
Aku menatap layar ponselku yang perlahan mulai meredup dan menghitam. Aku tidak menyangka bila mas Adit baru saja menghubungiku. Tidak hanya menghubungiku, tapi dia juga mengizinkan ku pergi menemuinya di kantor besok. Aku sangat senang. Setelah sekian lama merindukannya, Tuhan akhirnya memberikan ku kesempurnaan untuk mendengar suara rendahnya lagi dan bahkan aku juga bisa menemuinya besok!
Ya Tuhan, betapa senangnya aku.
"Aku harus segera kembali ke kamar dan tidur biar besok bisa bangun pagi untuk memasakkan mas Adit sarapan. Oh, aku juga harus memasakkan mas Adit makan siang biar dia tidak melewatkan makan siangnya lagi. Em, kalau nyonya Rein mengizinkan ku lagi, aku ingin mengantarkan mas Adit makan malam. Yah, sudah diputuskan dan kuharap semuanya bisa berjalan dengan baik." Aku mulai merangkum rencana ku besok.
Mulai dari sarapan hingga makan malam, aku telah memikirkan menu makanan apa yang akan aku buatkan mas Adit. Aku tidak tahu mas Adit suka makan apa karena selama ini dia selalu makan semua yang ku masak dan tidak pernah memberikan komentar suka ini atau tidak suka itu.
"Mungkin mas Adit bukanlah orang yang pilih-pilih makanan. Yah, Anggi, buatkan saja dia apapun yang pernah aku masak untuknya dan yang paling cocok dengan situasi mas Adit."
Setelah membuat rencana, aku kembali ke dalam kamarku dan segera tidur setelah membersihkan diri di kamar mandi. Sebelum tidur aku pertama-tama menyiapkan alarm karena takut ketiduran karena terlalu gugup. Biasanya orang kalau terlalu gugup suka bangun kesiangan dan aku takut besok tiba-tiba bangun kesiangan.
Setelah menyetel alarm di ponsel dan di jam weker atas nakas, aku akhirnya bisa santai dan segera memasuki alam mimpi.
Hem, sebenarnya aku tidak melihat apa-apa selain tidur yang nyaman dan damai. Mungkin karena aku terlalu lelah hari melakukan berbagai macam aktivitas sehingga tidak menyadari betapa lelahnya tubuhku.
...***...
Pukul 4 pagi aku bangun beberapa menit sebelum alarm ku berbunyi. Aku buru-buru mematikannya di ponsel dan di jam weker karena takut telingaku dikejutkan oleh suaranya yang nyaring.
Bangun tidur aku membereskan tempat tidur, mengambil gaun selutut yang telah aku persiapkan tadi malam dan pergi mandi ke kamar mandi. Tidak ku sangka hari ini aku tidak hanya tidak bangun kesiangan tapi aku malah bangun lebih pagi dari biasanya. Aku senang dan berharap ini adalah awal yang baik.
Kebetulan hari ini aku berhalangan jadi aku bisa santai memasak di dapur untuk membuat sarapan dan makan siang mas Adit. Sepanjang memasak di dapur bibirku tidak pernah berhenti tersenyum. Rasanya bahagia sekali bisa mengunjungi mas Adit. Ops, mengapa aku memiliki ilusi bila aku akan datang menemani suamiku yang sedang sibuk bekerja di kantor?
Apa-apaan, hubungan kami masih belum dikonfirmasi tapi ilusi sudah melambung jauh.
"Woah, hari ini pasti ada kabar baik yang menyenangkan makanya mbak Anggi enggak pernah berhenti tersenyum."
"Nyonya, selamat pagi." Aku segera menyapanya.
"Selamat pagi. Ikut senang deh liat mbak Anggi senyum terus." Katanya masih dengan nada tinggi akrab seperti dulu.
Nyonya Rein tidak pernah membedakan ku, dia selalu memandang ku sama seperti saat kamu masih bersahabat.
"Em, nyonya hari ini aku sangat senang." Kataku malu-malu.
"Oh ya, mbak Anggi senang karena apa?" Dia langsung bertanya.
Aku masih belum bisa mengatakannya sekarang.
"Ini nyonya...aku belum bisa memberitahu nyonya sekarang." Kataku malu.
Ku harap dia tidak marah.
"Oh tidak apa-apa, ini adalah privasi mbak Anggi. Aku tidak marah kok dan malah ikut senang dengan senyuman mbak Anggi." Katanya segera membuatku lega.
Nyonya Rein selalu seperti ini. Bersamanya selalu membuatku nyaman dan mudah tersenyum. Bahkan perhatiannya membuat hatiku dengan mudahnya menghangat karena dalam hidup ini nyonya Rein adalah satu-satunya sahabat yang selalu ada untukku dikala susah juga senang.
Bersambung...
Maaf, saya kurang enak badan jadi nulisnya cuma sedikit...