My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
33. Yuni



Yuni tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun,"Benar, apa kamu menyesal sekarang?"


Rein terdiam. Wajah angkuh Yuni sebenarnya membuat Rein cukup muak. Dia ingin membalas balik perbuatan Yuni, entah itu dengan cara menarik rambut panjang terawat miliknya atau dengan cara menyiram kopi yang tersisa ke wajah menyebalkan itu.


Ingin, inilah yang dinginkan hati dan kepalanya saat ini.


Tapi,


Dia adalah pegawai kasar yang bisa dipecat oleh siapapun itu selama kedudukannya lebih tinggi. Rein tidak takut berhadapan dengan wanita sombong seperti Yuni tapi dia takut kesulitan menemukan pekerjaan jika dia dipecat dari perusahaan ini.


Bukan tidak mungkin menemukan pekerjaan yang lain di luar sana tapi gaji yang Rein dapatkan di sini jauh lebih besar dibandingkan diluar sana.


Maka hasil akhirnya Rein terpaksa mengalah. Dia harus mengalah tapi bukan berarti dia menerima begitu saja diintimidasi.


"Menyesal? Jangan bercanda, kenapa aku harus menyesali sesuatu yang tidak pernah ku perbuat?" Rein bertanya aneh.


Yuni semakin tidak suka. Dia kira Rein akan meminta maaf kepadanya tapi perkiraannya salah karena nyatanya Rein sama sekali tidak terlihat takut.


"Kamu!" Yuni ingin masuk kembali ke dalam lift tapi tidak bisa karena pintu lift segera tertutup.


"Sial, jangan pernah berpikir masalah ini sampai di sini saja. Hah.. dasar orang miskin, tidak tahu malu! Kerja ngemis juga di sini tapi sombongnya udah kayak pemilik perusahaan aja. Lain kali kita bertemu kamu tidak akan pernah aku biarkan pergi begitu saja."


Gerutu Yuni kesal. Selama bekerja di kantor ini, Rein adalah orang pertama yang berani membalas kata-katanya tanpa rasa takut tidak seperti rekan-rekan kerja Rein yang lain.


Yuni menjadi kesal jadinya. Dia tidak bisa melupakan wajah menjengkelkan Rein yang secara terang-terangan mempermalukannya di depan banyak orang tadi.


Sementara itu di dalam lift, Rein menatap ragu nampan kotor lengkap dengan gelas yang sudah ternoda di tangannya. Dia tahu Davin pasti tidak akan mau menerimanya tapi dia juga tahu Davin akan sangat marah nanti bila dia kembali ke pantry untuk meminta kopi yang lain.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Air kopinya mengotori cangkir dan nampan. Haruskah aku kembali ke bawah atau tetap membawanya ke ruangan Davin?" Dia gelisah.


"Tidak ada waktu lagi, ini benar-benar buruk."


Dia lalu menghela nafas panjang. Menatap gelisah bukti perbuatan kekanak-kanakan Yuni beberapa menit yang lalu.


"Hari ini sepertinya tidak akan berjalan baik." Gumam Rein kepada dirinya sendiri.


Satu demi satu lantai Rein lewati dengan wajah sok tegar hingga sampailah dia dilantai 11, kantor khusus CEO perusahaan ini yang entah sejak kapan dipindahkan dari lantai 27.


"Permisi, Bu. Saya ingin mengantarkan kopi pesanan Pak Davin."


Wanita yang duduk di meja sekretaris bukan lagi wanita dingin kemarin. Ini adalah wajah baru yang tidak pernah Rein lihat sebelumnya di perusahaan ini.


Mungkin dia baru saja direkrut kemarin untuk menggantikan wanita dingin itu.


Wanita itu mengalihkan kepalanya dari layar komputer.


"Apa namamu adalah Rein?" Wanita itu asal bertanya karena nama Rein sudah ada di name tag seragamnya.


Rein tersenyum dengan sopan pula.


"Benar, Bu. Nama saya adalah Rein."


Wanita itu mengangguk ringan.


"Kamu bisa langsung masuk ke dalam ruangan Pak Davin tanpa perlu melapor kepada saya di masa depan nanti. Oh ya, Pak Davin juga berpesan mulai dari hari ini kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengirim kopi ke ruangannya. Jika kamu menyerahkan tugas ini kepada pekerja yang lain maka konsekuensinya kamu dan pekerja itu harus dipecat dari perusahaan ini. Apa kamu mengerti?"


Rein,"...."


Rein bisa membayangkan betapa suram hari-harinya di masa depan harus bertemu dengan Davin, laki-laki yang telah mencampakkannya dengan beberapa cek jutaan rupiah. Laki-laki bejat yang menjadi sumber dari suka dan duka lara hatinya selama beberapa tahun ini.


"Apa kamu mendengar saya?" Wanita itu menegur karena tidak mendapatkan respon apapun dari Rein.


Rein buru-buru menjawab,"Maaf, Bu. Saya telah mendengar apa yang Ibu katakan tadi."


Wanita itu puas.


"Bagus, sekarang masuklah dan berikan kopi ini kepada Pak Davin." Wanita itu tidak memperhatikan jika nampan yang Rein bawa telah kotor karena cipratan kopi.


Jika saja dia melihatnya tadi mungkin Rein tidak akan dia izinkan masuk karena ini akan menambah masalahnya di hari pertama bekerja.


"Baik, Bu."