
"Aku tidak bermaksud untuk meneriaki mas Adit. Tapi aku memang mau dan bersedia, mas. Aku mau ikut mas Adit keluar kota lagi bila ada kesempatan." Kataku malu.
Aku menjelaskannya dengan hati-hati dan saat berbicara pun aku sengaja menggunakan nada suara rendah agar tidak membuatnya terkejut lagi.
Namun tiba-tiba dia tertawa di sampingku. Tawanya tidak besar tapi sangat hidup di dalam pendengaran ku. Bingung, aku memberanikan diri mengangkat kepala ku untuk melihatnya. Mas Adit memang sedang tertawa, bahu lebarnya tampak bergetar karena tawanya. Membuatku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang lucu sampai-sampai membuatnya tertawa selepas ini?
"Ke-kenapa, mas?" Tanyaku ragu ketika tawanya mulai mereda.
Dia melirikku sekilas dan tertawa lagi, aneh, apakah ada sesuatu yang salah dengan wajahku?
Aku menyentuh wajahku, tidak ada apa-apa yang mencurigakan. Tapi aku masih belum yakin jadi aku mengambil cermin mini dari dalam tasku. Di dalam cermin aku melihat dan memperhatikan dengan serius bila wajahku baik-baik saja. Tidak ada noda lipstik atau make up lainnya yang ku takutkan. Semuanya baik-baik saja. Namun mengapa mas Adit masih betah tertawa?
"Rambutku bermasalah ya, mas?" Jika wajahku tidak bermasalah maka mungkin rambutku lah sumber tawanya.
Jadi terjebak dalam rasa malu dan ketakutan, aku dengan ragu bertanya kepadanya.
"Tidak, tidak ada yang salah dengan rambutmu. Hanya saja..."
Oh, maka syukur lah bila rambutku baik-baik saja! Semuanya baik-baik saja, tapi,
"Hanya saja apa, mas?" Aku sangat gugup.
Kenapa mas Adit masih menggantung ku?
Dia melirikku sambil berkata,"Hanya saja malam ini kamu sangat lucu. Apakah ada yang pernah memberi tahu mu bila tingkah mu seperti gadis remaja 18 tahun?" Tanyanya sebelum kembali memperhatikan jalan di depan.
Oh, jadi ini bukan sesuatu yang sangat buruk?
Apa yang mas Adit tanyakan memiliki maksud yang baik kan?
"Aku...jauh dari gadis remaja 18 tahun, mas. Aku hampir saja berkepala tiga dalam dua tahun ini. Jadi mana mungkin aku bisa disamakan dengan seorang remaja?"
Aku seorang janda dua anak, garis-garis seorang Ibu yang telah meninggalkan jejak di dalam diriku tidak akan pernah bisa ditutupi sekalipun aku berusaha tampil cantik dengan gaun indah make up yang cantik. Ini adalah fakta yang tidak bisa disembunyikan.
"Namun di mataku kamu adalah seorang remaja 18 tahun. Kamu memiliki kesamaan dengan nyonya Rein. Kalian sama-sama tidak sadar umur." Kata mas Adit mungkin ingin menghiburku.
Aku menggelengkan kepalaku tidak berdaya. Apapun yang mas Adit katakan selama itu membuatnya tersenyum atau tertawa, aku tidak akan pernah mempermasalahkannya karena itu akan selalu berarti hal baik untukku.
Setengah jam di dalam perjalanan kami akhirnya sampai di depan mansion Demian, rasanya begitu singkat dan cepat, sejujurnya aku tidak rela berpisah dari mas Adit. Waktu-waktu yang ku lewati bersamanya terlalu berharga dan penting di dalam hatiku. Aku mungkin tidak akan rela melupakannya.
"Mas Adit hati-hati di jalan." Aku turun dari mobilnya.
Mas Adit juga ikut turun dari mobilnya. Dia malah menyerahkan kunci mobilnya kepada penjaga yang bertugas, anehnya.
"Selamat malam, Pak." Penjaga gerbang mendekati kami.
"Malam. Tolong urus mobilku." Katanya sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Ah, apa dia akan tinggal di sini malam ini?
"Siap, Pak." Penjaga mobil itu lalu bergegas masuk ke dalam mobil mas Adit.
