My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
98. Nyonya Kami



Rein saat ini sedang duduk bersantai di pinggir danau, melihat cahaya matahari perlahan menghilang dari langit. Pemandangannya cukup bagus pikir Rein.


"Oh, jadi benar apa yang dikatakan para karyawan jika di sini ada penggoda tidak tahu malu yang terus mengikuti Pak Davin kemana-mana?" Suara bernada pedas dan culas menarik Rein dari lamunannya.


Dia menoleh ke belakang, melihat Yuni dan beberapa perempuan berdiri tidak jauh darinya. Mereka tampil cantik dan telah berdandan rapi pula, berbanding terbalik dengan Rein yang tampil sederhana- dengan semua pemberian Davin yang terpaksa ia gunakan.


"Eh, jangan besar-besar dong kalau ngomong, Yun. Nanti kalau dia denger gimana?" Teman Yuni yang lain mengingatkan- jelas ini hanya ejekan saja karena faktanya dia juga membesarkan volume suara dan Rein tahu dia melakukannya dengan sengaja.


Yuni tersenyum miring,"Kalau dia dengar emangnya, kenapa? Toh, urat malunya juga sudah lama putus. Menjadi wanita penggoda saja dia tidak malu apalagi dibicarakan orang, dia tidak akan malu asal kalian tau saja." Yuni mengejek, merendahkan Rein dihadapan teman-teman kerjanya.


Seolah-olah dengan mengatakan ini ia bisa menjadi lebih tenang dan Rein tidak akan memiliki wajah lagi tampil di dekat Davin. Sungguh, betapa besar kecemburuannya kepada Rein, pekerja kasar yang bisa berjalan dengan mudah di samping Davin tanpa perlu mengkhawatirkan kasta.


Sementara itu, orang yang menjadi topik pembicaraan tampak tidak tertarik sama sekali. Ia tidak ingin angkat bicara untuk sekedar membantah ucapan mereka karena ia tahu itu semua tidak ada gunanya.


Mereka tidak akan diam dan bisa dipastikan akan semakin menjadi-jadi.


Rein diam tidak membalas tapi tidak dengan Adit yang selalu berdiri jauh mengawasi Rein atas perintah Davin. Bosnya itu berpesan jika Rein diganggu atau mendapatkan masalah, ia bisa turun tangan langsung untuk membantu Rein.


"Ahahah...lihat, dia tidak bisa berbicara karena-"


"Karena kalian tidak ada bedanya dengan orang idiot yang tidak pernah sekolah." Potong Adit dingin.


Dia berjalan lurus mendekati kelompok Yuni, menatap mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi yang agak menakutkan.


"Pak...Pak Adit?" Yuni ketakutan, wajahnya menjadi pucat pasi.


Siapa yang tidak mengenal Adit? Laki-laki yang selalu mengekori Davin kemanapun pergi. Meskipun jabatannya tidak disebutkan, tapi semua orang tahu jika Adit adalah orang penting Davin.


Adit masih berwajah datar,"Nyonya Rein adalah orang penting perusahaan, terutama untuk Bos Davin sendiri, kalian tidak diizinkan mengganggu atau memberikannya sebuah masalah. Jika tidak, aku bisa menjamin ada banyak hal buruk yang telah menanti kalian di masa depan nanti. Apa kalian, paham?" 


Yuni dan teman-temannya dilanda keterkejutan. Mereka tidak berani membuat suara dan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti. Aura dingin yang Adit bawa sungguh tidak main-main, mereka semua berhasil tidak berkutik dibuatnya. Juga, jangan lupakan sorot mata tajamnya yang menakutkan itu, mereka amat sangat mengerti jika apa yang Adit katakan tidak main-main.


"Aku-aku akan meminta maaf kepadanya, Pak." Salah satu teman Yuni yang tidak ingin membuat masalah dalam karir pekerjaannya memutuskan untuk meminta maaf kepada Rein.


Ketahuilah hidup dan karirnya jauh lebih penting di sini, Okay!


"Tidak dibutuhkan." Adit tidak memberikan izin.


"Nyonya ku tidak perlu membuang-buang waktunya hanya untuk berurusan dengan kalian. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan oleh Nyonya ku daripada melayani omong kosong kalian," Atensinya lalu beralih menatap wajah pucat Yuni yang sebelumnya bertindak angkuh dan superior.


"Ini yang kedua kalinya kamu menciptakan masalah untuknya, lain kali jika kamu mengulanginya lagi, tidak ada kesempatan untukmu lagi." Ucapnya dingin sebelum pergi menghampiri Rein di pinggiran danau.


Masalah apa yang Adit bicarakan, Yuni jelas sangat mengetahui tentang apa itu. Hanya saja, hal yang paling mengganggunya adalah darimana Adit mengetahui perselisihannya dengan Rein di dalam lift itu?


Apakah Rein yang memberitahu Adit?


Ini bisa jadi. Tapi, sekalipun ia bisa mengkonfirmasi orang yang telah memberitahu Adit adalah Rein, memangnya apa yang bisa ia lakukan?


Karena Rein... bukanlah orang yang bisa ia sentuh atau ganggu sekarang. Ini benar-benar menjengkelkan!


"Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan?" Teman-teman Yuni mulai berbisik ketakutan.


Karena tidak bisa menjaga mulut, mereka hampir saja kehilangan pekerjaan.


"Untung saja aku tidak ikut-ikutan berbicara tadi, kalau tidak Pak Adit pasti telah menandai ku sebagai daftar merah sama seperti Yuni." Teman Yuni yang sebelumnya tidak pernah berbicara akhirnya mengungkapkan kelegaannya karena masa depannya masih aman di perusahaan.


"Benar Yuni, memangnya kesalahan apa yang telah kamu lakukan kepada 'Yonya' itu sehingga membuat Pak Adit sangat marah?" Temannya bertanya.


Yuni mengusap wajahnya kasar karena emosi. Dia cemburu tapi tidak bisa melakukan apa-apa, ditambah lagi dia telah diperingati untuk tidak membuat masalah kepada Rein, posisinya saat ini sungguh sangat sulit.


"Sial, jangan tanya aku dulu masalah ini! Kepalaku rasanya ingin meledak!" Bentak Yuni emosi.


Teman-temannya terkejut,"Yuni, apa kamu baik-baik saja?" 


"Apa kamu bodoh? Apa kamu tidak bisa melihat bagaimana keadaan ku sekarang?" Jawab Yuni nyolot.