My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
77. Pelampiasan



Club' Edelweis adalah club' malam kelas atas yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang berkantong tebal. Mereka yang diizinkan masuk adalah orang yang telah mendaftar kartu keanggotaan dengan pelayanan tingkat premium.


Club' Edelweis sejatinya lebih sering digunakan sebagai tempat untuk melakukan pertemuan bisnis tertutup atau menghabiskan waktu dengan minuman beralkohol tinggi daripada bersenang-senang dengan wanita.


Tempat ini sangat menghormati privasi tamu yang datang berkunjung. Mereka akan memberikan pelayanan kelas atas untuk alkohol, pelayanan, fasilitas, bahkan wanita penghibur yang banyak berasal dari model dan artis.


"Biru laut." Kata Davin setelah melempar kartu keanggotaannya kepada pelayan sopan yang berdiri di depan pintu masuk bersama beberapa pengawal club'.


Davin berjalan angkuh, wajah dinginnya yang tampak tidak bersahabat membuat para wanita mundur tidak mempunyai keberanian untuk mendekati.


Davin adalah tamu baru di club' Edelweis tapi malam ini adalah kunjungan keduanya di tempat ini.


Pelayan club' sudah mengenali Davin sebagai tamu penting yang tidak boleh disinggung. Bosnya pernah mengatakan bila Davin datang berkunjung ia harus memberikan sebuah pelayanan terbaik.


Oleh sebab itu pelayan club' tersebut buru-buru mengejar Davin untuk menawarkan kenyamanan yang tidak bisa didapatkan di club' malam lainnya di kota ini. "Apa Anda membutuhkan-"


"Tidak, perlu." Adit segera menarik pundak pelayan itu dingin.


"Bos ku hanya ingin menenangkan diri saja. Tapi jika kamu bersikeras mengirim seseorang ke sana, maka kamu dan pemilik tempat ini mau tidak mau harus menerima sapaan hangat dari bos ku." Ancam Adit acuh tak acuh tanpa niat tinggal lebih lama lagi untuk menonton reaksi konyol pelayan itu.


Adit berjalan ringan mengikuti langkah Davin, di belakangnya sekumpulan bodyguard berjas hitam dengan wajah datar mengikuti. Mereka melewati pelayan itu tanpa memberikan wajah. Langkah yang terlatih dan ekspresi membosankan di wajah mereka menunjukkan jika bodyguard Davin bukanlah sembarang orang.


Mereka seolah berasal dari kamp militer, tapi apa itu mungkin?


"Astaga, pantas saja bos memperingati ku agar tidak menyinggungnya." Bisik pelayan itu dengan tubuh bergidik ngeri.


Tidak mau tinggal lebih lama lagi, dia lalu kembali keluar untuk menyambut tamu-tamu yang lain.


...🍃🍃🍃...


"Pak, apa yang ingin Anda minum?" Suara bartender menarik Davin dari lamunan.


Davin melambaikan tangannya meminta bartender itu segera pergi dan digantikan oleh salah satu bodyguardnya yang berpengalaman juga telah mendapatkan sertifikat resmi bartender.


"Seperti biasa, Pak?" Tanya bodyguardnya sopan yang kini menjelma menjadi bartender.


"88 persen." Pintanya membuat gerakan tangan bartender membeku. Ia lalu berpaling menatap Adit ragu.


Adit menghela nafas panjang.


"70 persen." Kata Adit membuat Davin berdecak tidak suka.


Davin adalah pemabuk handal sejak berpisah dengan Rein. Kehidupannya menjadi lebih buruk dan ia pun suka keluar masuk club' malam untuk mabuk-mabukan. Bahkan di rumahnya Davin menyiapkan satu ruangan luas yang berisi beraneka macam botol-botol alkohol dari merk-merk tertentu. Dia sangat sulit mengendalikan dirinya saat itu. Namun, karena ada Adit di sampingnya, kebiasaan itu mulai bisa dikendalikan dan perlahan Davin mulai mengurangi kebiasaan mabuknya sampai tahap dimana ia tidak lagi menyentuh.


Tapi sejak datang ke kota ini dan bertemu dengan Rein, bos besarnya ini sudah dua kali kehilangan kendali. Tenggelam dalam alkohol yang menjerat leher.


"Kamu adalah bawahan ku sekarang." Davin mengingatkannya tajam.


"Pak, di rumah Anda sekarang ada Rein dan Tuan muda. Aku pikir mereka tidak akan suka melihat Anda pulang dalam keadaan mabuk."


Davin terdiam, bayangan wajah Rein ketika marah dan bayangan wajah Tio ketika sedang tertawa mulai memenuhi pikirannya lagi.


"40 persen." Dia mengalah untuk kedua orang yang ia cintai namun perasaan sesak dihatinya saat ini menuntut untuk segera dihilangkan karena itulah ia tetap ingin minum alkohol.


Adit mengangguk puas. Dia lalu memerintahkan bartender untuk mempersiapkannya sesegera mungkin.


Tak butuh waktu lama minuman Davin akhirnya siap. Davin segera meminumnya dalam satu tegukan dan meminta lagi. Ini terus berulang-ulang sampai akhirnya ia menjadi lebih tenang. Davin menatap minuman beralkohol yang ada di depannya, atensi tajam miliknya memang menatap gelas tersebut namun pikirannya sudah melayang pergi pada tahun itu.


Tahun dimana ia harus kehilangan orang yang ia cintai.


Flash Back On


Plak


Suara tamparan keras bergema nyaring di dalam ruang keluarga. Membuat orang-orang yang kini sedang berkumpul menonton pertunjukan dengan lihai menutup mulut untuk menyembunyikan senyum di bibir mereka.


"Apa-apaan ini!" Laki-laki paruh baya, sang pelaku yang telah menampar pemuda jangkung nan tampan itu melemparkan puluhan foto sepasang kekasih yang diambil dari berbagai macam sudut pandang.


Ekspresi pemuda jangkung itu seketika berubah ketika melihat fotonya dan sang kekasih yang dilempar kasar ke lantai. Dengan panik ia berjongkok di lantai untuk mengumpulkan foto-foto itu, foto yang diambil secara diam-diam dan tanpa seizinnya tapi sangat penting untuk dirinya.