Mas Adit buru-buru mengingatkannya bila barang-barang kami masih di dalam. Setelah membuat pengaturan tertentu, mas Adit mengambil barang-barang ku dari bagasi mobil beserta barangnya yang tidak terlalu banyak. Milikku jelas lebih banyak darinya maka dari itu aku langsung menghentikannya membawa barang ku.
"Mas biar aku saja." Tanganku terulur ingin mengambil koper dan beberapa tas belanjaan ku dari kota D.
Tapi mas Adit malah menggeser koperku dan justru memberikan ku kopernya. Aku terbengong, agak lambat berpikir apa yang dimaksud mas Adit dengan memberikan ku kopernya.
"Koperku lebih kecil, kamu bisa membawanya." Katanya dengan ekspresi datar di wajahnya.
Ugh, malu, aku dengan ragu-ragu menarik kopernya ke sisiku sebab aku tidak bisa menolak melihat betapa khusyuk wajah datarnya.
"Lain kali jangan coba berebut barang denganku lagi. Aku ini laki-laki, dengan tindakan kamu tadi secara tidak langsung kamu telah meremehkan kekuatan ku sebagai laki-laki." Belum selesai aku memproses kata-kata sebelumnya, mas Adit kembali berbicara kepadaku.
Mendengar apa yang dia katakan aku tidak bisa tidak merasa malu! Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu!
Aku hanya merasa tidak enak merepotkan nya terus menerus karena dia sudah menyetir mobil selama berjam-jam lamanya. Perjalanan kami tidak dekat jadi aku tahu betapa lelahnya mas Adit selama di perjalanan. Di samping itu mas Adit juga pasti capek bekerja keras selama beberapa hari ini karena itulah aku tidak tega menambah bebannya.
Yah, meskipun dia seorang laki-laki tapi laki-laki kan juga manusia. Mereka juga bisa merasa lelah dan sakit, mereka punya batasan untuk jangkauan tubuh masing-masing. Aku sungguh hanya berpikir begitu.
"Aku... tidak bermaksud begitu, mas. Aku tahu mas Adit capek nyetir dari kota D jadi aku enggak mau merepotkan mas Adit lagi." Kataku menjelaskan.
"Aku hanya mengangkat koper dan barang-barang ringan, bukan mengangkut rumah. Jadi tidak usah dipikirkan." Kata mas Adit seraya berjalan meninggalkan ku.
Oh, astaga ini sangat memalukan. Aku buru-buru berlari menyusulnya. Kaki mas Adit jenjang jadi langkahnya besar dan cepat jadi mau tidak mau aku harus berlari kecil untuk mengejarnya.
"Lambat." Ejeknya tidak menghina.
Wajahku memerah dan aku tidak mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Lagipula apa yang mas Adit katakan memang benar. Aku sangat lambat tapi menurutku untuk ukuran perempuan ini sudah cepat. Dianya saja yang kecepatan!
Oh iya, ada peraturan penting di dalam mansion Demian dan siapapun yang melanggarnya pasti akan dikeluarkan tanpa pandang bulu. Yaitu perempuan manapun tidak diizinkan menggunakan hak tinggi selama berada di mansion Demian. Sebab tuan Davin sangat membenci keributan dan mungkin punya kebencian terhadap suara hak tinggi. Karena pernah ada kejadian seorang pengurus rumah berjalan hilir mudik di dalam mansion dengan hak tinggi. Saat itu tuan Davin kebetulan ada di mansion bersama nyonya Rein. Tuan Davin sengaja tidak ke kantor karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan nyonya Rein dan anak-anak. Tuan Davin sangat terganggu dengan suara hak tinggi perempuan itu karena menurutnya hak tinggi perempuan itu terdengar sangat berisik. Padahal menurut kami para perempuan suaranya tidak terlalu besar tapi masih membuat tuan Davin terganggu. Alhasil perempuan itu langsung dipecat tanpa mendapatkan kesempatan atau pembelaan apapun. Dan sejak itu tidak ada yang berani menggunakan hak tinggi di dalam rumah. Kami semua menggunakan sepatu pelayan khas milik mansion Demian. Namun peraturan ini tidak berlaku untuk nyonya Rein. Dengar-dengar tuan Davin sangat senang melihatnya menggunakan hak tinggi dan bahkan pernah memborong satu toko merk hak tinggi branded yang sangat menguras kantong. Semua orang shock sekaligus cemburu karena perlakuan tuan Davin kepada nyonya Rein sangat berbeda. Tentu saja, sahabatku itu istimewa di dalam hati tuan Davin dan karena dia istimewa, tuan Davin memperlakukannya dengan istimewa pula. Sahabatku sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang!
