My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
31. (31)



Mas Adit mengizinkan ku pergi ke kantornya. Aku sangat senang, ya Tuhan! Aku tidak menyangka bila mas Adit akan membolehkan ku datang semudah itu.


Tanganku mengepal karena bahagia, bila kami tidak sedang berbicara saat ini mungkin aku telah melemparkan diriku ke atas kasur, loncat-loncat sesuka hati dan berteriak karena kamarku punya kedap suara, tapi saat ini aku masih telponan dengan mas Adit jadi euforia di dalam hatiku harus ditekan terlebih dahulu.


"Iya, mas...aku akan meminta izin kepada nyonya Rein besok pagi." Nyonya Rein pasti akan memberikan ku izin!


"Em, ini sudah larut malam. Apakah mas Adit tidak beristirahat?" Tanyaku enggan.


Aku tidak ingin berpisah dari mas Adit karena baru saja mendengar suaranya setelah 3 minggu lebih berpisah. Tapi aku juga tidak tega membiarkan mas Adit begadang dan melayaniku berbicara disaat dia sendiri tidak istirahat. Mas Adit sendiri pernah bilang dia bekerja sangat larut dan suka lembur beberapa waktu ini, bisa dibayangkan betapa sibuknya mas Adit dan betapa tertekan tubuhnya.


"Yah...aku sangat lelah. Malam ini aku akan tinggal di kantor." Suara mas Adit memang agak lemah dari biasanya.


Dia mungkin sangat mengantuk sekarang.


"Kalau begitu aku tidak akan mengganggu mas Adit. Aku sudah cukup mendengar kabar dari mas Adit." Kataku berbohong.


Tidak cukup tapi aku tidak boleh egois sebab mas Adit harus memenuhi kebutuhan tubuhnya.


"Sejujurnya aku masih belum...tapi badanku pegal-pegal karena terlalu lama duduk. Aku juga sudah mulai mengantuk..jadi..." Mas Adit tidak melanjutkan lagi ucapannya.


Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya karena adegan ini sering sekali terlihat di sinetron atau di drama Korea saat sang protagonis tiba-tiba mengalami kecelakaan.


"Mas? Mas Adit?" Panggil ku gugup.


Aku langsung lega saat mendengar suaranya lagi. Aku merasa bersalah karena mengganggu waktu tidurnya.


"Mas Adit lebih baik tidur di kamar saja biar badannya enggak sakit besok." Aku sering mendengar nyonya Rein mengeluhkan tuan Davin ketika sedang sibuk bekerja di dalam ruang kerjanya.


Tuan Davin jarang pergi ke kantor. Dia lebih suka bekerja di mansion agar bisa menemani nyonya Rein. Atau aku mungkin lebih yakin jika tuan Davin lah yang tidak ingin jauh-jauh dari nyonya Rein. Meskipun dia bekerja di rumah, tapi kebiasannya yang suka tertidur di atas meja tidak bisa dihindari. Nyonya Rein kesal karena dia mengkhawatirkan kesehatan tuan Davin mengalami masalah jika pola hidupnya tidak segera dirubah. Dan benar saja, bila tuan Davin pergi bekerja di ruang kerjanya, nyonya Rein mengancam akan pergi mencari Dimas jika tuan Davin tidur lagi di atas meja kerjanya. Tuan Davin sangat marah tapi dia juga mengerti mengapa nyonya Rein berkata seperti itu. Jadi setelah mendapatkan ancaman itu dia tidak lagi bekerja hingga larut malam. Tepat pukul 9 malam, tuan akan keluar dari ruang kerjanya dan bergegas mencari nyonya Rein di kamar mereka.


Pasangan itu sangat lucu dan menggemaskan, aku terkadang tertawa sendiri melihat interaksi mereka berdua.


"Hem..." Dari seberang sana ku dengar suara mas Adit menggaet benda-benda.


Mungkin dia menggeser kursi kerjanya dan masuk ke dalam kamar di kantornya.


Beberapa menit kemudian suara berderit kembali masuk ke dalam telingaku. Suara berderit ini tidak asing karena aku juga sering mendengarnya saat melompat-lompat di atas kasur.


"Mas Adit?" Aku memanggilnya karena tidak mendengar suaranya lagi.


Dia sepertinya sudah tertidur.


"Selamat malam, mas Adit, dan mimpi indah." Bisik ku sebelum mematikan telepon.