gaji suaminya yang sedikit karena dia sudah terbiasa dengan kehidupan biasa. Sampai suatu hari sang suami lah yang membohongi dia, Ma. Suaminya berpura-pura terdesak hutang dan menggunakan Anggi sebagai pelayan rumah untuk melunasinya. Padahal suaminya tidak terdesak hutang tapi menjual Anggi kepada Revan, Paman kecil tuan Davin. Dan dari sana lah semua penderitaannya di mulai. Dia hancur ketika mengetahui bahwa kehormatannya direnggut oleh Revan dan semakin hancur pula saat mengetahui bila sang suami berselingkuh dengan wanita lain. Ketika ketahuan selingkuh, suaminya itu segera membawa wanita itu pergi keluar kota untuk bersenang-senang dan mengabaikan kondisi Anggi yang memburuk. Dia jatuh sakit tapi terus dipermainkan oleh Revan sampai akhirnya dia kembali bertemu dengan nyonya Rein. Nyonya Rein memiliki hati yang lembut dan hangat. Saat melihat sahabatnya ditindas, dia segera membantunya. Membawanya pulang ke vila tuan Davin untuk dirawat. Karena mengalami depresi dan trauma dalam. Anggi tidak pernah mau berbicara dengan siapapun kecuali Adit. Putra Kuta anehnya ditakuti oleh Anggi sehingga dia mau bekerja sama dengan setiap pertanyaan yang Adit lontarkan. Dan putra kita lah yang mengurus langsung kasus Anggi sehingga suaminya ditetapkan sebagai tersangka perdagangan manusia dan Revan pun ikut terjerat karena dia adalah pelaku di dalam kasus ini. Jadi Anggi bukanlah seorang perayu di sini. Melainkan seorang korban yang tak tahu apa-apa. Suaminya dan Revan bekerja sama untuk menipunya, setelah itu suaminya juga berselingkuh dengan wanita, melarikan diri ke kota bersama selingkuhannya dan meninggalkan kedua anak mereka yang masih kecil di rumah kakek serta neneknya. Dengar, Adit sendiri yang menyelesaikan kasus ini dan dia sendiri yang tahu semua baik serta buruk dari kasus ini jadi kamu hanya perlu mempercayai apa yang dia katakan. Sera dan kedua orang tuanya memiliki niat terhadap putra kita jadi tentu saja mereka akan berusaha menghitamkan kesan Anggi kepada kita agar kita lebih memilih Sera daripada Anggi. Padahal jika memang Anggi orang yang seperti itu lalu mengapa tuan Davin masih memperkerjakan nya sekalipun dia adalah sahabat istrinya. Bahkan istrinya pun bukan orang yang bodoh. Bila Anggi adalah wanita yang buruk maka dia mungkin sudah lama melepaskan Anggi dan tidak memperkejakan nya sebagai asisten pribadinya. Dan jika wanita itu bukanlah wanita yang baik lalu mengapa putra kita lebih memilih dia di antara banyak wanita yang datang mengejar? Lihat Sera. Dia cantik, memiliki karir yang bagus sebagai dokter hewan, dan latar belakang keluarga yang baik. Lalu ada juga Sila dari keluarga Dirgantara. Dia adalah wanita yang cakap juga cerdas sama seperti kakak laki-lakinya, namun mengapa putra kita sama sekali tidak tertarik kepadanya dan lebih memilih Anggi? Istriku, itu artinya ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita lain di dalam diri Anggi. Sesuatu yang membuat Adit memilihnya, menyukainya, dan bertekad membawanya pulang kemari agar bisa bertemu dengan kita berdua. Dia istimewa, istriku. Dan karena keistimewaannya inilah Adit jatuh hati kepadanya. Bukankah kamu mendengarnya sendiri dari orang-orang suruhan kita bila Adit sejak bertemu Anggi jadi mudah berekspresi, tersenyum, dan bahkan tertawa? Dia jauh lebih bahagia sekarang daripada dulu jadi harusnya ini kabar baik untuk keluarga kita. Karena kita tidak memiliki kekhawatiran apapun lagi terhadap masa depan putra kita itu. Dia akhirnya menemukan wanita yang mampu membuatnya menyampingkan pekerjaan." Kata Papa panjang lebar kepada sang istri.
