My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
46. (46)



"Aku enggak bermaksud apa-apa, mas...aku hanya tidak ingin pekerjaan pak Adit terganggu." Bela Dina dengan senyum kaku di bibirnya.


Niko meliriknya aneh,"Pak Adit juga manusia biasa. Dia butuh waktu untuk beristirahat dan bertemu dengan orang-orang yang dia senangi. Sebab hidup pak Adit enggak soal kerja melulu dan ada kalanya dia membutuhkan waktu untuk menikmati kehidupan pribadinya. Adapun kamu hanyalah orang luar di dalam kehidupan pak Adit. Tugasmu hanyalah mengikuti perintahnya dan tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi pak Adit. Bukan hak mu untuk mengomentari tentang kehidupan atau pun keputusan pak Adit karena sekali lagi, kamu hanyalah orang luar. Apakah kamu mengerti?" Ulas Niko panjang lebar sambil mengamati perubahan kaku ekspresi Dina di seberang sana.


Jangan salahkan dia berkata kejam. Sebagai seorang laki-laki yang pernah melihat dunia wanita bekerja, dia tahu betul bila wanita akan bertindak melewati batas bila perasaan cemburunya dirangsang. Padahal sejatinya mereka bukanlah hubungan sepasang kekasih tapi bisa bertindak kejam apa bila laki-laki yang disukai dekat dengan wanita lain.


"Aku mengerti, mas. Aku tidak akan asal berkomentar lagi. Maaf jika kata-kata ku sebelumnya telah membuat mas Niko marah."


Niko tahu bila maafnya tidak tulus. Oleh karena itu dia juga tidak menganggapnya serius. Matanya menatap heran dengan tingkah rekan sekretarisnya yang agak tidak terduga. Dia pikir Dina selama ini polos tapi ternyata hanya berpura-pura polos saja.


Mengabaikan Dina dengan rasa malunya, Niko kembali menatap dokumen di atas meja sambil sesekali bergerak mengetik sesuatu di komputernya.


Niko tidak tahu bila sikap acuhnya ini telah membuat Dina cemberut. Ekspresi Dina langsung sembelit karena permintaan maafnya diabaikan oleh Niko. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena jabatan Niko jauh lebih tinggi dari miliknya dan Niko juga orang terdekat Adit di perusahaan ini selain Davin. Jadi untuk menjaga citranya, Dina memutuskan untuk menekan ketidakpuasan hatinya jauh ke dalam hati.


Dia tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya muram melihat tumpukan dokumen di atas mejanya. Kesal, dia berusaha mempertahankan ketenangannya di permukaan tapi Tuhan tahu betapa jengkel hatinya saat ini.


Cklack


Pintu ruangan kantor Adit tiba-tiba dibuka, lalu keluarlah sosok wanita dewasa yang cantik dan anggun dengan senyuman manis di bibirnya. Karena mendapatkan pelatihan langsung dari keluarga Demian, segala tindakannya kini bergerak sesuai takaran dan tidak asal-asalan seperti dulu lagi.


"Hallo, mbak Anggi?" Sapa Niko sopan sambil berdiri dari duduknya.


Langkah Anggi berhenti. Dia menarik helaian rambutnya ke sisi telinga, bertindak canggung dihadapan Niko.


"Hai, Niko." Sapa Anggi juga sopan.


Niko melihat wajah merahnya, kemudian beralih menatap ambigu tanda bengkak dan merah terang di daging bibir bawahnya. Jelas saja telah terjadi sesuatu di dalam sana. Namun Niko hanya melihatnya sekilas dan bertindak tenang seolah-olah tidak melihat apa-apa. Namun meskipun begitu dia tetap mengambil masker hitam dari dalam laci mejanya.


"Mbak Anggi, maaf. Tapi aku rasa mbak Anggi membutuhkan ini." Kata Niko sopan.


Melihat masker ditangan Niko, Anggi langsung teringat dengan gigitan Adit dan langsung mengambil masker itu. Jika Niko tidak mengingatkannya maka mungkin dia dan Adit akan menjadi gosip panas di kantor.


"Em, terima kasih." Bisik Anggi malu tanpa menyadari wajah muram Dina.


Dina benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat tadi. Ingin membantah, tapi tindakan ambigu Anggi malah meyakinkannya.