
"Ini sudah sore. Kamu tidak boleh pergi ke sana sendirian." Ucap Dimas menolak.
Ail juga berpikir seperti itu karena ini sudah sore. Cahaya matahari mulai meredup dan mungkin Ail akan kembali ke rumah saat sudah petang.
"Paman, aku akan berlari kencang dan segera kembali setelah mengambil barang-barang itu. Jika aku tidak mengambil barang itu dan membawanya pulang, Nenek pasti akan memarahiku." Kata Ail berbicara jujur.
Sebelumnya Ail berbohong tapi sekarang tidak karena dia tiba-tiba ingat Nenek tadi siang membawakan mereka rantang makanan. Sekarang rantang makanan itu tertinggal di gubuk jerami sawah dan Ail lupa membawanya pulang. Untung saja Fani datang dan mengingatkannya pada barang penting itu.
Dimas juga mengingatnya,"Rantang makanan tadi siang, yah?" Tanya Dimas menebak.
Ail secara alami menganggukkan kepalanya. Dia agak malu karena melupakan rantang makanan Nenek karena bagi Nenek barang itu sangat penting dan memiliki kegunaan tetap di rumah. Ail tidak mau pulang-pulang nanti Nenek menatapnya dengan masam karena melupakan barangnya.
"Baiklah, kita akan kembali ke sawah bersama." Kata Dimas memutuskan tanpa niat melepaskan tangan Ail.
Fani yang sedari tadi diabaikan mengernyit tidak puas dengan hasil ini. Padahal dia tadi cukup senang mendengar Ail akan pergi menjauhi mereka berdua karena dengan begitu dia memiliki kesempatan berduaan dengan Dimas.
"Em, Mas Dimas? Apa aku boleh ikut ke sawah?" Tanya Fani hati-hati.
Dimas tidak masalah satu orang ikut lagi.
"Tentu saja jika kamu tidak keberatan." Kata Dimas.
Fani berseru senang dan merendamnya dengan sebuah senyuman lembut. Dia kemudian berjalan di samping Dimas dengan malu-malu. Sesekali di jalan para gadis desa akan menatapnya iri karena bisa dekat dengan Dimas, laki-laki tampan yang pernah bekerja di kota besar dengan gaji besar.
Dan terkadang pula beberapa laki-laki desa yang berpas-pasan dengan mereka menatap cemburu Dimas karena bisa berdampingan dengan Fani, si kembang desa yang telah banyak diidam-idamkan mereka.
Fokus mereka selalu tertuju pada Dimas dan Fani, jarang ada yang memperhatikan keberadaan si kecil pemalu.
Paman terlihat sangat senang berbicara dengan Kak Fani. Batin Ail sedih.
Ail merasa Paman tidak seantusias ini ketika berbicara dengan dirinya. Tapi ini wajar saja karena Nenek bilang Paman dan Fani adalah dua orang dewasa, dan dia masihlah kecil dan belum mengerti dunia orang dewasa.
"Paman... Paman!" Ail dengan cepat melepaskan tangannya dari Dimas.
Dimas terkejut,"Kamu kenapa, Ail?"
Tangan Ail menyentuh perutnya terlihat agak sakit.
"Paman aku ingin buang air kecil. Aku sudah tidak tahan lagi." Kata Ail berbohong.
Dimas tidak melihat kebohongan Ail dan langsung mempercayainya. Tapi dia bingung harus membawa Ail kemana karena rumah dan sawah sama-sama jauh.
"Di sini tidak ada tempat untuk buang air kecil." Kata Dimas sambil celingak-celinguk melihat ke segala arah.
"Atau aku akan menggendong mu saja pergi ke sawah. Paman bisa berlari." Dimas langsung berjongkok di depan Ail.
Dimas selalu seperti ini. Dia adalah orang yang lembut dan baik hati. Ail pikir di dunia ini dia tidak memiliki tempat untuk pulang, sebelumnya. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Dia kirimkan Dimas sebagai rumahnya, tempat untuk mengisi kekosongan hatinya.
"Mas Dimas jangan memaksakan diri. Ail sudah besar dan tidak perlu digendong." Kata Fani masam.
Dia menatap Ail dengan sinis terlihat sangat terganggu. Anak ini sudah berkali-kali menganggu pembicaraannya dengan Dimas. Dia sangat menyusahkan dan menggangu pikir Fani kesal.
Ail mengecilkan lehernya takut. Melihat sikap tajam Fani telah mengingatkan Ail pada hari-hari suramnya di panti asuhan.