Suaranya masih rendah namun sarat akan kelembutan. Caranya berbicara yang sabar seolah ingin memastikan bila apa yang dia ucapkan mudah dimengerti oleh istrinya dan dapat menyentuh hati istrinya.
Sebab dia tidak ingin meninggalkan sedikitpun kesalahpahaman dalam masalah ini kepada istrinya.
"Dari apa yang Papa bicarakan, kehidupan Anggi sepertinya sangat menderita. Dia mungkin memiliki trauma dalam karena masalah perdagangan manusia itu. Lalu bagaimana cara putra kita menangani trauma Anggi, Pa? Jika Anggi ragu menikah dengan putra kita, maka apa yang harus putra kita lakukan agar masa depannya dapat terjamin?" Kini kecemasan istrinya beralih pada kondisi mental calon istri putranya.
Papa tersenyum lega karena sang istri tidak memikirkan masa kelam Anggi dan malah lebih mengkhawatirkan kesehatan mental Anggi.
"Adit bilang masalah itu memang meninggalkan dampak yang dalam kepada Anggi. Dia terlihat kaku dan langsung tegang bila dipegang oleh Adit, dan mungkin dia memiliki masalah yang lebih besar dengan para laki-laki lainnya. Namun Adit untungnya memiliki keuntungan di sini karena Anggi sepertinya agak menoleransi pendekatan Adit. Walaupun masih tegang, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya ketika dekat dengan Adit." Kata Papa menjelaskan.
Papa kini sepenuhnya dalam suasana hati yang baik karena kecemasan sang istri telah lama menguap. Untuk keluarga Sera, ada dendam tersendiri yang menggemuk di dalam hatinya. Dia jelas memiliki kemarahan karena istrinya dibohongi dan calon menantunya di fitnah. Jika dia tidak menghormati pihak lain karena berasal dari keluarga Demian, maka mungkin dia sudah lama bertengkar dengan keluarga itu.
"Lalu...lalu bagaimana dengan keluarganya, Pa?" Tanya Mama lebih santai daripada sebelumnya.
Papa tersenyum. Ada kehangatan yang terpancar dari binar matanya.
"Papa sudah menyelidikinya. Mereka adalah keluarga yang sangat hangat, baik, dan penyayang. Anggi juga memperlakukan keluarganya dengan sangat baik. Dia membelikan mereka rumah, menyediakan semua kebutuhan mereka, dan bahkan menyisihkan setiap gajinya untuk keluarganya itu. Mungkin... mungkin saja Adit jatuh cinta karena hal ini. Anggi memiliki hati yang hangat dan sederhana, bisa saja dia jatuh cinta karena faktor ini." Kata Papa menduga.
Dia telah mengirim orang suruhannya untuk mengawasi rumah Anggi dan memperhatikan bagaimana hubungan keluarga di sana. Dan betapa terkejutnya Papa ketika mengetahui bila Adit telah menyiapkan penjaga bayangan untuk mengawasi keluarga itu. Mungkin terjadi sesuatu yang mengharuskan keluarga Anggi memiliki penjaga secara diam-diam agar orang yang berniat jahat tidak bisa menyentuh rumah ataupun keluarga itu.
"Mendengar cerita Papa, aku jadi tergoda ingin bertemu dengan Anggi. Mama ingin tahu orang seperti apa Anggi itu sehingga membuat putra kita seperti ini." Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Papa mencubit puncak hidung sang istri.
"Mungkin 3 hari lagi, Adit yang akan membawa Anggi ke rumah kita. Pada saat itu kamu bisa berbicara dengannya dan menilai sendiri apakah yang aku katakan ini berlebihan atau tidak." Kata Papa memperkirakan.
