My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
223



Wajah Davin cemberut. Mulai dari menggunakan pakaian kantornya sampai sarapan di atas meja, wajahnya selalu cemberut. Rein bukan tidak melihatnya tapi dia sengaja mengabaikan kelakuan kekanak-kanakan suaminya. Rein tidak masalah sebenarnya. Malah dia terkesan lemah di depan suaminya. Dia tidak akan tahan melihat Davin memasang wajah cemberut kayak anak-anak. Tapi mau bagaimana lagi?


Khusus hari ini dia mengeraskan hati untuk kesejahteraan hidup rumah tangganya yang harmonis dan bahagia.


"Hari ini aku boleh pulang siang, yah?" Ucap Davin dengan nada memelas.


Rein menutup mata terhadap kelakuan manja sang suami.


"Enggak boleh, Mas. Kamu harus pulang seperti jam kantor biasanya. Jam 5 dan jangan lembur jika Mas Davin masih ingin tidur di kamar kita." Kata Rein dengan ancaman tersirat.


Davin menggerakkan mulutnya tertahan. Dia lalu menggandakan usahanya merayu sang istri, meraih kedua bahunya dengan tatapan memohon.


"Aku adalah bos, sayang. Aku bisa pulang dan pergi sesuka hatiku." Kata Davin menghibur- atau lebih tepatnya dia berusaha untuk tetap tinggal di rumah ini.


Rein tersenyum lebar, wajah cantiknya bersinar indah di bawah cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah hangat mereka.


"Dan karena Mas Davin adalah bos sudah seharusnya Mas Davin memberikan contoh yang baik kepada karyawan perusahaan bila mereka harus datang tepat waktu dan pulang sesuai dengan jadwal pulang pula. Apa aku benar, Mas?"


Davin sang bos perusahaan yang harus memberikan contoh baik kepada karyawan perusahaannya,"...." Tidakkah istrinya pernah mengatakan jika dia adalah bos dan bisa datang ke perusahaan sesuka hatinya?


Tapi tunggu,


Reaksi istrinya terlalu aneh bila dipikir-pikir dengan baik. Ini tidak biasanya karena hari ini Rein memiliki kesan terlalu memaksa. Davin curiga. Hatinya menjadi was-was istrinya memiliki hubungan lain dengan laki-laki lain. Ada marah yang tertahan di dalam hatinya. Dan karena perubahan suasana hati ini senyuman di wajahnya yang tampan perlahan membeku. Dia jelas memiliki keengganan untuk pergi ke perusahaan bila seperti ini.


"Sebelumnya kamu sudah mengatakannya jika tidak akan ada yang berani memberikan komentar kepadaku bila aku sampai terlambat datang. Sekarang kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Davin dengan nada menyelidiki, cukup samar untuk dilihat Rein.


Dia mengambil tas kantor sang suami dan menyeretnya keluar dari rumah. Di luar rumah sudah ada mobil limusin panjang yang menunggu suaminya.


"Telpon aku jika Mas Davin akan pulang nanti sore." Pesan Rein sebelum menutup pintu mobil dan mengawasi mobil suaminya menjauh dari pandangannya.


Rein tersenyum. Masih melambaikan tangan sampai mobil suaminya menghilang.


"Hoam..." Dia menguap lebar masih mengantuk,"Aku ingin tidur lagi.."


Namun dia masih mengingat hari apa hari ini jadi dia buru-buru menepuk pipinya untuk menghilangkan kantuknya.


"Tidak, jangan sekarang. Aku harus tetap terjaga sampai semuanya beres." Gumamnya pada diri sendiri.


Dengan semangat tinggi dia lalu masuk ke dalam rumah tanpa menyadari suasana hati suaminya yang suram.


"Apakah ada yang aneh dengan istriku baru-baru ini?" Tanya Davin dingin.


Seseorang berjas hitam yang duduk di depannya segera menjawab dengan serius sembari menahan ketakutan di hadapan Davin.


"Tidak Tuan, Nyonya besar tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh dan dia juga tidak pernah meninggalkan rumah tanpa seizin Anda."


"Hem.." Davin mengernyit bingung dengan berbagai macam pikiran tidak pastinya.


Lalu kenapa sikap Rein hari ini agak aneh? Batin Davin masih belum lepas dari perasaan khawatirnya.