Dia berlari secepat yang dia bisa untuk menghindari Dimas dan Fani.
Setelah berlari jauh, dia menoleh ke belakang dan tidak melihat Dimas lagi, entah lega atau kecewa yang dia rasakan mengetahui Dimas tidak mengejarnya ke sini.
Menghela nafas panjang, dia berjalan pelan di sekitar pinggir jalan untuk menghemat tenaganya yang telah terkuras habis. Detak jantungnya yang menggebu-gebu karena berlari perlahan mulai berdetak normal kembali seiring langkahnya. Ail mulai menenangkan hatinya yang risau tanpa sebab. Dan karena suasananya lebih lembab dari beberapa saat yang lalu, Ail pikir perjalanan ke sawah tidak terlalu melelahkan. Lihat saja dia sekarang sudah sampai di sawah dan bertemu dengan banyak orang yang sedang bersiap-siap pulang ke rumah.
"Ail kok ke sini lagi?" Selalu ada orang-orang ramah yang menyapanya.
Ail tersenyum malu-malu kepada petani wanita itu. Petani wanita itu adalah tetangga Dimas di desa ini dan sangat ramah semenjak Ail tinggal di sini.
"Iya Nek, aku lupa mengambil rantang Nenek di dalam gubuk." Jawab Ail sopan.
"Oalah, kalau begitu cepat ambil agar kita bisa pulang bersama." Kata petani wanita itu.
Tapi laki-laki tinggi berkulit gelap sawo matang di belakang petani wanita itu menyeka pembicaraan mereka.
"Ibu lebih baik pulang saja bersama Bapak. Nanti Ail biar pulang sama aku aja." Kata laki-laki tinggi itu.
Wanita petani- atau sebut saja Ibu dari laki-laki itu melihat ekspresi malu-malu putranya yang tidak biasa dan langsung mengerti maksud dari putranya. Meskipun Ail kecil tapi Dimas bilang dia sudah 15 tahun, usia yang cukup matang untuk memulai pernikahan di desa.
Apalagi Ail agak cantik walaupun kurus dan kecil, tapi ini lebih baik daripada gadis-gadis di desa yang pemilih.
"Baiklah, kalian anak muda luangkan waktu untuk berbicara. Ail, Nenek pulang dulu, yah." Kata Ibu laki-laki itu sambil melambaikan tangannya kepada mereka.
Sekarang setelah Ibu laki-laki itu pergi kini tinggallah Ail dan laki-laki tinggi berkulit sawo matang itu di sini. Padahal Ail tadi ingin menolak tapi dia tidak bisa berbicara karena pasangan Ibu dan anak itu sudah terlanjur membuat kesepakatan.
"Paman Roni tidak perlu menungguku karena aku bisa pulang sendiri." Kata Ail sopan.
Roni, laki-laki tinggi berkulit sawo matang itu dipanggil Roni. Dia adalah seorang duda yang baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu dengan mantan istrinya yang berasal dari desa yang sama.
Roni menggelengkan kepalanya. Sambil duduk di samping pengairan sawah, kedua tangannya mulai sibuk mengikat tali karung yang berisi beberapa sayuran yang baru saja dipetik.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga harus mengikat sayur Ibu sebelum pulang. Jadi sambil nungguin kamu, aku bisa menyelesaikan semua pekerjaan ini." Kata Roni dengan senyuman lebar di bibirnya.
Ail tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Mengangguk sopan, dia lalu masuk ke dalam gubuk untuk mengambil rantang Nenek dan kembali menghampiri Roni yang masih betah mengikat karungnya.
Ail pikir pekerjaan mengikat itu mudah tapi ternyata tidak karena Roni masih berkutik di karung yang sama. Faktanya Roni sengaja memperlambat pekerjaannya agar bisa berduaan dengan Alsi.
"Ail, duduklah di sini." Roni menepuk tempat di sebelahnya.
Ail menundukkan kepalanya menghindari tatapan Roni. Kedua tangannya terkepal erat mencengkeram pegangan rantang terlihat aneh.
"Aku lebih suka berdiri di sini." Katanya dengan suara yang sangat kecil.
Roni menganggap Ail adalah gadis yang sangat pemalu jadi dia tidak melihat keanehan Ail.
"Kemarin lah, di sini sangat sejuk." Roni mengulurkan tangannya meraih tangan Ail.
Tapi sebelum dia bisa menyentuh tangan Ail, suara teriakan Dimas menghentikan aksinya.
"Ail, ayo pulang!"