My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
21. Sudah Saatnya?



Betapa malang Tio.


"Tidak apa-apa sayang, Tio sekarang sama Mommy jadi dia tidak akan bisa mengganggu Tio lagi."


Faktanya kata-kata penghiburan ini ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Ibu Tio," Pengasuh yang duduk diluar bersama Tio tadi datang mendekat Rein.


"Bisa bicara sebentar?" Tanyanya serius.


Rein tidak langsung menjawab, dia melihat wajah chubby Tio yang kini ternoda oleh luka benda tumpul yang disengaja.


"Tio main dulu di sini yah karena ada sesuatu yang ingin Mommy bicarakan dengan Kakak cantik. Okay?"


Tio turun dari pelukan Rein.


"Okay, Mommy!" Tio berteriak setuju sebelum pergi menuju ayunan yang ada dihalaman rumah penitipan.


Rein melihat wajah ceria Tio bermain sendiri di atas ayunan. Sekali melihat saja Rein tahu bila Tio biasanya suka main sendirian karena di sekolahnya pun Tio tidak punya teman.


"Ibu Tio, anak Anda sepertinya punya masalah di sekolahnya karena ada beberapa anak yang berasal dari kelas yang sama dengan Tio sering membuat masalah di sini. Beberapa anak mengatakan jika Tio, maaf sebelumnya, adalah anak yang tidak punya Ayah. Kami adalah pengasuh dan sudah sepantasnya menghukum anak-anak yang membuat masalah tapi kami sungguh tidak berdaya dihadapan orang tua anak-anak itu. Mereka bersikeras ini adalah kesalahan Tio yang mengganggu anak mereka terlebih dahulu dan mengancam akan merusak rumah penitipan anak ini jika kami bersikeras membela Tio. Ibu Tio, maafkan kami karena tidak bisa mendapatkan keadilan untuk Tio. Mereka adalah orang-orang yang berkuasa di kota ini jadi kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk Tio. Namun, kami berjanji akan memisahkan ruangan Tio dari anak-anak itu besok sehingga kejadian ini tidak terulang lagi." Wanita itu terlihat tidak nyaman ketika mengatakan ini kepada Rein. Beberapa kali dia akan mengamati wajah cantik Rein yang kini diam membisu tidak mengatakan apa-apa.


Sorot matanya jelas kosong mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut pengasuh itu.


Bahkan anakku pun tidak luput dari kekejaman takdir. Batinnya sendu.


"Tidak apa-apa, aku justru berterimakasih karena kalian mau membantu anakku." Ucapnya memaksakan senyum.


"Dan mengenai Ayah Tio," Mata kelamnya beralih melihat wajah lembut Tio yang masih asik bermain ayunan.


"Dia pergi ke luar kota untuk mencari nafkah dan akan pulang setelah masa kontraknya habis." Rein masih sempat menciptakan kebohongan di sini.


"Masalah itu Tio sudah menjelaskannya kepada kami. Sejujurnya ini adalah masalah pribadi Anda dan kami hanyalah orang luar di sini."


Rein tersenyum tipis.


"Tio, ayo pamit dulu sama Kakak cantik karena kita akan pulang ke rumah."


Tio langsung berhenti bermain ketika mendengar panggilan Rein. Dia berlari kecil menuju Rein dan pengasuhnya, mengucapkan salam dengan suara menggemaskan sebelum pergi dari rumah penitipan anak.


"Tio mau gak Mommy beliin es krim?"


Di perjalanan pulang Rein berhenti di depan toko es krim. Biasanya Tio akan merengek dibelikan es krim dari toko ini tapi karena harganya mahal Rein selalu menolak sampai akhirnya Tio berhenti merengek.


"Beli es klim?" Dia sangat gembira mendengar tawaran Rein.


Rein tersenyum kecil, dia mencubit gemas puncak hidung Tio.


"Tio enggak mau?"


Rein tanpa sadar tertawa.


"Okay, okay..kita akan pergi membelinya." Rein tidak tahan melihat wajah putranya yang menggemaskan.


Jika mereka saat ini di rumah, dia mungkin sudah menghujani Tio sebuah ciuman.


Mereka berdua masuk ke dalam kedai es krim dan memilih meja yang paling dekat dengan pintu masuk karena tempat mempunyai pemandangan malam yang indah.


Karena hari ini Rein mendapatkan bonus banyak dia memutuskan untuk memanjakan Tio dengan berbagai macam es krim tapi secukupnya karena dia masih kecil.


"Sayang," Panggil Rein setelah berpikir lama.


"Iya, Mommy?" Jawab Tio terdengar sangat penurut.


Hari ini akhirnya datang juga, pikirnya.


Rein menatap dalam wajah chubby Tio yang didominasi oleh wajah laki-laki itu. Dilihat dari sisi manapun Rein akan selalu melihat ukiran laki-laki itu di wajah putranya.


"Mommy?" Panggil Tio karena Rein masih belum berbicara.


Rein meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat basah. Mulutnya beberapa kali bergerak ingin mengatakan sesuatu tapi masih ragu mengeluarkan suara.


"Apa Tio mau melihat wajah Ayah Tio?" Kata-kata ini akhirnya keluar dari mulutnya.


"Ayah? Tio boleh lihat Ayah?" Tatapan bahagia Tio tidak bisa dibohongi.


Dia sangat senang bisa melihat Ayahnya karena teman-teman di kelas selalu membanggakan Ayah masing-masing sedangkan dia hanya bisa diam mendengarkan.


"Boleh, Mommy akan tunjukkan foto Ayah kepada Tio di rumah. Tapi sebelum itu Tio harus menghabiskan makanan Tio jika ingin melihat Ayah."


"Okay, Mommy! Tio akan menghabiskan semuanya agal bisa melihat Ayah!"


"Tapi Mommy, apa Ayah milip dengan Tio?" Karena itulah yang teman-temannya katakan di kelas.


"Makan, Tio." Rein enggan menjawab.


"Okay, Mommy." Tio menurut.


Rein tersenyum kecil, di dalam hidupnya sejak mendapatkan pengkhianatan laki-laki itu hari-hari Rein dilalui dengan rasa sakit yang tidak terucapkan.


Bahkan, meskipun hadir di dalam kehidupannya jejak laki-laki itu masih tidak bisa dilepaskan. Apalagi ketika melihat wajah Tio, ukiran wajah ini begitu mirip dengan laki-laki itu dan Rein kian tidak bisa menghapus bayang nya.


Nak, kenapa wajah kamu begitu mirip dengannya?. Batin Rein sakit.


Bersambung..