
Setelah sarapan Davin membawa Rein dan Tio ke sebuah tempat perbelanjaan terbesar di kota ini. Mereka mendatangi toko pakaian bermerk elite dari negara yang terkenal akan menara tingginya.
Kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh manager langsung toko yang telah memasang senyuman manis rasa bisnis di wajah cantiknya. Pakaian yang ia kenakan pun mengikuti merk tokonya, berdiri anggun di depan toko bersama para bawahannya.
"Tuan Davin, selamat datang di tempat kami." Wanita itu membuka pintu toko untuk Davin secara pribadi.
Sikap sopan nya ini pun ia tujukan kepada Rein dan Tio yang berpakaian jauh lebih sederhana dari Davin.
Tio terlihat sangat senang di dalam pelukan hangat Davin, sedangkan Rein yang selalu berjalan di belakang Davin tampak bingung dengan perubahan rencana Davin. Bukankah sebelumnya Davin ingin membawanya ke kantor?
"Tolong pilihkan baju terbaik untuk dia," Katanya seraya menunjuk Rein dengan tatapan matanya.
"Dan untuk putraku." Sambungnya mengakui Tio secara blak-blakan.
Kedua bola wanita itu membesar karena terkejut, namun sedetik kemudian ia kembali menampilkan senyuman profesionalnya yang ramah.
"Tentu, Tuan Davin, kami akan memberikan pakaian terbaik kami untuk putra dan teman Anda." Kata wanita itu memberikan sebuah jaminan.
"Tolong, ikuti saya." Pintanya kepada Rein.
Rein enggan membawa kakinya melangkah. Kedua matanya menatap jengkel laki-laki tampan yang kini sedang duduk santai di sofa dengan kaki disilangkan.
"Aku tidak mau." Tolak Rein.
Davin tersenyum miring,"Berani, hem?"
Ini adalah sebuah ancaman. Tanpa mengatakannya pun Rein tahu Davin sedang mengancamnya. Entah ancaman apa yang Davin lemparkan kepadanya namun yang pasti laki-laki ini tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Fine, dasar pemaksa!" Umpat Rein kesal seraya mengikuti wanita itu dengan emosi gondok.
Wanita itu membawanya ke barisan jas-jas modern khusus untuk wanita yang tampak sangat elegan dan masih menampilkan sisi feminim. Wanita itu tahu jika Rein adalah seorang wanita melihat betapa cantiknya Rein meskipun tidak terawat. Tapi rasanya agak canggung membawa Rein ke tempat pakaian wanita karena pakaian wanita di sini di dominasi oleh gaun-gaun indah.
Kecuali pakaian tertutup seperti jaket, sweater, dan semacamnya, Rein sangat cocok menggunakan itu semua.
"Aku tidak suka." Tolak Rein.
Wanita itu masih tersenyum, mengambil jas yang lain dengan warna yang lebih gelap dan tidak mencolok.
"Aku tidak suka." Lagi, Rein menolak tanpa mempertimbangkannya-
Oh, lebih tepatnya dia sangat mempertimbangkannya setelah melihat harga yang tercetak manis di dalam kartu jas-jas itu!
Wanita itu tidak frustasi, ia kembali mengambil jas yang lain tapi segera dihentikan oleh suara acuh tak acuh dari Rein.
"Aku tidak suka, aku tidak suka semua pakaian ini!" Tolak Rein tidak ingin berlama-lama di barisan jas ini lagi.
Senyum wanita itu segera menjadi kaku. Dia ingin mengatakan kata-kata pedas tapi tidak berani karena Rein adalah teman dari seorang Davin Demian, pebisnis nomor satu yang selalu tampil di majalah keuangan nasional.
"Aku suka semuanya." Ucap Davin tiba-tiba bagaikan embun pagi yang sangat menyegarkan untuk wanita itu.
"Ambil semuanya dan jangan dengarkan dia." Perintah Davin dengan nada malas, membuat indera pendengaran Rein iritasi.
"Kemudian," Tangan rampingnya yang panjang menunjuk deretan baju hangat ukuran besar yang ada di ruangan sebelah.
"Ambil semuanya dan langsung kirimkan ke alamat rumah ku." Perintahnya lagi membuat wanita itu dan para bawahannya memekik tertahan menahan senang.
Davin adalah klien pertama mereka yang berani membeli setengah dari stok toko dan ditaksir menghabiskan uang sebanyak dua miliar!
Apa-apaan!
Kenapa orang kaya begitu mudah menghambur-hamburkan uang?
Katakan, apa orang-orang kaya ini tidak salah menganggap uang adalah daun?
"Baik, Tuan. Kami akan segera mengirimkan semua barang-barang ini ke alamat, Anda." Ujar wanita itu ramah dengan ekspresi wajah berseri-seri.
Akhirnya mereka semua mendapatkan bonus!
"Ini berlebihan, aku tidak bisa menggunakan semua pakaian itu!" Lagipula dia tidak punya uang untuk menggantinya di kemudian hari.
Davin mengangkat bahunya acuh, membawa Tio yang baru saja berganti pakaian dengan menggunakan pakaian formal yang sangat imut ke dalam pelukannya. Dia tidak sungkan-sungkan mencium wajah putranya di depan orang banyak karena tidak bisa menahan betapa menggemaskan Tio saat ini.
"Jangan membuang-buang waktu. Segera ganti bajumu atau aku dan Tio akan pergi meninggalkan mu." Davin asal mengancam.
Rein memutar bola matanya lebih jengkel lagi.
Melewatkan jas-jas yang sudah diklaim menjadi miliknya, ia malah pergi mengambil sweater biru yang jauh terlihat tidak mencolok daripada pakaian yang lain.
Setelah itu ia berganti baju dengan cepat dan langsung keluar dari ruang ganti mengabaikan tatapan penuh ingin tahu dari orang-orang. Ia secara alami berdiri di samping Davin yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan... memuja?