My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
50. Cemburu?



"Aku hampir saja melupakan hal yang sangat penting." Tangannya mengambil file yang Lisa tinggalkan di atas meja.


Davin membuka singkat setiap file karena hal pertama yang ia cari adalah foto asli dari pemilik biodata.


"Jadi dia memang Dimas teman kelas Rein di SMA." Davin membuang dua file yang tidak berguna setelah menemukan apa yang ia cari.


"Dimas Putra," Davin membawa file biodata lengkap Dimas berdiri di depan dinding kaca kantornya.


"Tinggal di apartemen jalan xx...no.xx?" Matanya terlihat bingung.


"Apakah mereka tinggal di tempat yang sama?" Tanya Davin datar entah kepada siapa.


Davin mengatupkan mulutnya dalam suasana hati yang buruk. Membawa langkah beratnya kembali ke kursi kebesarannya. Dia duduk, tanpa melepaskan file biodata lengkap Dimas, dia menggunakan tangan yang satu untuk membuka email. Menjelajahi laman email pribadinya dan membuka label berbintang yang hanya menyimpan satu alamat berkas saja.


"Oh, jadi kalian memang tinggal bersama." Davin tersenyum dingin.


"Aku tidak perduli dengan hubungan kalian berdua tapi Tio...aku percaya dia tidak ada hubungannya dengan Dimas."


"****!" Dia menyentuh keningnya terlihat sangat kesal.


File biodata lengkap Dimas dia lempar ke lantai dengan kasar. Belum hilang kekesalannya, Davin melemparkan semua barang-barang yang ada di atas mejanya. Entah itu berkas-berkas penting atau tidak, semuanya sama sekali tidak berguna saat ini.


Kantor Davin kembali berantakan. Ruangan yang tadi siang Rein bersihkan dengan susah payah kembali berantakan. Meskipun tidak ada noda kopi tapi pecahan kaca dari asbak rokok ada dimana-mana.


Ini adalah pemandangan yang sangat menarik.


Tok


Tok


Tok


"Pak, apa Anda baik-baik saja?" Suara Lisa khawatir dari luar.


Ruangan Davin memang kedap suara tapi jika dia menghidupkan fungsinya. Jika tidak maka suara keras apapun bisa Lisa dengarkan dari luar. Contohnya seperti saat ini. Lisa tiba-tiba mendengarkan suara pecahan kaca dari ruangan Davin. Tidak hanya itu saja, ia juga mendengar suara benda-benda lainnya dilempar dengan keras. Seolah-olah Davin di dalam sangat marah dan melampiaskan kemarahannya dengan menggunakan tindakan kasar seperti ini.


Davin terdiam, matanya fokus memandangi barang-barang berantakan di lantai. Dia terlihat memikirkan sesuatu, melihat waktu di jam tangannya singkat, beberapa detik kemudian dia tersenyum aneh.


"Oh, aku tahu." Katanya setelah memungut file lengkap biodata Dimas tadi.


Davin merobek file itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


Davin kembali duduk malas di kursi kebesarannya.


"Panggilkan aku office girl yang biasa mengantarkan kopi ke dalam ruangan ku, sekarang." Perintah Davin tampak jauh lebih santai dari sebelumnya.


Lisa bingung, ia pikir Davin sedang marah tapi kenapa suaranya terdengar santai?


"Baik, Pak. Tapi... bagaimana kondisi Anda sekarang?" Lisa masih berdiri di depan pintu masuk ruangan Davin.


Davin tersenyum kecil,"Sangat baik. Akan memburuk jika kamu tidak segera memanggilnya."


Lisa panik,"Maaf Pak, saya akan segera memanggilnya."


Lalu dia segera kembali ke meja kerjanya. Mengambil telepon untuk menghubungi departemen umum agar segera mengirim Rein ke kantor Davin.


"Ya, office girl atas nama Rein Xia. Dia adalah petugas kebersihan sekaligus pengantar kopi untuk Pak Davin. Tolong panggil dia karena Pak Davin membutuhkannya sekarang, terimakasih."


Sementara itu di dalam kantor Davin masih menikmati waktu santainya. Dia memejamkan mata terlihat nyaman yang agak berbanding terbalik dengan lingkungan berantakan di sini.


"Tio." Nama ini tidak bisa menghilang dari kepalanya.


"Tio." Dia mengulanginya lagi.


Beberapa detik kemudian dia membuka matanya, mengambil ponsel dan mencari kontak seseorang yang ingin ia hubungi.


"Aku punya tugas untukmu," Katanya setelah orang itu mengangkat teleponnya.


"Hem, ada seorang anak yang bernama Tio. Kira-kira usianya tahun ini 4 atau 5 tahun, dia tinggal bersama salah satu pegawai office girl ku yang bernama Rein Xia. Selidiki mereka, terutama anak yang bernama Tio itu. Aku ingin kamu mengambil foto dan identitas anak itu, paling lambat jam 10 malam semuanya sudah ada di emailku."


Ada suara ketukan pintu dari luar.


"Pak, ini saya." Itu adalah suara datar Rein.


Davin melirik pintu,"Ya, harus malam ini. Baiklah, aku akan menunggu hasilnya."


Davin segera mengakhiri sambungan. Duduk manis di kursi kebesarannya dengan kacamata kerja yang kembali ia pasang untuk mendukung suasana. Dia mengangkat salah satu tangan dan menempatkannya di kening, adegan ini terlihat seperti seorang pekerja keras yang sangat sibuk dan mengkhawatirkan.


"Masuk." Ucap Davin dengan ciri khas suara malas.


Rein masuk ke dalam ruangan kantor Davin. Ketika masuk dan melihat situasi wajah datarnya goyah selama beberapa detik. Mulutnya sempat terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata yang ingin dia ucapkan terpaksa ditelan kembali.