My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
154



Ada perasaan lembut saat menyentuhnya. Kalung ini sangat berharga baginya jauh sebelum dia mengetahui kebenaran darimana kalung ini berasal. Diberikan langsung oleh Davin pada malam itu sudah sangat menyentuh titik terdalam hatinya apalagi saat mengetahui bila kalung ini adalah bentuk restu dari orang tua Davin beberapa tahun yang lalu sebelum kecelakaan merenggut mereka.


Hangat, dia menggenggamnya kuat enggan melepaskan tapi juga tidak ingin terus memakainya karena tidak mau kalung ini lecet.


Dia tidak ingin kalung ini rusak.


"Masih belum puas melihatnya, hem?" Rein tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh Davin.


Kedua wajahnya spontan memerah ketika merasakan sentuhan ringan Davin di lehernya. Walaupun itu hanya kecupan manis tanpa niat meninggalkan tanda tapi Rein masih belum terbiasa dengan keintiman mereka setelah bertahun-tahun berpisah.


"Davin, geli! Serius lah agar jangan dilihat oleh anak-anak." Tegur Rein tapi tidak membawa lehernya menjauh.


Dia secara alami menyandarkan kepalanya di dada kuat Davin, mendengarkan suara senandung kuat dari debaran jantung Davin yang menenangkan sarafnya.


"Anak-anak sudah tidur di kamar sebelah bersama Adit." Kata Davin sambil mencuri ciuman di pipi Rein.


Rein spontan tertawa. Lagi-lagi Davin membuat Adit menjadi baby sitter dadakan mereka.


"Jangan terlalu membebani Adit dengan pekerjaan yang tidak seharusnya. Dia sudah cukup sibuk dengan urusan kantor dan sekarang hampir tidak bisa beristirahat karena mengurus anak-anak." Rein diam-diam melayangkan tatapan simpati kepada sahabat sekaligus asisten Davin.


Bila itu orang lain, maka mereka tidak akan ragu untuk mengundurkan diri karena tidak tahan menghadapi semua pengaturan Davin yang tidak tertahankan. Tapi untunglah Adit memilih posisi ini. Tingkat kesabarannya menghadapi Davin sudah tidak diragukan lagi kuat. Jika tidak, Davin mungkin sudah mengganti banyak asisten.


Davin tertawa rendah sementara kedua tangannya mulai terjalin dengan tangan lembut nan ramping milik Rein. Tatapan kedua matanya yang bersinar terang dipenuhi oleh gambar Rein tidak bisa menyembunyikan tatapan penuh cintanya yang tulus.


Dia telah terjerat dengan Rein sampai batas dimana hatinya sangat membenci perpisahan.


"Aku tidak pernah memintanya. Dia sendiri yang mau menemani anak-anak tidur. Lagipula kamu harusnya tahu betapa besar kasih sayang Adit kepada kedua bocah nakal itu?"


Bukan rahasia lagi bila Adit sangat menyukai Aska dan Tio.


"Yah...Adit menyukainya karena anak-anak kita berbeda dengan anak diluar sana. Mereka tidak nakal tapi jauh lebih cerdas dan agak cerdik." Ralat Rein jelas membangga-banggakan anaknya.


"Tentu saja karena mereka adalah anak-anak kita."


Lalu setelah itu Davin maupun Rein tidak berbicara lagi. Mulut mereka tertutup rapat dan kedua mata mereka mulai terpejam merasakan sapuan sejuk angin malam yang sangat menyegarkan.


Suasana diantara mereka sangat manis, seolah-olah mereka dibawa kembali pada tahun-tahun manis itu. Waktu itu mereka tidak sering pergi berkencan namun lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumah. Berdiri di depan balkon menikmati suasana malam sambil berpelukan untuk berbagi kehangatan, itu adalah momen tidak terlupakan di hati mereka.


"Davin," Rein perlahan membuka kedua matanya, dia menoleh kesamping, menatap wajah tampan Davin yang terpahat indah tanpa cela.


Davin merendahkan kepalanya,"Hem?"