Nah, karena tidak diizinkan menggunakan sepatu hak tinggi. Sebelum keluar dari hotel aku mengganti sepatu hak tinggi ku dengan sepatu biasa.
"Selamat malam mbak Anggi dan pak Adit." Sapa seorang pelayan yang sepertinya baru saja selesai bekerja dan bersiap kembali ke asrama mereka di samping mansion.
"Selamat malam. Kamu sudah beres bekerja?" Tanyaku basa basi.
Dia mengangguk sopan,"Sudah, mbak. Saya baru saja mau kembali ke asrama."
Aku melambaikan tanganku kepadanya meminta pelayan itu untuk segera pergi.
"Pergilah. Kamu harus beristirahat."
Setelah pelayan itu pergi aku melihat mas Adit yang masih memiliki ekspresi datar di wajahnya.
"Mas Adit tinggal di kamar biasa?"
Di mansion ini mas Adit memiliki sebuah kamar pribadi yang khusus disediakan oleh tuan Davin untuknya. Kamarnya terbilang sulit dimasuki karena mas Adit adalah orang penting tuan Davin sehingga ada banyak rahasia yang dipegang oleh mas Adit. Jadi kamarnya tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang.
Dan seringkali mas Adit akan menginap di mansion bila memiliki urusan penting dengan tuan Davin yang mendesak dan harus segera diselesaikan.
"Hem, di kamar biasa."
Dia sepertinya terlihat kelelahan.
Soalnya mas Adit keliatan capek banget dan butuh istirahat jadi aku memberanikan diri untuk menawarkan sebuah bantuan.
"Tidak perlu." Dia menolak ku.
Meskipun begitu aku masih merasa kecewa.
"Jika kamu memaksa, cukup buatkan aku segelas tes hangat saja."
Aku tidak pernah memaksanya,"..." Mas Adit terkadang membuatku sangat jengkel.
Tapi dia sangat lucu dan imut bila seperti ini!
"Boleh, aku akan membuatkan mas setelah menaruh barang-barang ku di kamar." Kataku sangat senang tapi masih berusaha menghandle euforia bahagia di dalam hatiku.
"Biar ku antar kan."
Mas Adit kemudian memimpin jalan ke kamarku yang ada di lantai satu. Begitu sampai di depan pintu kamarku, dia berhenti dan memintaku untuk membuka pintu.
"Sebentar, mas."
Tanganku lalu terulur menekan sidik jari di samping pintu, lalu terdengar suara 'klik', pintu kamarku pun tidak terkunci lagi. Mas Adit mendorong pintu ku dan masuk ke dalam kamar. Dia menaruh koper dan barang-barang ku yang lain di samping ranjang. Setelah itu dia mengambil kopernya dariku, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung keluar dari kamarku.
Melihatnya pergi aku langsung menutup pintu kamar. Mengambil piyama dari dalam setelah itu aku masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air hangat. Mandi ku bisa dibilang kilat karena aku sudah tidak sabar ingin membuatkan mas Adit secangkir teh hangat. Takutnya jika aku terlalu lama mas Adit berpikir bila aku tidak jadi membuatkannya teh.
15 menit setelah keluar dari kamar mandi aku mengikat rambut panjang ku seperti biasa, mengambil pelembab bibir agar bibirku tidak terlalu pucat dan kering, aku kemudian keluar ke dapur. Di dapur aku memanaskan air, menyiapkan teh hijau yang paling sering mas Adit minum dan segera menyeduhnya tanpa gula.
Tok
Tok
Tok
Aku mengetuk pintu kamar mas Adit.
Tidak lama kemudian pintu kamar mas Adit terbuka. Dia tampaknya baru saja selesai mandi karena masih menggunakan baju mandi dan dari tubuhnya samar aku bisa melihat uap air hangat. Menyebarkan wangi sabun mandi ke puncak hidung ku untuk dihirup dan dinikmati. Hem, aku memiliki ilusi seperti sedang meminum segelas alkohol berkadar tinggi karena wanginya sangat memabukkan.
"Anggi? Anggi?!" Dia memanggilku berulang kali.
