
"Rein, dengarkan aku." Pinta Davin seraya mengeratkan pelukannya.
Tapi Rein tidak mau mendengar, dia terus saja berusaha melepaskan tangan Davin dan ingin segera melarikan diri ke dalam. Tidak, tidak lagi. Sekalipun ia telah mengetahui kebenaran di masa lalu- meskipun belum sepenuhnya- tapi Rein masih belum bisa melepaskan rasa sakit yang ia dapatkan di hari itu.
Ia masih belum bisa melepaskannya!
"Percuma saja, Rein, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu." Ucap Davin mengingatkan.
Seperti yang Davin bilang, Rein benar-benar tidak bisa melepaskannya meskipun ia mencoba sekuat tenaga. Menyerah, Rein tidak memberontak lagi. Dia membiarkan Davin melakukan apapun yang ia suka- setidaknya, untuk saat ini.
"Rein, tolong dengarkan aku." Davin memohon untuk yang pertama kalinya dengan nada yang lebih lembut dan sedikit ketidakberdayaan.
Rein memejamkan matanya tidak mengatakan apa-apa.
Ia bersikap seolah suara hujan lebih menyenangkan daripada suara Davin.
"Ayo kembali, Rein." Kata-kata ini akhirnya jatuh.
Kata-kata yang Rein harapkan keluar dari mulut laki-laki ini 5 tahun yang lalu. Rein sangat berharap Davin mematikan telepon dari wanita itu dan berbalik mengatakan penyesalan, dan yah.. meminta Rein kembali.
Tapi, Rein tidak mendapatkannya hari itu dan baru mendapatkannya setelah 5 tahun kemudian.
Bukankah ini lucu?
"Ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Kalau perlu kita bisa langsung menikah jika kamu menginginkan hubungan yang sah-"
"Davin," Hatinya begitu sakit.
"Maaf, tapi aku tidak bisa." Sambungnya menjatuhkan bom tak berasap ke dalam hati Davin.
Mulut Davin yang terbuka ingin berbicara sebelumnya perlahan mengatup dan tertutup rapat sepenuhnya. Ia bungkam tidak mengatakan respon apa-apa.
"Aku pikir masa lalu yang terjadi di antara kita sebelumnya adalah mimpi buruk yang tidak perlu kita ingat apalagi sampai menghidupkannya kembali. Maaf, aku tidak bisa melewati mimpi buruk yang sama." Rein menolak untuk menjalin hubungan lagi karena ia takut, ia takut Davin meninggalkannya untuk alasan yang tidak bisa dikatakan lagi.
Padahal saat itu bila Davin benar-benar ditekan oleh keluarganya maka mereka bisa membicarakan secara terbuka agar mimpi buruk menyakitkan itu tidak terjadi.
Tapi Davin egois, ia lebih memilih mendengarkan dirinya sendiri tanpa mau berbagi rahasia dengannya.
"Kamu masih mencintaiku, aku tahu. Perpisahan 5 tahun yang lalu itu pasti sangat melukai mu dan aku paham, kamu masih belum bisa memaafkan ku. Tidak apa-apa, Rein, aku mengerti alasan mu. Tapi... tidak bisakah kita memperbaiki semuanya untuk Tio? Dia adalah putra kita dan pasti merindukan peran orang tua yang lengkap." Ucap Davin melibatkan Tio diantara mereka.
Klise memang, dia sudah berkali-kali mengancam Rein dengan keberadaan Tio, dan pasti perasaan Rein saat ini berlipat-lipat muak nya. Namun apa yang harus Davin lakukan untuk menghadapi sikap keras kepala Rein yang lebih tajam dari sebelumnya?
Jujur, Davin kewalahan.
"Davin, kamu harus mengerti satu hal." Kata Rein membawa tatapannya menatap air hujan yang begitu deras di atas atap.
"Aku kecewa kepadamu. Aku kecewa untuk semua pengkhianatan yang telah kamu lakukan sehingga rasa cintaku kepadamu perlahan mulai terkikis... terkikis sampai hanya perasaan benci yang ku miliki untukmu." Rein tahu ini adalah sebuah kebohongan besar.
Tapi dia tidak punya cara lain lagi.
"Dan kamu juga harus tahu bahwa aku rela tinggal di tempat yang sama denganmu lagi dan bahkan sudi menjadi pembantu mu adalah karena aku ingin Tio mendapatkan haknya darimu. Dia harus memiliki identitas, hidup yang layak, dan sebuah kehormatan, semua ini bisa diwujudkan oleh mu sedangkan aku tidak. Jadi-"
"Jangan berbohong," Potong Davin menolak percaya.
Rein masih memiliki rasa kepadanya dan ia tahu itu.
"Aku tidak berbohong, Davin. Kita sungguh tidak bisa bersama karena kamu terlalu mengecewakan."
Davin menutup matanya menahan sesak. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari Rein, membiarkan Rein bebas seperti yang diharapkan.
"Baik, katakanlah apapun sesuka hatimu, tapi...aku tidak akan pernah menyerah, Rein! Aku pasti bisa mendapatkan kamu kembali cepat atau lambat dan kamu harus bersiap untuk hari itu!" Ucap Davin bertekad.
Ia memiliki keyakinan yang tinggi Rein masih mencintainya dan untuk cinta itu, Davin tidak akan ragu berjuang lebih keras lagi untuk mengembalikan kepercayaan Rein kepadanya. Membawa Rein kembali dan memulai hidup damai seperti tahun-tahun itu.
Tersenyum tipis, "Jangan membuang waktumu, Davin. Aku adalah wanita miskin dan cacat yang tidak pantas bersanding denganmu."
Rein lalu pergi masuk ke dalam dengan pakaian basah kuyup. Ia berjalan cepat di dalam vila tanpa memikirkan lantai ikut basah dan menjadi licin.
Rein tidak perduli karena dia bisa membersihkannya kembali setelah ia selesai berganti baju.
"Arghh!"
Sementara itu di halaman belakang Davin melampiaskan perasaan pahit dihatinya dengan berteriak dan menendang genangan air hujan yang tidak bersalah.
Dia terluka, benar. Dia patah hati, ini juga benar. Dia kecewa, ini memang benar tapi dia lebih kecewa dengan dirinya sendiri.
Kecewa rasanya mendengar betapa kecewa Rein kepadanya.
Hah...
"Daddy sama Mommy kok belhenti main? Padahal Tio juga mau main peluk-pelukan sama kalian!" Tio tiba-tiba menghampirinya dengan ekspresi cemberut.
"Tio..." Davin membawa putranya ke dalam pelukan.
"Daddy sama Mommy bukan sedang bermain- ya Tuhan, Tio! Kamu adalah sumber inspirasi Daddy, Nak!" Davin berseru senang ketika memikirkan sebuah ide di dalam kepalanya.
"Hem, inspilasi apa, yah?" Gumam Tio tidak paham.