Mama akhirnya bisa kembali tersenyum karena permasalahan putranya telah diselesaikan sedemikian rupa. Mereka hanya perlu bertemu dengan Anggi, melihat dan menilai sendiri orang seperti apa Anggi itu.
Namun seburuk apapun penilaian mereka nantinya, mereka tidak akan pernah dapat mengubah keputusan Adit sebab inilah yang diminta oleh Adit dan dipilih sendiri. Hal ini sudah tertanam di dalam hati kedua orang angkatnya bahwa Adit bebas memilih hidup dan jalan hidupnya sendiri. Selama di jalan yang benar dan diridhoi Tuhan, mereka tidak akan mengatakan apapun lagi.
Mereka hanya berharap bila keputusan Adit dapat membawanya menuju masa depan yang indah dan damai, seperti halnya kebahagiaan yang diincar oleh semua orang di dunia ini.
Mereka mungkin tidak tahu bila pertemuan siang ini telah sampai ke telinga Adit di perusahaan group Demian. Adit hanya tersenyum datar melihat laporan itu dan diam-diam menertawakan langkah impulsif keluarga Sera. Namun untuk menghormati mereka karena berada di sisi Davin saat masa kelam, Adit memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya namun diam-diam mengantisipasi bila keluarga Sera mengulangi kembali kesalahan ini.
Mungkin saat itu terjadi, Adit tidak akan bermurah hati lagi. Memangnya laki-laki mana yang suka bila pujaan hatinya difitnah oleh orang lain?
Jika Rein yang diperlakukan seperti ini, maka Davin mungkin sudah membantai keluarga itu. Akan tetapi sayangnya keluarga itu sedikit beruntung karena Adit lah yang akan menangani mereka.
"Awasi mereka terus. Jangan biarkan aku mendengar laporan yang sama lagi." Perintah Adit datar kepada Niko.
Niko menyentuh kacamata kerjanya, tersenyum tipis, dia berbalik dan kembali ke tempat duduknya di luar.
"Yah, pekerjaan bertambah lagi." Bisiknya pahit.
***
Sera dan kedua orang tuanya langsung pulang ke rumah setelah diminta pergi oleh Papa Adit. Di rumah Papa menasehatinya dengan kata-kata tulus sebelum pergi ke ruang kerjanya di lantai atas meninggalkan istri dan putrinya untuk berbicara.
Selepas Papa pergi, Sera langsung mendekati Mamanya untuk mulai bergosip.
"Ma, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Sera pahit juga kesal.
Dia tidak menyangka bila langkah wanita itu begitu mulus. Anggi ternyata berhasil mendapatkan Adit dan bahkan sempat menerima kepercayaan dari kedua orang tua Adit. Sera cemburu dan marah. Bertanya-tanya mengapa bukan dia?!
Dia masih gadis, utuh, cantik, dan memiliki keluarga yang baik. Sedangkan Anggi sudah ternoda selayaknya wanita malam yang suka menjajakan harga dirinya. Seharusnya dia memiliki banyak keuntungan daripada Anggi dan dia harusnya jauh lebih baik daripada Anggi. Tapi mengapa Adit lebih memilih dia?
Mengapa Adit lebih memilih wanita janda itu daripada memilihnya yang masih perawan dan mulus?
Sera tidak bisa mengerti ini dan dia sangat tidak rela karena Adit lebih memilih wanita yang banyak kekurangannya dibandingkan dirinya yang jauh lebih baik.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang. Tunggu kedua orang Adit menghubungi kita lagi. Jika tidak ada kabar malam ini juga, maka Mama yang akan menghubungi mereka. Kamu tenang saja, nak. Mama berjanji akan menyatukan kamu bersama Adit karena di mata Mama, tidak ada laki-laki yang lebih layak bersama kamu selain Adit sendiri." Janji Mama serius.
