My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
169



Dini hari malam berikutnya, pintu kamar Davin tiba-tiba diketuk oleh Adit. Mendengar ketukan Adit, orang pertama yang bangun adalah Davin sedangkan Rein hanya sedikit terganggu.


"Tuan, tuan Davin?" Suara dingin Adit masuk ke dalam kamar.


Dari kecepatan ketukan dan nada suara Adit yang samar, Davin langsung mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi. Jadi dia segera bangkit dari tidurnya dengan gerakan hati-hati agar Rein tidak terbangun.


"Tunggu." Kata Davin kepada Adit dan ketukan kamar pun berhenti.


Rein menggeliat tidak nyaman ketika merasakan pelukan hangat Davin tidak lagi menghangatkan tidurnya.


"Sstt." Davin menepuk ringan punggung Rein.


"Tidurlah, aku akan keluar sebentar untuk mengambil air minum."


Rein kemudian menarik tangannya dengan enggan dan membiarkan Davin pergi. Davin mengelus puncak kepala Rein sayang, menarik selimut hingga menutupi tubuh Rein agar tetap hangat, barulah dia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.


Di luar, Adit berdiri lurus dengan piyama hitam di tubuhnya. Rambutnya yang biasa disisir rapi dan memiliki gaya formal saat ini terlihat cukup berantakan. Adit tidak punya waktu untuk memikirkan penampilannya saat mendengar kabar dari bawahannya.


Ini sangat mendesak.


"Ke ruang kerja." Kata Davin sambil memimpin jalan.


Adit dengan patuh mengikuti Davin masuk ke ruang kerja.


"Apa sesuatu terjadi dengan perusahaan?" Tanya Davin setelah mendudukkan dirinya di atas kursi kebesarannya.


Adit menganggukkan kepalanya terlihat sangat serius. Davin pikir ini pasti ulah keluarga di rumah utama yang tidak bisa menahan diri karena pernikahannya dengan Rein hanya tinggal menunggu dua hari lagi.


"Tuan, perusahaan kita di negara A memberikan kabar jika proyek kilang minyak di negara A memiliki masalah. Mereka tidak tahu masalah pastinya dan membutuhkan kehadiran tuan sesegera mungkin." Jelas Adit dengan berat hati.


Pernikahan tuannya dan Rein akan dilaksanakan dua hari lagi jadi situasinya terlalu mendadak. Dilihat dari situasi pernikahan tuannya tidak bisa dilaksanakan dua hari lagi dan terpaksa harus dibatalkan atau diundur beberapa hari ke depan sampai situasi di negara A stabil.


"Aku benar-benar meremehkan mereka." Gumam Davin masam.


Davin memang pernah memperkirakan jika orang-orang itu akan membuat masalah di perusahaannya yang ada di negara A. Tapi dia tidak sepenuhnya yakin karena di negara A Davin telah membuat kesepakatan dengan salah satu perusahaan mitra kerjasamanya sehingga rencana apapun yang mereka lakukan akan sulit terlaksana.


Namun, mendengar kabar ini pikiran Davin benar-benar tercerahkan jika orang yang putus asa dapat melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya.


"Tuan, masalah ini sangat mendesak dan kita harus segera menanganinya."


Davin menghela nafas panjang. Dia mengusap wajahnya kasar untuk menenangkan emosi yang membara di dalam hatinya. Dia sangat marah tapi kemarahannya tidak bisa dilampiaskan- setidaknya untuk sekarang karena dia harus membantai 'keluarga' yang telah berjasa mempersulit dan membuat pernikahannya tertunda.


Dia benar-benar kesal sekarang.


"Siapkan penjaga untuk mengamankan rumahku. Instruksi juga mereka untuk mengawasi pergerakan orang-orang di rumah utama. Jangan lengah, jangan berikan mereka kesempatan untuk mendekati keluargaku apapun yang terjadi."


Adit dengan cepat mengangguk.


"Kita terbang malam ini dan segera kemasi barang-barang mu." Instruksi Davin selanjutnya.


Setelah memberikan instruksi, Davin tanpa membuang waktu segera kembali ke dalam kamarnya untuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Padahal, dia berusaha meringankan suara tangannya memindahkan barang-barang agar Rein tidak terbangun. Tapi semua usahanya tidak membuahkan hasil karena Rein sangat sensitif saat tidur. Dia terbangun dan mendapati Davin sedang mengemasi baju-baju ke dalam koper hanya dengan bermodalkan lampu tidur.


