
Pagi-pagi sekali mereka dibangunkan oleh ketukan pintu Ibu dari luar. Mereka lalu bangun dengan malas-malasan karena masih belum puas tidur. Tapi karena Ibu yang mendesak dari luar, mereka tidak berani membuat masalah dan memilih bangun dengan patuh.
Mereka pergi mencuci muka seadanya dan keluar untuk membantu Ibu membuat sarapan di dapur. Pekerjaan mereka bisa dibilang sepele tapi karena dilakukan dengan malas-malasan, pekerjaan yang mereka lakukan rasanya cukup berat dan sulit.
"Hari ini kita akan pergi setelah ayah kalian berangkat kerja." Kata Ibu sambil mengulek sambal di cobek batu.
Begitu mendengar suara Ibu, kepala mereka berdua langsung berdiri tegak, seketika jernih tanpa rasa kantuk yang mengekang. Tanpa bertanya kepada Ibu pun mereka tahu apa yang dimaksud oleh Ibu.
"Beneran, Bu?" Tanya Tina bersemangat.
Ibu mengangguk pasti,"Bener. Tapi kamu ingat jangan ngomong apa-apa sama Ayah nanti. Kalau kamu sampai ngomong, Ayah akan marah besar kepada Ibu dan kalian." Peringat Ibu serius.
Widia dan Tina langsung mengiyakan tanpa ragu.
"Ibu tenang saja. Aku tidak akan berbicara apa-apa kepada Ayah." Ujar Widia berjanji.
Ayah sangat marah sejak hari itu. Dia merasa malu dan rendah karena dipermalukan sedemikan hina oleh keluarga Anggi. Menurutnya penghinaan dari mereka sudah cukup membuatnya sadar diri bila mereka tidak akan pernah memiliki hubungan yang baik seperti yang diharapkan. Oleh karena itu Ayah tidak mau membahas tentang Anggi ataupun apapun yang berhubungan dengan Anggi. Jika Ibu dan anak istrinya kebetulan membicarakannya, maka Ayah pasti akan sangat marah. Apalagi sampai mendengar bujukan dari Ibu tentang rencananya untuk mendekati Anggi, murka Ayah segera membuat rumah menjadi suasana tegang. Ayah mengabaikan mereka semua yang sangat tidak nyaman di hati. Jadi setelah berminggu-minggu membujuk tanpa hasil, Ibu akhirnya memutuskan untuk mencari Anggi tanpa sepengetahuan Ayah. Dia ingin membuktikan kepada suaminya bila Anggi pasti akan mengenali mereka sebagai salah satu Anggi keluarga.
"Bagus kalau kalian tahu." Kata Ibu masih asik mengulek sambal di dalam cobek batu.
"Bu, kita akan mencari kak Anggi kemana?" Tanya Widia bersemangat.
Ibu tidak langsung menjawab. Dia terlihat berpikir dengan tangan yang sibuk bekerja. Melihat diam Ibunya, Widia pikir Ibu tidak akan menjawab tapi ternyata itu hanya kekhawatirannya saja karena beberapa menit kemudian Ibu tiba-tiba menjawab.
"Kita lihat saja nanti. Ibu tidak bisa memberitahu kalian sekarang." Kata Ibu kepada mereka berdua.
Widia dan Tina tidak bertanya lagi. Mereka berdua yang tadinya tidak bersemangat kini terlihat sangat hidup. Mulut mereka bergerak sangat aktif membicarakan kemungkinan yang akan terjadi saat pertemuan mereka nanti dengan Anggi.
Pasalnya Anggi selalu memberikan baju dingin kepada mereka berdua sehingga mereka ragu bila Anggi akan menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Dan mereka juga sejujurnya sangat malu karena sudah dua kali mendapatkan bahu dingin dari Anggi. Mereka diusir setiap kali datang menemuinya. Sungguh, pengalaman ini sama sekali tidak menyenangkan. Mereka malu tapi tidak bisa melepaskan Anggi begitu saja karena mereka berharap merasakan apa yang Anggi miliki.