My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
14. Rencana Dimas



"Gue tetap gak bisa ikut lo pulang kampung, Dim."


Mungkin sudah saatnya Rein melepaskan sahabatnya mengejar kehidupan yang lebih baik lagi.


"Kenapa? Apa karena lo malu sama keluarga gue?. Rein, soal itu lo gak usah khawatir karena mereka sangat terbuka sama lo. Kalau lo masih gak nyaman lebih baik kita berdua nikah aja di kampung. Lo jadi istri gue dan Tio jadi anak kita, gue janji bakal-"


"Dimas, cukup." Potong Rein tidak senang.


"Rein?" Panggil Dimas tidak mengerti.


"Lo sahabat gue satu-satunya di dunia ini dan gue gak mau kehidupan lo harus hancur hanya karena terus terlibat dalam kehidupan cacat gue yang memalukan."


"Itu gak benar, Rein-"


"Dengerin gue dulu, Dim! Please?"


Dimas terpaksa tutup mulut.


"Gue pikir ini udah waktunya lo perduli sama masa depan yang lo inginkan. Jangan lagi terlibat sama gue apalagi sampai berpikir untuk nikahin gue. Dim, gue adalah manusia cacat! Lo harus tahu kalau manusia cacat ini gak bakal ngasih lo kebahagiaan yang sempurna. Gue gak akan bisa ngasih lo kesempurnaan dan gue yakin lo pasti langsung menyesal karena telah dengan bodoh memilih gue sebagai pendamping hidup sama seperti laki-laki itu dulu. Gue gak mau itu sampai terjadi dan membuat hubungan persahabatan kita hancur. Gue gak mau, Dim."


Tentang kualitas dirinya yang lebih pantas disebut sebagai barang cacat dan tidak layak pakai, Rein sudah sangat menyadarinya sejak hari itu.


Hari dimana laki-laki yang sudah dia cintai sepenuh hati mencampakkannya tanpa rasa bersalah. Sejak itu dia tahu bahwa cinta tidak diciptakan untuknya dan dia tidak ditakdirkan untuk merasakan betapa manisnya cinta yang tulus.


"Gue bukan cowok brengs*k itu, Rein, dan lo gak cacat-"


"Lo memang bukan dia, Dim! Tapi gak menutup kemungkinan lo juga bisa jadi kayak dia, Dim!" Potong Rein dengan sabar.


"Udah ya, Dim. Tanpa lo bilang juga gue udah sadar diri, Dim, gimana kualitas hidup gue yang sebenarnya." Rein tersenyum lembut, berusaha meyakinkan sang sahabat.


"Gue benar-benar minta maaf, Dim. Gue gak mau terus-terusan ngelibatin lo dalam kehidupan gue karena gue juga mau lo hidup bahagia."


"Terus kapan rencananya lo balik ke kampung?" Karena Dimas tidak mengatakan apa-apa, Rein berinisiatif bertanya.


"Dua bulan lagi, surat pengunduran diri gue sedang mereka urus." Jawab Dimas tampak enggan.


"Dua bulan lagi, ini masih jauh. Lo masih punya waktu main-main sama Tio dan gue susahin." Niatnya bercanda tapi melihat ekspresi datar Dimas, Rein tertawa garing.


"Em, gue besok mau cari pekerjaan tambahan. Kira-kira lo tahu engga tempat yang masih buka lowongan kerja, em.. kerja apapun deh yang penting bisa menghasilkan uang dan agak dekat dengan sekolah Tio."


Berhubung Dimas mau pindah maka Rein harus belajar mengurus semua kebutuhan Tio sendirian. Karena tidak akan ada Dimas yang menafkahinya seperti tahun-tahun yang lalu.


"Jangan cari kerja lagi, lo fokus aja ngurusin Tio di sini. Masalah uang dan kebutuhan lainnya gue bisa kirim dari kampung." Protes Dimas menolak.


Wajahnya tampak kesal.


"Dim, serius lo jangan buang-buang waktu lo ngurusin gue sama Tio. Gue gak mau nyusahin lo terus, udah cukup 5 tahun ini gue ngebuat lo menderita. Untuk kedepannya gue gak-"


"Gue ngantuk, mau tidur dulu. Malem, Rein." Tanpa menunggu Rein menyelesaikan bicaranya, Dimas langsung pergi masuk ke dalam kamar.


Rein menghela nafas panjang,"Hah..lo orangnya terlalu baik, Dim." Katanya tidak berdaya.


Rein masuk ke dalam kamar, duduk di pinggir ranjang untuk memperhatikan wajah lembut buah hatinya. Dia tampak tertidur lelap dan sangat nyaman, membuat Rein ingin sekali meremat pipinya tapi juga merasa enggan takut mengganggu tidur Tio.


"Jangan cari Ayah kamu lagi Tio karena dia..dia tidak menginginkan kita. Mommy tidak mau kamu mendapatkan penolakan pahit darinya jadi berhentilah mencari laki-laki itu. Anggap saja Mommy adalah Ibu sekaligus Ayah untuk kamu dan jangan pernah memikirkan laki-laki itu lagi. Apa Tio mendengarkan, Mommy?"


Hanya suara nafas teratur Tio yang merespon dan Rein menganggap ini adalah ungkapan persetujuan tidak langsung darinya.


"Anak pintar." Katanya seraya mengusap lembut rambut Tio.


"Mimpi indah sayang." Mengecup ringan puncak kepala Tio, dia membaringkan dirinya di samping Tio dan memejamkan matanya untuk ikut masuk ke dunia mimpi.