
Untuk perhatian palsu ini Davin mana mungkin membuang tenaga untuk merespon betapa 'jenaka' Paman kecilnya yang terhormat. Daripada melayaninya berbicara lagi, Davin dengan santai mengalihkan pandangannya menatap wajah lembut kekasihnya yang selalu menyenangkan mata maupun hatinya.
"Aku sudah tua sekarang." Kata Kakek Demian langsung mendapatkan fokus semua orang di ruangan ini.
"Dan waktu bagiku jauh sangat penting dibanding dengan yang lainya. Jadi, aku harap kamu tidak mengecewakan ku dan membuat waktuku terbuang sia-sia. Usahakan, apa yang ingin kamu bicarakan sebanding dengan waktuku yang berharga." Kata-kata peringatan ini Kakek Demian arahkan kepada Revan, sang pelaku yang telah menyeret semua orang berkumpul di sini.
Nenek tahu temperamen Kakek Demian, jadi dia buru-buru mendesak putranya agar langsung membicarakannya dan jangan terlalu bermain-main.
"Revan, dengarkan apa yang Papa kamu katakan tadi. Berbicaralah dan jangan menyia-nyiakan waktu Papa." Kata Nenek dengan makna tertentu.
Revan segera menegakkan punggungnya. Dia terlihat sangat serius dan jauh lebih dewasa daripada sebelumnya. Dihadapan banyak anggota keluarga, terutama di depan Kakek Demian, dia ingin membuktikan bahwa dia jauh lebih layak mewarisi keluarga daripada Davin, si pewaris lumpuh dan cacat.
"Aku mengerti, Ma." Balasnya sigap.
"Papa," Katanya pada Kakek Demian, mengangguk ringan dan beralih menyapu pandangannya melihat semua orang.
"Dan semua anggota keluarga besar Demian, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian-"
"Sebelum itu, bolehkah aku bertanya kepada Kakek ataupun siapapun yang merasa memiliki kaki tangan dalam masalah ini." Suara tenang Davin memotong ucapan Revan.
Revan langsung menoleh menatap Davin kesal. Dia menatap sengit Davin karena tidak terima Davin memotong ucapannya. Padahal dia sudah menyiapkan diri dari semalam dan menyusun kata-kata yang akan dia sampaikan malam ini dengan sangat hati-hati.
Davin mengernyit, berpura-pura tenggelam dalam pikirannya sebelum lanjut berbicara,"Ada wartawan dari berbagai macam media di luar. Mereka pasti sengaja diundang untuk meliput di rumah ini melihat tidak ada satupun pihak keamanan yang mengusir mereka. Jadi, undangan ini, apakah aku boleh tahu siapa yang telah mengirimnya?"
Benar, kedatangan para wartawan sangat mencolok diluar sana tapi pihak keamanan mengizinkan mereka masuk untuk meliput video. Adanya wartawan ketika keluarga sedang melakukan pertemuan pribadi sejujurnya tidak dibenarkan karena mereka akan sangat mengganggu waktu santai dan reuni semua anggota keluarga.
Jadi rasanya aneh melihat para wartawan bebas meliput berita diluar.
"Itu aku." Revan menggertak kan giginya marah sekaligus malu.
Dia belum menyerang tapi Davin sudah mengungkapkan kesalahannya di depan Kakek Demian.
"Aku yang sengaja mengundang mereka."
Davin mengangkat salah satu alisnya dengan ekspresi menyelidik yang dibuat-buat, dia sangat menjiwai sandiwaranya malam ini,"Oh, apa Paman kecil sudah meminta izinku sebelumnya saat akan mengundang mereka? Di rumah ini Paman kecil tidak lupa bukan jika aku adalah pemegang otoritas tertinggi setelah Kakek. Apapun yang terjadi di rumah ini dan siapapun yang datang ke rumah ini harus melewati izinku terlebih dahulu! Seharusnya Paman kecil tidak melupakan ini tapi kenapa masih mengundang banyak wartawan di luar? Dengan kondisiku seperti ini, apakah nyaman rasanya dijadikan bahan tontonan orang banyak di luar sana?" Cecar Davin dengan tegas menunjukkan otoritasnya di rumah ini.
Kata-kata dan ekspresi wajahnya terlihat sangat meyakinkan, dan langsung mendapatkan kepercayaan semua orang jika Davin benar-benar marah dengan perlakuan 'berontak' Revan. Mereka semua terdiam, mengarahkan pandangan mereka ke arah Revan dengan sikap 'mari kita melihat pertunjukan '.
Mereka hanyut dalam sandiwara Davin kecuali Rein yang sedari tadi berusaha menjaga wajahnya tetap dingin dan acuh tak acuh.
"Nah, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Aku terpaksa mengundang mereka karena ini menyangkut apa yang ingin aku katakan kepada semua orang."