Di matanya hanya ada Adit seorang. Adit telah memenuhi semua kriteria calon menantu yang dia inginkan. Adit memiliki proporsi tubuh yang sangat bagus, wajah tampan, latar belakang keluarga baik, dan pandai menjalankan bisnis. Selain semua prospek itu, Mama juga percaya bila Adit adalah orang yang dapat dia percayai untuk memegang bisnis suaminya nanti. Sekalipun bisnis itu tidak besar tapi setidaknya menghasilkan banyak uang.
Jadi dengan adanya Adit, kebahagiaan anaknya tidak hanya terjamin tapi juga kejayaan perusahaan dapat memiliki solusi di masa depan.
"Janji ya, Ma. Aku hanya mau sama kak Adit dan enggak mau yang lain." Kata Sera menekan.
Mama mengelus puncak kepalanya sayang sambil menyenandungkan janji dari mulutnya.
"Ya udah, kamu balik aja ke kamar. Ganti baju kamu dan manfaat kesempatan ini untuk beristirahat. Jarang-jarang lho kamu bisa beristirahat." Bujuk Mama kepada putrinya.
Dia ingin putrinya lebih memanjakan diri lagi hari ini agar suasana hatinya tidak terlalu tertekan gara-gara masalah Adit.
Sera tidak menolak niat baik mamanya. Dia mengangguk kan kepalanya patuh. Mencium pipi Mamanya dan pergi ke lantai atas untuk beristirahat. Meninggalkan mama sendiri di ruang tengah.
Selepas Sera pergi, Mama akhirnya bisa merilekskan tubuhnya. Dia menyandarkan dirinya di sandaran sofa. Entah apa yang dia pikirkan saat ini tidak ada yang tahu sebab matanya menatap tidak fokus ke sembarang arah. Lama merenung, Mama menegakkan duduknya setelah membuat keputusan dari dalam hatinya. Dia menggigit bibirnya berpikir dan menimbang apakah akan menjalankan keputusan ini atau tidak.
"Ini demi kebahagiaan putriku dan kemajuan bisnis suamiku." Gumam Mama seraya mengambil ponsel dari dalam tas branded nya.
Dia mendial kontak orang-orang yang tidak dikenal dan hanya meminta satu misi untuk mereka ketika panggilannya di jawab.
"Namanya Anggi, dia tinggal di kota A jalan x. Awasi kehidupan keluarganya dan tawarkan uang sekian nominal agar mereka memutuskan hubungan Anggi dengan laki-laki yang bernama Adit, Adit Gleskin. Mengerti?"
Dia terpaksa menggunakan cara ini agar Anggi mau memutuskan hubungannya dengan Adit. Meskipun Anggi tidak kekurangan uang untuk saat ini tapi mungkin respon keluarganya berbeda. Di tambah lagi uang yang dia ajukan pada dasar nya tidak kecil, mungkin terbilang sangat besar untuk sekelas keluarga Anggi yang sederhana. Namun apakah iya uang dapat menggantikan segalanya?
***
"Wow, rumah siapa ini, Bu? Kenapa rumah ini sangat besar dan mewah? Gayanya pun berbeda dengan gaya rumah yang kita lihat sebelumnya." Takjub Tina terpukau saat melihat gedung besar nan tinggi yang terhalang gerbang tinggi di depan mereka ini.
Rumah ini sangat besar dan luas, sudah seperti istana saja. Gaya rumahnya pun berbeda dari rumah yang lainnya. Ada sentuhan Eropa kuno di dalamnya yang terlihat sangat berkelas dan pada saat yang sama anggun. Tina dan Widia pikir rumah ini pasti menghabiskan banyak uang untuk perawatan sampai bayar listrik melihat betapa luasnya rumah ini.
Belum pernah dalam hidup ini mereka melihat tempat yang sangat luas dan besar seperti rumah kokoh di depan mereka.
