My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
121. Milikku Rumahku



Rain masuk ke dalam dapur membuat sarapan setelah menyapa anak-anak dan mempersilakan Adit menunggu Davin di ruang tamu. Sarapan yang ia buat sebenarnya sudah Rein siapkan sejak tadi malam. Dia membuat bubur suwir ayam, makanan yang disukai oleh semua orang di rumah ini. Jadi dia hanya memanaskannya saja sebentar dan menyajikannya di atas meja makan.


Ia menyiapkan 5 porsi dengan toping yang sangat melimpah karena Adit juga akan ikut bergabung sarapan bersama mereka.


"Mom, Aska lapar~" Rengekan manja Aska menarik Rein dari fokusnya.


Rein melepaskan sendok makan dan mengusap tangannya di lain celemek sebelum menunduk untuk menjangkau puncak kepala Aska.


"Aska gak mau nunggu Daddy keluar dulu baru makan?" Tanya Rein dengan nada hangat keibuan yang tidak sengaja ia pancarkan.


Aska sangat nyaman dengan perhatian Rein. Dari sorot mata kekanak-kanakan di wajahnya, Aska jelas sangat merindukan perhatian lembut Rein. Dia telah lama membutuhkan sosok Ibu yang tidak pernah hadir di dalam hidupnya selama ini. Aneh memang, seharusnya Aska bersikap canggung di depan Rein sekalipun ia telah mengenal Rein dari foto yang Davin tunjukkan. Tapi hebatnya kecanggungan itu tidak pernah terselip di antara mereka. Aska sangat menyukai Rein dalam sekali pandang, ia langsung menempeli Rein begitu bertemu dan secara alami bersikap manja sama seperti Tio.


Ekspresi wajah Aska agak sembelit, ia menyentuh perutnya sambil menimbang sebuah keputusan.


"Aska lapar tapi Aska gak mau makan kalau gak sama Daddy." Kata Aska pada akhirnya.


Rein tersenyum lembut. Ia mengusak ringan rambut Aska sebelum mengirimnya ke meja makan dan mulai melanjutkan kembali kegiatannya membuat dua gelas susu hangat.


"Tuan muda pertama sangat menyukai mu, Nyonya." Kata Adit dengan wajah datarnya yang menggelitik.


Rein bertanya-tanya, apakah ada gadis yang mau mendekati Adit melihat temperamennya yang sangat dingin dan acuh tak acuh. Ugh, Rein pribadi sendiri jika tidak pernah mengenal Adit maka mungkin akan sangat takut mendekatinya.


"Aku senang mendengarnya. Dia adalah anak yang cerdas dan penurut, tidak seperti Kakaknya yang tidak patuh." Sahut Rein tanpa mengangkat kepalanya berbicara dengan Adit.


Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah garis senyuman yang sangat cantik. Yah, seperti Davin, pesona lembut Rein bahkan berpengaruh untuk Aska.


"Dia hanya patuh kepadamu, Nyonya. Begitupula dengan bos, dia hanya patuh mendengarkan mu saja." Kata Adit masih dengan ekspresi datarnya.


Rein tersanjung mendengarnya. Di dalam hidupnya ini dia tidak pernah bermimpi mendapatkan kekasih sehebat dan setampan Davin mengingat ia tidak seperti wanita pada umumnya. Dan dia juga tidak pernah bermimpi akan dianugerahi anak-anak sepatuh dan secerdas Tio maupun Aska, dia tidak memiliki harapan setinggi itu.


Tapi Tuhan nyatanya tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, Tuhan selalu punya skenario terindah untuk menyentuh titik rasa syukur hamba-Nya. Dan Rein adalah salah satu hamba tersebut.


"Aku tahu bila kamu tahu Aska diam-diam masuk ke dalam mobilmu dan aku juga tahu bila kamu sengaja membawa Aska ke rumah ini, aku sungguh berterimakasih untuk semua ketidaksengajaan yang kamu buat." Rein berbicara santai, mengungkapkan kedok kepura-puraan Adit yang sudah beberapa hari tidak ada di sini semenjak Aska datang.


