My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
44. (44)



Niko menggeser berkas-berkas di atas mejanya. Sesekali kepalanya akan melirik ke arah pintu masuk ruang kantor tatkala telinganya menangkap suara tawa Adit. Ini adalah fenomena yang sangat langka. Selama menjabat sebagai asisten pribadi Adit, tak pernah sekalipun dia mendengar suara tawa Adit atau melihatnya tertawa. Malah bagi Niko sendiri Adit adalah bos galak dengan minim ekspresi. Dia berkulit dingin, memiliki sorot mata yang tajam dan tidak punya perasaan. Terbukti dari pengalamannya selama ini saat melihat Adit menghadapi banyak wanita.


Sangat disayangkan pikirnya. Sebab wanita yang mendekati Adit rata-rata memiliki karir yang bagus dan berasal dari keluarga yang baik. Mereka juga memiliki paras yang cantik dengan pesona yang sulit ditolak kaum pria, terutama Niko sendiri.


Tapi Adit bahkan tidak memandang mereka dan menolak hubungan baik yang ingin dijalin oleh para wanita. Padahal perasaan mereka kepada Adit sungguh tidak main-main, mereka tampak tulus ingin bersama dengan Adit. Ini terbukti dari beberapa wanita yang meminta orang tua atau kerabat lainnya untuk datang menemui Adit.


Mungkin saja pembicaraan dewasa dari para orang tua dapat membuka pintu hati Adit. Tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi. Adit masihlah Adit. Tidak berperasaan dan suka bersikap acuh tak acuh.


Karena masalah ini Niko sering bertanya-tanya apakah Adit akan melajang seumur hidupnya?


Atau apakah dia sudah memiliki calon tapi diam-diam disembunyikan? Akan tetapi kemungkinan ini sepertinya tidak benar.


Sampai akhirnya Niko melihat Adit menggandeng tangan seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan kantornya. Wanita itu memang cantik, tapi tidak semenarik para wanita yang mengejar Adit.


Pada saat itu dia sangat terkejut karena wanita itu tiada lain dan tiada bukan adalah asisten pribadi Rein Xia, nyonya besar keluarga Demian. Niko sungguh tidak menyangka bila wanita yang berhasil menarik perhatian Adit adalah Anggi. Dan awalnya dia ingin membantah dugaan tersebut sampai akhirnya dia mendengar suara gelak tawa Adit yang terus menerus bergema dari dalam ruangannya.


Ino sangat mengejutkan, bohong bila Niko tidak merasa bahagia dengan kehidupan atasannya. Sebab akhirnya sang atasan memiliki pujaan hati dan tidak akan melajang pula. Dia juga berharap dengan keberadaan Anggi, atasannya dapat mencairkan kebekuan di wajahnya. Bersikap santai seperti Davin Demian, sang CEO yang sudah 3 minggu tidak datang ke kantor.


"Mas Niko kenapa kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Dina heran.


Saat dia keluar dari lift, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tersenyum Niko. Pemandangan ini agak kontras karena Niko tersenyum di saat sedang menghadapi segunung berkas penting.


Apakah bekerja keras semenyenangkan ini? Heran Dina.


"Aku tiba-tiba ngeliat sinar mentari hehehe.." Jawab Niko asal.


Dina mengangkat bahunya tidak perduli dan langsung duduk di kursinya. Dia awalnya mulai fokus memilah berjas dari komputernya sampai dia mendengar suara tawa Adit bergema di dalam ruangan.


Dina mengernyit tidak senang ketika memikirkan penyebab tawa renyah Adit adalah karena Anggi, wanita yang selama ini diwanti-wanti oleh Adit selama ini.


"Apa wanita itu ada di dalam kantor pak Adit?" Tanya Dina kepada Niko.


Niko menganggukkan kepalanya tanpa mengangkat kepalanya untuk melihat Dina. Sehingga dia tidak menyadari bila ada sesuatu yang salah dengan ekspresi sembelit Dina.