
"Gak mau! Tio gak suka Mommy!" Tolak Tio semakin cemberut.
Mata besarnya kemudian beralih melihat sosok yang selama ini melindunginya dari serangan pemilik tangan kurus itu. Dia segera berlari dan memeluk pahanya manja tampak mengadu.
"Uncle Dimas.. uncle Dimas tolong bilangin Mommy kalau Tio gak suka mandi ail dingin.." Bila Tio sudah bermanja-manja seperti ini, Dimas tidak akan bisa menolak permintaannya.
Dimas menghela nafas panjang, membawa Tio ke dalam pelukannya seraya berjalan mendekati pemilik tangan kurus itu.
"Masak air secentong aja apa susahnya sih, Rein? Kasian tahu anak lo masih kecil tapi udah dipaksa aja mandi air dingin." Keluhnya kepada Rein tapi tangan kanannya tidak berhenti mengunyel-ngunyel pipi gembul Tio.
Melihat betapa kurusnya Rein, dia curiga jika semua gizi sahabatnya itu selama ini disedot habis oleh Tio setiap hari. Pasalnya Rein dan Tio sangat berbanding terbalik bila mengenai fisik.
"Gue bukannya malas masak air, Dim, tapi gue mau biasain anak gue biar bisa hidup apa adanya. Gue gak mau manjain dia terus-terusan apalagi dengan keadaan ekonomi kita yang seperti ini." Ujar Rein beralasan.
Dia menatap tidak berdaya pada daging gembul yang ada di dalam pelukan Dimas. Entah dilihat dari sisi manapun Tio seolah terlahir menjadi versi kecil laki-laki yang sudah menghancurkan hatinya.
"Dia masih 4 tahun, Rein, masih kecil. Udah lo masak air aja sana, biar Tio gue yang jaga." Dimas duduk di atas lantai bersama Tio.
Mendudukkan Tio di depan tumpukan mainan yang sudah acak-acakan karena ulah Tio sendiri.
"Hah..lo, ah." Rein mengalah.
Dia masuk ke dalam dapur untuk memasak air hangat. Sambil menunggu air mendidih dia menyempatkan diri untuk memasak nasi goreng sebagai sarapan mereka. Nasi goreng yang Rein buat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk Tio dan Dimas yang suka menggunakan kecap tapi tidak suka memakan pedas. Sedangkan bagian lainnya lagi untuk Rein yang tidak suka menggunakan kecap dan lebih suka sensasi pedas.
Di apartemen kecil ini mereka hanya tinggal bertiga. Rein bertugas sebagai orang yang membersihkan apartemen dan memasak sedangkan Dimas bertugas untuk mencari nafkah. Tapi beberapa bulan ini Rein sudah mulai bekerja menjadi office girl di perusahaan tempat Dimas bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri meskipun tidak banyak.
Tidak terasa, sudah berlangsung selama 5 tahun lamanya sejak Rein tinggal di sini dengan Tio, anaknya.
"Lo sarapan duluan, Dim, biar gak telat masuk kerja." Rein buru-buru memberikan Dimas dan Tio nasi goreng mereka.
"Hari ini gue masuk agak siangan jadi masih bisa santai dikit." Katanya sambil memasukkan sesuap nasi goreng.
"Kok gak ada telurnya, Rein?" Biasanya selalu ada telur ceplok di atas sarapan mereka.
"Telurnya habis kemarin dimakan sama Tio." Jawab Rein dari dapur.
Dia kemudian membawa panci air panas itu masuk ke dalam kamar mandi. Di tumpahkan ke dalam bathub yang sudah berisi air dingin.
"Mommy.. Mommy..maem.." Tio diluar berteriak memanggil.
"Tio makan sama uncle Dimas dulu yah.." Rein masih sibuk di dalam kamar mandi.
Dia harus mengaduk-aduk air di dalam bathub agar cepat menghangat.
Seharusnya tindakan ini tidak berarti apa-apa karena sekuat apapun dia mengaduk air akan menghangat ketika waktunya tiba. Ini sudah menjadi kebiasaannya untuk membunuh rasa bosan bertahun-tahun yang lalu.
"Mommy..Tio lapel.." Tio dan Dimas sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Tio gak mau sarapan kalo gak sama lo, Rein. Udah..biarin aja airnya gitu, setelah kita selesai sarapan airnya pasti udah hangat." Dimas menarik Rein masuk ke dalam.
Di lantai sudah ada piring nasi goreng Rein yang terlihat lebih hambar dari piring milik Dimas dan Tio.
"Dasar manja!" Rein mengunyel-ngunyel pipi gembul Tio merasa gemas.
"Tio ngikutin siapa sih manjanya, Mommy dulu waktu kecil gak manja begini."
"Ya kalo gak ngikutin lo si Tio pasti ngikutin Ayahnya lah.." Dimas asal berbicara.
Dia lupa kata-kata ini sangat sensitif bagi Rein.
Gerakan tangan Rein segera menjadi kaku. Kedua mata besar Tio kini menatapnya dengan pandangan polos.
"Siapa Ayah?" Mulut kecilnya bertanya kebingungan.