Rein tidak bodoh untuk tidak bisa menebak rencana Adit, karena hei, Adit adalah orang pribadi Davin yang terlatih. Masalah sekecil ini tidak akan pernah luput dari perhitungannya, jadi akan sangat aneh bila Adit tidak mengetahui tindakan Aska.


Adit tidak mengelak,"Setiap kali aku melihat wajah muram tuan muda pertama bersama pengasuh, aku akan selalu teringat dengan tuan muda kedua yang ingin bertemu dengan bos Davin. Seperti tuan muda pertama, dia pasti akan menatap iri pada anak-anak di sekelilingnya yang memiliki orang tua lengkap. Jadi hari itu aku memutuskan untuk membawa tuan muda pertama datang ke sini agar dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang juga dirasakan oleh tuan muda kedua."


Rein tertegun. Gerakan tangannya yang sedang mengaduk air susu hangat berhenti. Rein seketika jatuh termenung dalam jejak masa lalu. Aska tidak mirip seperti Tio tapi Aska lebih mirip dengan kehidupan Rein sendiri.


Rein kecil sering menatap cemburu teman-teman di sekolahnya. Ketika bel pulang berbunyi, para orang tua akan berbaris menjemput anak masing-masing tapi Rein tidak mendapatkannya karena dia tidak punya orang tua.


Dia hanya memiliki pengasuh tapi pengasuh tidak bisa mengurusnya selama berjam-jam karena masih ada banyak anak-anak yang membutuhkan perawatan pengasuh.


Haah...


"Terima kasih, sekarang dia ada sini bersama aku dan Davin, kami akan merawatnya dengan baik sehingga dia tidak lagi menatap cemburu anak-anak di sekelilingnya karena sekarang ia sudah memiliki orang tua yang lengkap." Ucap Rein dengan senyuman lembut yang lagi-lagi terbentuk di wajah cantiknya.


Dia terlalu larut dalam pikirannya sehingga tidak menyadari bila ada kehadiran orang ketiga di dalam dapur.


Orang ketiga tersebut masuk dengan ekspresi cemberut, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Rein dan memeluknya posesif di depan Adit.


Bulu mata Adit bergetar ringan, ia memiliki keinginan untuk meneriaki Davin sebagai laki-laki dewasa bersikap kekanak-kanakan. Tapi ia tidak bisa melakukannya karena Davin masihlah bosnya.


Maka, tanpa mengatakan apapun ia segera mundur dari bidang penglihatan mereka berdua dan keluar untuk menyusul anak-anak di meja makan.


Ugh, dia semalam begadang semalaman dan tidak sempat untuk makan apapun! Dia sangat kelaparan tapi Davin sangat kejam kepadanya.


"Davin, kamu membuat ku takut! Tidak bisakah kamu melakukannya di saat tidak ada Adit di sini?" Gerutu Rein kesal tapi tidak melepaskan tangan Davin dari perutnya.


Davin tersenyum nakal,"Ini rumahku dan kamu adalah milikku jadi kenapa aku harus malu bertindak intim di dalam rumahku sendiri?"


Rein memutar bola matanya,"Ya, ini rumahmu, tapi-"


"Dan kamu milikku." Davin menambahkan lagi.


Rein menghela nafas panjang,"Tapi masih ada Adit di sini." Kata Rein melanjutkan ucapannya.


"Memangnya kenapa? Dia adalah orang-orang kita, lagipula Adit bukanlah orang yang seperti itu. Dia segera pergi setelah melihat kita berduaan, bukankah dia sangat pengertian?"


Rein memutar bola matanya jengah,"Terserah kamu saja." Dia menyerah berdebat dengan Davin.


Toh, Davin masihlah seorang laki-laki, dia pandai membuat alasan untuk memenangkan perdebatan.


"Rein, hari ini aku akan kembali terbang ke negara A." Kata Davin tiba-tiba.