
Dimas menarik selimut Ail dan ikut bergabung kedalamnya. Nyaman, tangan besar Dimas lalu menarik Ail agar lebih dekat lagi dengannya dan memeluk tubuh mungil nan kurus itu ke dalam sentuhan yang hangat.
Tidur Ail terganggu pada awalnya. Karena dia tiba-tiba merasakan suhu hangat menyelimuti tubuhnya. Risih, pinggangnya agak berat seperti ada beban yang memberatkan. Dia kemudian meraba-raba pinggangnya masih terjebak dalam kantuk- tidak, tubuhnya langsung menegang panik dengan kedua mata terbelalak sepenuhnya.
Entah dari sejak kapan sebuah tangan kuat melingkari pinggangnya. Tangan itu besar, tidak memiliki otot yang terlalu menonjol tapi memiliki suhu hangat yang nyaman.
Bingung, jari-jari tangan besar itu tampak sangat familiar. Di dalam benaknya berkelebat bayangan seseorang yang seharusnya tidak dia pikirkan. Namun, bila bukan dia lalu siapa?
Siapa-
"Huss, tidurlah. Aku sangat lelah hari ini." Terdengar suara berat dari atas kepalanya.
Tubuh Ail langsung menjadi kaku. Ternyata benar-benar dia. Orang ini tiba-tiba tertidur di sampingnya dan sekarang sedang memeluknya hangat.
Ini adalah bagian dari malam yang tidak pernah berani dia bayangkan.
"Jangan terlalu banyak berpikir, tidurlah Ail." Suara itu sekali lagi membujuknya.
Agak berat dan memiliki rasa malas karena terlalu lelah setelah beraktivitas seharian.
Mau tidak mau Ail mencoba menahan kegugupan di hatinya. Di dalam hati dia berdoa semoga Tuhan segera membawa Dimas ke alam mimpi agar jejak kegugupannya tidak bisa dirasakan oleh Dimas.
Rasanya aneh.
Aneh, sungguh aneh. Orang yang ingin dia hindari karena perasaan kacau di dalam hatinya kini tengah berbaring di atas ranjang yang sama sambil memeluknya pula. Ini adalah skenario yang tidak pernah Ail bayangkan sebelumnya.
Jujur ini aneh tapi entah kenapa dia tidak mau kehilangan momen ini. Pelukan hangat dengan sentuhan suhu tubuh yang hangat pula, masuk ke dalam hatinya dan tanpa ampun menyentuh titik terdalam hatinya.
Perasaan ini.... entahlah, sudah berapa lama dia tidak merasakannya lagi.
🌪️🌪️🌪️
Pukul 4 pagi Ail bangun dari tidurnya dan sekali lagi tercengang melihat Dimas masih di atas ranjangnya tapi tidak lagi ada pelukan. Tidurnya sangat nyenyak dan Ail tidak tega membangunkannya.
"Ternyata semalam bukan mimpi." Gumam Ail senang.
Ail memperhatikan wajah tampan dan dewasa Dimas, diam-diam mengagumi betapa luar biasanya sosok Dimas di dalam hatinya. Dimas sudah tampan dan memiliki hati yang hangat. Kebaikannya telah tertanam jauh di dalam hatinya.
Kukuruyuk...
Suara ayam jantan mulai bersahut-sahutan di luar sana dari rumah warga.
Ail tidak lagi terjebak dalam lamunannya dan dengan gerakan hati-hati turun dari atas ranjang. Hari ini dia akan melalui pagi seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun pukul 4 pagi, mandi dan melaksanakan ibadah lalu pergi menyiapkan sarapan yang akan dibawa ke sawah nanti. Ail tidak memasak tapi hanya membantu Nenek saja.
Nenek bilang dia adalah seorang perempuan dan sudah hakikatnya bangun pagi untuk menyiapkan segala macam pekerjaan di rumah.
"Hei, pukul berapa sekarang?" Dimas tiba-tiba bangun.
Belum sempat Ail menjawab Dimas sudah mengetahuinya dari jam di atas dinding.
"Kamu akan pergi mandi?" Tanya Dimas sambil mendudukkan dirinya di kasur.
"Iya, Paman. Aku mau mandi dan membantu Nenek di dapur." Jawab Ail polos.