"Kamu mau kemana?" Rein duduk di tempat tidur sambil mengamati pergerakan Davin yang tidak berhenti sekalipun dia sudah bangun.


"Aku harus terbang ke negara A." Kata Davin menjelaskan singkat.


"Davin, kita akan segera menikah. Dua hari lagi bukan waktu yang lama." Rein tidak bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Padahal semalam semuanya baik-baik saja dan tidurnya pun sangat nyenyak. Tapi tiba-tiba dia terbangun di tengah malam dan mendapati calon suaminya akan segera berangkat ke luar negeri di waktu yang amat sangat tidak tepat.


Dia marah, sedih, kesal! Semuanya bercampur di dalam dadanya.


Davin menutup kopernya. Mendesah berat, dia lalu duduk di samping calon istrinya. Meraih tangan Rein yang terasa dingin karena menahan marah dan menggenggamnya erat.


"Aku tahu dan aku pun tidak ingin pergi. Tapi masalah ini sangat mendesak. Proyek kilang minyak ku di negara A mengalami masalah besar dan aku harus turun tangan untuk mengurusnya. Kamu juga tahu jika proyek kilang minyak adalah kartu As ku untuk mengamankan posisi ku sebagai pewaris keluarga. Jika aku kehilangan proyek ini maka mereka pasti akan bertindak sewenang-wenang terhadap kamu dan anak-anak. Aku tidak bisa melindungi kalian tanpa kekuasaan sebagai jaminan."


Rein terdiam. Dia menggigit bibirnya memikirkan sesuatu. Muncul sebuah solusi di dalam benaknya tapi dia tidak yakin Davin akan mau melakukannya. Namun, meskipun begitu dia masih menyuarakannya.


"Jika kekuasaan membuat kita harus menapaki kesulitan ini, maka mengapa kamu tidak menyerahkannya saja kepada mereka? Ayo melarikan diri, kita bisa bersembunyi di sebuah pedesaan atau tempat-tempat yang jauh dari sorotan. Kita bisa hidup dengan damai di tempat itu dan membesarkan anak-anak dengan damai."


Davin langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju. Menepuk tangan calon istrinya sebagai petunjuk agar dia mendengarkan penjelasannya.


"Aku tidak bisa mundur, kamu tahu ini. Dan bahkan bila kita bisa melarikan diri, mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja. Karena ada kekuasaan di tanganku pun mereka masih mempersulit apalagi jika aku tidak memegangnya. Ingat, bagi mereka aku adalah ancaman dan bahkan anak-anak pun sama di mata mereka. Oleh karena itu aku harus mengamankan proyek di negara A agar mereka tidak bisa membuat ulah lagi." Ulas Davin dengan sabar dan tenang.


Rein harus mengerti posisi mereka saat ini dan bersabar sampai Tuhan benar-benar merestui mereka untuk mengikat janji secara sakral.


"Lalu, pernikahan kita dibatalkan?" Tanya Rein sedih.


Davin mengusap puncak kepala calon istrinya gemas.


"Bukan dibatalkan tapi diundurkan sampai beberapa hari ke depan." Koreksi Davin gatal ingin menggigit pipi chubby calon istrinya.


Untungnya setelah tinggal bersama, Rein tidak lagi makan tidak teratur. Dia sekarang makan tepat waktu dan memiliki berbagai macam asupan makanan bergizi yang baik sehingga tubuh kurus Rein perlahan mulai ditumbuhi daging.


"Baiklah, aku dan anak-anak akan menunggumu kembali. Pastikan kamu pulang dalam keadaan sehat atau aku akan sangat marah."


Davin hanya bisa tersenyum. Untuk melepaskan rindu, dia memeluk Rein seerat yang dia bisa dan berulang kali mengecup puncak kepalanya.


"Aku akan berusaha kembali secepat mungkin." Janji Davin.


Rein mengangguk, memejamkan kedua matanya di dalam pelukan Davin seraya menghirup dengan rakus wangi calon suaminya.


Tidak apa-apa pikirnya. Toh, ini hanya beberapa hari saja. Setelah itu mereka akan kembali bersama dalam janji suci yang sakral atas nama Sang Maha Romantis.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu dari luar.


"Tuan, semuanya sudah siap." Kata Adit melaporkan.


"Okay, aku akan keluar."


Davin melepaskan pelukan mereka, terlihat enggan. Sambil tersenyum paksa, dia mengucapkan salam perpisahan kepada calon istrinya dan meminta untuk menunggunya kembali dengan patuh.