"Ini adalah rumah keluarga Demian, tempat Anggi bekerja." Kata Ibu tanpa mata berkedip menatap iri dan cemburu pada keberuntungan Anggi.
"Woah, pantas saja kak Anggi punya banyak uang dan bisa beli baju branded. Aku pikir rumahnya kayak di tv tv, eh ternyata rumah tempatnya bekerja semewah ini dan jauh lebih baik dari yang aku lihat di tv!" Kata Tina berkicau.
Tidak heran Anggi sangat cepat kaya raya dan tidak heran pula Anggi memiliki banyak barang mewah. Ternyata dia bekerja di tempat yang sangat besar dan mewah, tempat yang mereka taksir menghabiskan banyak uang untuk pembangunan dan perawatannya.
"Kalau tahu gini aku lebih baik minta kak Anggi pekerjakan aku di sini daripada maksa dia ngasih uang. Toh, gaji di sini pasti besar-besar." Kata Widia merasakan penyesalan di dalam hatinya.
Andai saja waktu bisa diputar. Sebab dia ingin mengubah kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya. Daripada meminta uang ada baiknya meminta bantuan pekerjaan. Selain bisa mendapatkan pekerjaan, dengan kondisi seperti itu hubungan mereka dengan Anggi setidaknya bisa dipertahankan.
"Yah, aku juga mikirnya gitu. Enggak ada salahnya kita kerja di sini. Dengan rumah sebesar ini, gajinya pasti tidak main-main." Kata Tina mendukung.
Dia juga ingin bekerja di sini. Selain mendapatkan gaji besar, mereka juga bisa menyentuh barang-barang mewah yang sebelumnya hanya bisa mereka lihat dari dalam tv. Sungguh sangat menyesal!
"Nah, karena itulah Ibu membawa kalian ke sini. Jika Anggi tidak mau memberikan kita uang, maka minta dia untuk memperkejakan kalian di rumah ini. Dia kan di sini jadi bos, jadi kalian berdua harusnya gampang mendapatkan posisi yang baik di rumah ini." Kata Ibu mengejutkan mereka berdua.
"Sungguh, Bu? Tapi...tapi aku tidak punya keahlian apa-apa." Widia mulai panik karena dia merasa tidak punya keahlian apa-apa selain membersihkan rumah. Itupun harus dipaksa dulu oleh Ibunya. Dan dia juga harus melewati pertengkaran dulu dengan Tina agar salah satu diantara mereka yang mengambil pekerjaan rumah.
Ibu melambaikan tangannya dengan tatapan serakah.
"Jangan pikirkan itu. Selama Anggi punya hati kepada kita, dia pasti akan memberikan kalian pekerjaan yang ringan dan dengan gaji yang besar. Lagipula kita kan enggak minta uang dari dia jadi harusnya Anggi enggak masalah memperkejakan kalian berdua di sini." Kata Ibu meremehkan.
Namun Widia pikir semuanya tidak akan semudah itu. Apalagi sekarang Anggi sudah tidak ingin melihat mereka sehingga mungkin tidak akan ada manfaat yang bisa mereka ambil dari semua ini. Selain itu rumah sebesar ini pasti membutuhkan orang-orang yang sangat berbakat dan ahli dalam bidangnya. Mereka tidak mungkin menerima pelayan atau pekerja sembarangan. Tapi Widia tidak bisa mengatakan ini kepada Ibunya. Takut, dia akan disemprot habis-habisan oleh Ibu jika dia sampai mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak puas. Jadi lebih baik tutup mulut saja sambil berdoa bila mereka memang memiliki kesempatan untuk bekerja di rumah ini.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Bu?" Tanya Tina antusias.
Ibu menggaruk pipinya berpikir. Beberapa detik kemudian dia berjalan dengan percaya diri ke depan gerbang. Setelah di depan gerbang, dia memukul mukul gerbang agar menarik perhatian beberapa penjaga yang sedang berkeliling di sekitar gerbang.