"Oh, kalau begitu..." Dimas meraba-raba saku celananya dan mengambil sesuatu.
Setelah menemukan apa yang dia cari, dia lalu memberikannya kepada Ail.
"Ambillah." Sambil menyerahkan benda itu.
Ail mengulurkan tangannya ragu melihat kotak biru dan hitam yang diberikan Dimas. Rasanya kedua benda ini agak familiar tapi dia tidak yakin pernah melihatnya dimana. Saat membacanya juga Ail tidak mengerti karena benda ini menggunakan bahasa Inggris.
"Ini.."
Dimas menatap Ail dengan ekspresi yang sangat lembut.
"Tespek. Diamkan benda ini di dalam air urine pertama mu hari ini selama 15 menit. Setelah selesai kamu bisa memanggilku untuk melihatnya." Kata Dimas lembut namun tidak bisa menyembunyikan ekspresi rumit di hatinya.
"Tespek?" Ail tidak tahu benda apa ini.
Dimas tidak mengira bila Ail tidak mengetahui tentang kegunaan benda ini. Namun ini bukanlah sesuatu yang aneh mengingat Ail dulu menjalani kehidupan yang sangat sulit sebelum bisa bertemu dengannya.
Menghela nafas berat. Dimas meraih tangan Ail dan menariknya agar duduk di sisi ranjang. Wajah kebingungan Ail tampak sangat polos. Jujur, di dalam hatinya Dimas tidak mau menodai kepolosan wajah itu dengan berita buruk yang akan terucap di bibirnya. Tapi apa yang bisa Dimas lakukan?
"Benda ini untuk mengecek apakah kamu sedang hamil atau tidak." Kata Dimas mengagetkan Ail.
Dimas sudah memperhatikannya selama beberapa bulan ini. Semenjak Ail datang ke rumah ini dia tidak pernah menstruasi atau datang bulan. Dimas pikir itu karena dampak stres tapi setelah diperhatikan lebih jauh hasilnya masih sama. Dia tidak pernah datang bulan. Dan dari pengamatannya inilah muncul kecurigaan bila Ail sedang mengandung benih laki-laki tak berotak di luar sana. Dia sangat marah tapi juga tidak berdaya karena semuanya telah terjadi. Dia tidak akan bisa memutar waktu untuk menghentikan semua kejahatan itu terjadi.
"Hamil, yah." Gumam Ail sedih.
Dia langsung menyadari betapa kotornya dia selama ini. Betapa tidak tahu malunya dia selama ini. Malam-malam menyakitkan itu, mana mungkin dia bisa melupakannya. Malah setiap rasa sakit terukir tajam di dalam memorinya.
"Kalau begitu aku akan mengeceknya." Tangannya mengepal menyembunyikan rasa malu dan gelisah nya.
Dia kemudian beranjak dari duduknya dan ingin segera melarikan diri dari dalam kamar, namun pergelangan tangannya tiba-tiba ditangkap oleh Dimas sehingga membuat langkah Ail tertahan.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu." Kata Dimas pelan, sangat pelan.
Kata-kata ini membuat Ail kian sedih. Dia hanya mengangguk ringan sebagai respon. Menunggu Dimas melepaskan pergelangan tangannya. Dimas melihatnya bungkam tidak berniat mengatakan apa-apa.
Menghela nafas panjang, dia akhirnya melepaskan tangan Ail dan membiarkannya pergi ke kamar mandi di luar.
Dimas mengusap wajahnya kasar. Rasa kantuknya langsung menghilang ketika memikirkan ekspresi sendu di wajah Ail.
Ail, terkadang seperti anak kecil, polos dan terkesan tidak mengerti dunia. Tapi di samping itu, terkadang Ail juga akan menampilkan sisi seorang gadis kesepian selayaknya seorang wanita dewasa yang telah melalui banyak kesulitan dunia.
Dimas merasa tidak berdaya untuknya.
"Aku harap semua yang ku takutkan tidak pernah terjadi dan ku harap, Ail... Bisa bangkit kembali untuk menjalani kehidupannya. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi dan aku juga berjanji akan menghilangkan jejak menjijikkan itu dari dalam kehidupannya. Aku berjanji, Tuhan." Ucap Dimas dengan suara rendahnya yang diwarnai nada serius dan penuh pengharapan.