Rein tersenyum, mengecup ringan bibir Davin sebelum berkata,"Ayo kita menikah."


...🌪️🌪️🌪️...


Meluruskan kedua kakinya yang panjang dan menyandarkan kepalanya di sofa untuk mencari kenyamanan.


"Sibuk apa? Bermain dengan model dan artis-artis itu?" Keluh wanita glamor itu sangat tidak puas dengan perkembangan putranya.


Di dalam hatinya dia sangat cemburu dengan Davin dan bertanya-tanya mengapa putranya tidak bisa seperti Davin?


Kenapa putranya sangat payah dan bodoh?


Bertahun-tahun disekolahkan di tempat yang mahal agar bisa memenuhi harapannya, tapi hasilnya nol besar. Revan berjalan ditempat yang sama tanpa kemajuan.


Bukannya membuat kemajuan dia malah sibuk bermain dengan para model dan artis di luar sana. Sangat menyebalkan!


"Aku butuh hiburan, Ma, dan mereka semua adalah mainan yang cukup bagus." Jawab Revan malas.


Mama cemberut,"Bermain! Bermain! Dan bermain yang hanya kamu tahu! Kenapa kamu tidak bisa serius sedikit saja dan belajar mengikuti jejak Davin agar kamu tidak terlalu dipandang rendah oleh orang-orang!"


Revan tersenyum dingin,"Bahkan sekalipun mereka menghina aku tidak akan pernah perduli karena semua kata-kata mereka tidak akan bisa menjatuhkan ku. Dan Davin, dia adalah seorang monster penggila kerja. Aku tidak akan pernah mengikutinya kecuali aku benar-benar gila." Cela Revan tanpa menyembunyikan nada jijik di suaranya.


"Baik lakukanlah apa yang kamu inginkan!" Teriak Mama marah,"Tapi jangan salahkan aku jika laki-laki tua bangka itu mengusir kamu dari rumah utama!"


Revan sangat terkejut,"Maksud Mama apa?!"


"Apa kamu bodoh atau berpura-pura tidak mengerti? laki-laki tua bangka itu sudah muak dengan semua masalah yang kamu buat. Dia tidak tahan dan akan mengusir kamu dari rumah jika kamu masih membuat masalah!" Teriak Mama menggebu-gebu sarat akan kemarahan.


Dia telah berungkali menasehati tapi tidak pernah didengar dengan serius oleh putranya yang payah dan mengecewakan. Sekarang lihat, suaminya yang tua dan lembek itu ingin mengusir putra mereka dari rumah utama karena sudah muak menghadapinya!


"Ma, ini tidak bisa dibiarkan-"


"Ini adalah kesalahan kamu. Padahal Mama telah berkali-kali mengatakannya agar jangan membuat masalah tapi jamu tidak mau mendengarkan ku!" Potong Mama melampiaskan keluhannya.


Revan gusar. Dia meraih tangan Mamanya memohon.


"Ini salahku, Ma. Ini memang salahku. Sekarang tolong katakan apa yang harus aku lakukan agar Papa tidak mengusirku. Aku tidak mau keluar dari rumah dan menjadi bahan tertawaan semua orang."


Mama tertawa dingin,"Sekarang kamu tahu untuk malu? Bukankah sebelumnya kamu tidak takut sama sekali dengan pendapat orang?"


Revan memeluk lengan Mama semakin gusar. Dia benar-benar panik karena dia tahu pasti bahwa ucapan laki-laki tua bangka itu serius dan tidak main-main. Jika laki-laki tua bangka itu ingin mengusirnya, itu mudah saja terjadi dan saat itu terjadi Mama ataupun orang rumah tidak memiliki kata-kata untuk mengeluh.


"Tolong, maafkan aku, Ma. Aku berjanji setelah ini tidak akan bermain lagi jika Mama mau memberikan ku jalan." Mama adalah orang yang paling dekat dan intim dengan laki-laki tua bangka itu.


Jadi pertolongan Mama sangat penting.


"Kamu ingin bantuan, aku punya cara. Tapi ini mungkin sedikit... berbahaya. Apa kamu mau mendengarnya?"