Segera aku tersadar dari lamunan ku.
Aku menjawab gelagapan,"Iya...iya, mas?"
"Apa sih yang kamu pikirkan, aku panggil-panggil kok gak jawab jawab?" Tanyanya heran.
Aku juga heran dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya masih melamun di depan mas Adit. Mau taruh dimana mukaku bila mas Adit tahu apa yang sedang diputar di dalam kepala ku saat ini.
"Aku enggak mikirin apa-apa, mas." Aku jelas berbohong tapi aku masih berharap dia mempercayai kebohongan ku.
"Hem, masuklah." Mas Adit menggeser tubuhnya ke samping, memintaku masuk ke dalam kamarnya.
Ini sungguh tidak terduga. Aku pikir hanya bisa mengantarkan minuman ini sampai ke depan pintu tapi sepertinya aku terlalu tidak percaya diri karena mas Adit memintaku masuk ke dalam kamarnya!
Aku?
Aku diizinkan masuk ke dalam kamarnya, ya Tuhan!
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Haruskah aku masuk ke dalam kamarnya - apa sih yang aku tanyakan! Jelas-jelas aku juga ingin masuk ke dalam kamarnya!
"Kenapa kamu bengong lagi?"
"Oh.." Aku sangat malu karena kedapatan dua kali bengong di depan mas Adit.
Tapi reaksiku harusnya wajar, kan? Karena aku masih tidak mempercayai keberuntungan hari ini bila akan ada hari dimana aku bisa masuk ke dalam kamar mas Adit!
Aku sangat beruntung.
"Apa aku boleh masuk?" Tanyaku ragu.
"Masuklah. Jangan takut, aku tidak akan memperkosa mu." Katanya datar.
Astaga aku hampir saja jantungan mendengarnya!
Aku tidak segila itu! Semua orang tahu betapa pembersihnya mas Adit jadi bagaimana mungkin dia mau menyentuh janda beranak dua dengan aib memalukan di dalam diriku?!
Daripada memilih ku mas Adit mungkin lebih suka wanita yang masih fresh dan baik!
Dan aku tidak masuk ke dalam kategori itu.
"Tidak...tidak, mas. Aku tidak berpikir seperti itu. Kalau begitu aku izin masuk."
Sebelum mas Adit berbicara lagi, aku buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Menaruh air teh hangat di atas nakas samping ranjang tidurnya dan bersiap akan pergi. Tapi sebelum aku pamit kembali ke kamarku mas Adit memintaku untuk menunggu.
"Tunggu di sini." Perintahnya.
Dia mengambil pakaian dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara menunggu mas Adit selesai berganti baju, aku berdiri di tempat sambil memandangi dan memperhatikan kamar mas Adit. Seperti di hotel kamar mas Adit sangat rapi dan nyaman. Semuanya tersusun rapi, mulai dari buku-buku tebal di rak buku, sepatu-sepatu bermerek di rak sepatu dan tumpukan dokumen di atas meja kerja samping jendela kamar. Dan yang paling mencolok adalah kamar mas Adit dipenuhi oleh wangi sabun yang ku cium tadi. Wanginya sangat harum dan menyegarkan, membuatku lagi-lagi merasa mabuk setiap kali menciumnya.
"Duduklah, kamu sangat betah berdiri."
Aku kaget dan sontak menoleh ke kamar mandi. Mas Adit keluar dari kamar mandi dengan sebuah piyama tidur berwarna gelap yang tampak sangat cocok dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Tidak apa-apa, mas." Kataku malu.
"Apa kamu lelah?" Dia duduk pinggir ranjang.
Aku lelah tapi masih bisa dibawa santai,"Aku baik-baik saja, mas."
Dia lalu menggerakkan lehernya yang kaku, tangan kanannya memijat pundak kirinya terlihat sangat kelelahan. Aku kasihan dan memutuskan untuk menawarkan bantuan sekali lagi. Duduk di sampingnya dengan ragu dan malu, aku nekat bertanya,"Apa aku boleh memijat mas Adit?" Kataku malu-malu.
"Pijatan ku memang tidak sebaik orang yang sudah profesional tapi Ibu bilang rasanya nyaman." Aku menjelaskan dengan hati-hati bila tanganku masih bisa diandalkan walaupun tidak seenak yang dilakukan para profesional.