
"Apa kamu lelah?" Bisik Davin seraya menjangkau puncak kepala kekasihnya.
Dia menarik kekasihnya ke dalam pelukannya tapi Rein lebih dulu menolak. Daripada masuk ke dalam pelukan Davin, dia malah menjangkau kepala Davin dan merebahkannya di atas pahanya agar bisa beristirahat.
"Kamu pasti lelah, Dav. Ayo, istirahatlah. Aku akan membantumu memijat kepala agar kepalamu lebih nyaman." Kata Rein dengan nada selembut mungkin.
Davin tidak menolak tawaran kekasihnya karena dia sendiri juga tidak bisa menyembunyikannya kelelahan di hatinya. Rasanya sangat menyesakkan. Meskipun hasil akhirnya dia bisa menenangkan pertempuran tapi hatinya tetap saja tidak nyaman karena mereka juga keluarganya.
"Tidurlah, aku akan membangunkan kamu saat kita sudah sampai di rumah." Bisik Rein seraya mulai memijat kepala kekasihnya.
Tangannya yang ramping dengan hati-hati memijat kepala Davin, bergerak selambat dan sehati-hati mungkin agar kekasihnya bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Lalu di dalam mobil limusin perak tiba-tiba menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara lagi baik Rein maupun Davin karena mereka masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bila Rein mengkhawatirkan kekasihnya yang kini tengah tertidur di atas pangkuannya, maka Davin justru masih belum melepaskan diri dari kejadian beberapa saat yang lalu.
Orang-orang yang pantas disingkirkan akhirnya pergi tapi dia selalu merasa jika menyingkirkan mereka adalah tindakan yang sangat jahat.
"Apakah aku terlalu kejam kepada mereka?" Bisik Davin dilema.
Rein tercengang, dia pikir Davin sudah tertidur tapi nyatanya dia masih sadar.
"Tidak, kamu melakukannya dengan baik dan benar karena orang-orang seperti mereka pantas mendapatkannya. Jika kamu tidak menyerahkan mereka ke polisi, aku takut mereka akan terus mengincar mu dan bahkan berusaha menyakiti anak-anak kita. Jika itu terjadi aku tidak akan sanggup menahannya."
"Rein, terima kasih." Ucap Davin sangat tulus.
Rein tersenyum,"Untuk apa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa dan hanya menonton mu bekerja."
Dia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa selain memasak, menjaga anak-anak, dan memanjakan Davin. Dia tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang tapi rasanya sungguh membahagiakan saat melayani anak-anak dan kekasihnya.
"Kamu telah melakukan banyak hal untukku dan anak-anak. Tanpa semangat darimu, aku mungkin masih tidak bisa berjalan sampai sekarang, tanpa masakan mu yang lezat, anak-anak mungkin lebih suka bermain di luar sana, dan tanpa kehangatan darimu, rumahku mungkin bukan rumah yang ingin ku tinggali. Rein, kamu adalah wanita yang luar biasa. Kamu telah melakukan banyak hal untuk kami semua. Adanya kamu memberikan aku kesempatan untuk merasakan bagaimana keluarga itu yang seharusnya dan betapa hangatnya rumah kita. Aku... mungkin akan gila bila kamu pergi meninggalkan ku." Apa yang dia katakan tidak palsu, semuanya muncul dari dalam hatinya yang tulus. Dia ingin Rein, hidup bersama Rein, dan menua bersama Rein.
Tanpa Rein, dia tidak akan bisa menjalani hidup dengan baik.
"Aku bahagia mendengarnya, Davin. Aku bahagia kamu juga bahagia bersamaku. Dan kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu. Kecuali kamu yang meminta, aku tidak akan pernah pergi menghilang darimu." Kecuali bila Davin sendiri yang mulai bosan kepadanya dan memintanya untuk pergi, Rein tidak akan ragu untuk menghilang meskipun rasanya sangat menyakitkan.
"Kamu lebih tahu dari siapapun jika aku adalah laki-laki yang sangat posesif. Aku tidak akan pernah meminta kamu pergi apalagi membiarkan kamu pergi meninggalkan ku. Aku tidak suka memikirkannya dan jangan katakan itu lagi. Daripada memintamu pergi, aku lebih suka mengurung mu di dalam rumah, mengunci mu dan tidak akan pernah membiarkan siapapun melihatmu. Apakah kamu mendengar ku" Davin menjawab sangat serius, membuat Rein geli dan gatal ingin mencubit rahang kerasnya.
"Yah, aku mendengar mu. Kita....akan selalu bersama dalam hidup ini, Dav. Jangan khawatir." Bisik Rein sambil menahan tawanya, tapi jika diperhatikan baik-baik kedua matanya saat ini terlihat basah tampak sangat tersentuh.
Benar, mereka akan selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan, selamanya.