Sejak Davin menjadi kepala keluarga di rumah ini, dia mengatur banyak orang untuk berpatroli dan tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam mansion. Situasi mansion Demian sangat ketat dan beberapa keluarga besar lainnya mengakui bahwa Davin sangat berlebihan.
Davin sebenarnya tidak berlebihan. Nyatanya dia hanya berjaga-jaga saja agar kesalahan di masa lalu tidak terulang kembali. Dia tidak ingin orang-orang yang dia cintai disakiti oleh orang-orang yang tidak bisa dia hindari seperti apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya.
"Cari siapa?" Seorang penjaga kejar mendekati mereka bertiga.
Ibu meneguk ludahnya gugup. Bagaimana mungkin dia tidak gugup berhadapan langsung dengan laki-laki berotot? Setiap tubuhnya hampir dibentuk oleh goresan otot yang menakutkan.
"Kenapa diam saja?" Tanya laki-laki itu tidak sabar.
Bukannya dia meremehkan orang lain tapi melihat tingkah dan sikap mereka dari awal tadi dia curiga bila ketiga orang ini tidak memiliki niat baik.
"Eh itu...kami ingin mencari Anggi. Dia adalah keponakan ku dan kakak bagi anak-anak ku. Bisakah kamu bertemu dengannya? Katakan saja Bibi dan adiknya datang mencari." Kata Ibu tergesa-gesa.
Laki-laki itu menyipitkan matanya tidak percaya sebab dia belum pernah mendengar bila Anggi memiliki Bibi ataupun adik. Anggi hanya mengatakan bahwa dia memiliki orang tua dan dua anak-anak yang masih sekolah di sekolah dasar.
"Bukti?" Tanya laki-laki itu serius.
Ibu dan yang lainnya tercengang. Mereka sama sekali tidak punya bukti karena mereka tidak pernah dekat dengan Anggi. Mereka tidak memiliki foto ataupun nomor ponsel Anggi karena mereka tidak pernah memiliki hubungan yang baik.
"Kami...kami tidak membawa ponsel." Kata Widia berdalih.
Laki-laki itu mengangguk mengerti. Ibu pikir laki-laki itu mengizinkan mereka masuk tapi siapa yang tahu bila laki-laki itu malah meminta mereka kembali.
"Kalau begitu kembali ke rumah kalian fan bawa ponsel kalian ke sini." Katanya acuh tak acuh.
Setelah mengatakan itu dia berencana pergi tapi Ibu langsung memanggilnya buru-buru.
"Pak..pak, dengarkan kami dulu. Tolong katakan kepada Anggi bila bibi dan adik-adiknya datang ke sini untuk mencarinya. Katakan kepadanya bila kami ingin bertemu dengannya." Kata Ibu tidak bisa menutupi ekspresi panik di wajahnya.
Laki-laki kekar itu melirik Ibu dengan pandangan menghina. Jangan salahkan dia terlalu kejam karena dia bisa melihat bila ada tatapan serakah di mata wanita paruh baya ini.
"Nyonya Anggi mengatakan bahwa dia hanya memiliki orang tua yang lengkap, dan anak-anak yang masih bersekolah. Selain itu di tidak pernah mengatakan bila dia memiliki seorang bibi ataupun- ah, aku baru ingat. Dia memang mengatakan bila dia memiliki Paman dan Bibi."
Ibu menyalakan harapan di matanya lagi. Namun saat melihat foto pasangan paruh baya yang terpampang di ponsel laki-laki berotot itu dia langsung merasa malu dan marah karena telah dipermainkan. Pasangan paruh baya itu jelas foto Paman dan Bibi Anggi tapi dari pihak Ibu. Pasangan paruh baya yang begitu beruntung bisa tinggal di rumah Anggi dan membuat pasangan Bibi juga Paman dari pihak Ayah merasa sangat cemburu karena mereka tidak diperlakukan sebaik itu.
"Tapi mereka bukan Ibu. Jadi ibu lebih baik pulang ke rumah Ibu dan jangan mengganggu kehidupan nyonya Anggi lagi." Kata laki-laki bertubuh kekar itu mengusir mereka bertiga.
Ibu sama sekali tidak terima diusir oleh mereka laki-laki kekar itu. Selain karena harga dirinya, dia juga tidak mau diremehkan begitu saja jadi dia tetap bertahan di posisinya.
"Anggi adalah keponakan yang sudah ku anggap sebagai putriku sendiri. Jadi bagaimana mungkin aku tidak bisa melihatnya!" Kata Ibu tidak puas.
Dia lalu berteriak nyaring sekuat tenaga untuk memanggil Anggi dan agar Anggi mau keluar dari rumah itu. Dia yakin Anggi saat ini sedang bersembunyi di dalam sana tidak mau bertemu dengan mereka bertiga.
"Anggi, Anggi! Keluar, nak! Keluar dan temui Bibi serta adik-adik mu di sini!" Teriak Bibi nyaring dan mengganggu banyak orang.
Mereka melihat bibi horor, seolah-olah bibi ada limbah panas yang harus segera di enyah kan sebelum terjadi bencana.
"Jangan berteriak. Nyonya Anggi sedang keluar dan tidak bisa mendengar kalian. Bahkan kalaupun dia ada di sini, dia tidak akan pernah menemui kalian." Kata laki-laki kekar itu dingin.
Dia memiliki godaan ingin menumbangkan Ibu dan segera menendangnya pada saat ini. Namun dia masih memiliki hati nurani sehingga akal sehatnya terjaga.
"Alah, kamu bohong! Anggi pasti ada di dalam dan bersembunyi dari kami. Dia sekarang jadi orang kaya makanya enggak mau menemui kami lagi! Dia sudah sombong dan melupakan keluarganya!" Ibu sama sekali tidak takut dengan ekspresi datar laki-laki kekar itu.
Dia hanya memiliki satu pikiran saat ini yaitu berteriak dan berteriak hingga Anggi mau keluar dari rumah itu. Um, dia yakin bila Anggi saat ini sedang bersembunyi dari mereka bertiga. Jika tidak, dia sudah keluar dari tadi sejak dia berbicara dengan penjaga kejar ini.
"Ini adalah mansion Demian, kamu tidak diizinkan membuat keributan di sini." Beberapa penjaga langsung keluar karena tidak tahan lagi dengan kekacauan yang Ibu ciptakan.
Mereka tidak ingin membiarkan Ibu terus berteriak dan membuat Davin marah karena ketenangan nya diganggu.
"Kalau begitu panggil Anggi ke sini. Kami ingin bertemu dengannya." Kata Tina sambil menarik baju Ibunya agar jangan berteriak-teriak lagi.
Ibunya menurut. Dia menutup mulutnya sambil memandangi pasukan penjaga yang entah sejak kapan mulai berbaris di depan gerbang seolah sedang menghadapi musuh besar.
Melihat tampang garang mereka, dia memiliki sentuhan ketakutan di dalam hatinya.
"Apakah kamu tidak mengerti bahasa manusia? Nyonya Anggi sedang tidak ada di rumah. Dia pergi menemui pak Adit di kantornya! Adapun kamu dan anak-anak mu, jika kalian memang dikenali oleh nyonya Anggi maka kalian tidak perlu berteriak-teriak di sini seolah sedang memaksa buronan keluar. Dia pasti akan mencari kalian. Akan tetapi melihat sikap dan perilaku kalian bertiga yang tidak tahu malu, aku yakin kalian tidak dikenali oleh nyonya Anggi dan menggunakan kesempatan ini untuk memaksa nyonya Anggi untuk keluar menemui kalian." Satu persatu penjaga mulai berbicara dan mencemooh Ibu serta Tina dan Widia.
"Oh astaga. Aku baru ingat ada salah satu temanku yang bertugas di rumah nyonya Anggi. Pak Adit bilang dia ditugaskan di sana karena ada satu keluarga yang mengaku-ngaku sebagai keluarga nyonya Anggi dan menyusahkan nya. Mereka bahkan ingin memeras uang nyonya Anggi, tapi untungnya nyonya Anggi pintar dan tidak melayani mereka. Huh, ku dengar mereka memang keluarganya. Tapi saat nyonya Anggi kesusahan mereka menghilang seolah tak memiliki hubungan apa-apa. Namun begitu nyonya Anggi punya uang, mereka langsung berbaris menuju rumah nyonya Anggi untuk mengakui hubungan kekerabatan. Sungguh memalukan. Wajah seperti ini sungguh tidak layak untuk dijadikan keluarga. Pantas saja nyonya Anggi hanya mengakui sedikit orang sebagai keluarganya. Ternyata bukan karena keluarganya yang sedikit tapi karena hanya sedikit orang yang benar-benar tulus kepadanya."
Wajah Ibu langsung memerah karena malu dan marah. Dia mengepalkan kedua tangannya ingin membantah semua yang mereka katakan. Tapi melihat sikap mencemooh mereka, keberaniannya segera menguap. Dia tidak berani melakukan apapun dan hanya bisa diam di tempat mendengarkan kata-kata cemoohan.
"Bu, ayo pulang." Kata Widia sedih.
Tidak lagi. Dia berjanji untuk tidak lagi mengganggu Anggi.
Dia sudah cukup dipermalukan oleh banyak orang seolah-olah dia tidak memiliki harga diri untuk bertatapan dengan orang lain.
"Tidak. Kita harus bertemu dengan kak Anggi." Tina tidak mau pulang.
"Pulanglah, Bu. Kita sudah dipermalukan sedemikian rupa oleh mereka. Dimana lagi harga diri kita di sini? Apa Ibu pikir Kak Anggi akan mau bertemu dengan kita bila kita terus menerus diam di sini? Bu, kak Anggi gak akan pernah melakukan itu semua. Dia sudah tidak mau memiliki hubungan apapun lagi dengan kita sekalipun kita menekan dan memaksanya untuk mengakui hubungan kekerabatan. Ingat, Bu. Semua ini berawal dari kita maka kita harus sadar diri. Selain itu orang-orang di sini juga memandang rendah kita bertiga. Mereka melihat kita seperti sepotong badut yang harus segera diusir. Apa ibu tidak merasa cukup dengan semua ini? Apa ibu tidak merasa lelah dengan semua ini? Bu, apa yang ayah bilang. Kita sudah tidak punya harga diri lagi bila terus menerus seperti ini. Jadi lupakan semua ini dan pulang saja ke rumah." Bujuk Widia dengan mata merah di wajahnya.
Dia benar-benar akan menangis bila Ibu tidak mau mendengarkannya.
Entahlah. Dia sudah lelah begini terus. Dan dia juga tidak bisa begini terus. Dipandang rendah dan dicemooh, Widia menginginkan kehidupan mereka yang damai dulu kembali.
"Tapi kita belum bertemu kak Anggi..." Kata Tina keras kepala. Dia kukuh tetap ingin di sini sampai Anggi kembali.
Sedangkan ibu sendiri...dia mengingat bagaimana tatapan lelah suaminya dan mata merah Widia. Menghela nafas lembut.
Dia kemudian menarik tangan Tina dan Widia agar ikut bersamanya pulang ke rumah.
"Bu... bu...kita masih-"
"Diam lah! Ayo pulang dan berhenti memikirkan soal wanita sombong itu. Dia mungkin sudah tidak ingin memiliki urusan apapun lagi dengan kita." Potong ibu membuat keputusan.
"Tapi Bu-"
"Sudah cukup. Ayo pulang sebelum ayah kalian mengetahui ada sesuatu yang salah hari ini."