My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
41. (41)



Suara mas Adit terdengar capek. Selama ini dia mungkin kelelahan dan kurang tidur karena sibuk bekerja. Aku mengerti ini dan aku juga tidak bisa mengomentari apa-apa karena ini adalah pekerjaan mas Adit. Ini adalah kewajiban yang harus mas Adit lakukan terlepas seberapa lelah dan capeknya dia.


"Istirahat lah, mas." Kataku langsung mengesampingkan masalah cctv di dalam lift.


Aku menghela nafas panjang, mengatur ritme jantung ku dan berusaha mengendalikan reaksi tubuhku yang sempat kaku. Perlahan-lahan aku menjadi santai. Ragu, aku mengangkat tangan kananku untuk menjangkau punggung tegap mas Adit. Mengelusnya ringan untuk menenangkan saraf-saraf nya yang lelah, aku berharap upayaku ini tidak sia-sia.


Lama di dalam lift, akhirnya pintu lift terbuka di lantai kantor mas Adit. Tidak ada siapapun di lantai ini karena tempat ini hanya diperuntukkan untuk mas Adit dan dua asistennya.


Benar, mas Adit memiliki dua asisten. Satu laki-laki dan satu perempuan. Aku tadi sempat bertemu dengan perempuan itu, dia meninggalkan kesan yang cukup buruk di dalam kepalaku. Sedangkan untuk laki-laki itu aku masih belum bertemu dengannya. Mungkin tidak lama lagi.


Ting


Pintu lift terbuka.


"Mas, kita sudah sampai." Bisik ku membangunkan mas Adit.


Pundak ku langsung menjadi ringan karena mas Adit telah bangun. Dia melepaskan pelukannya dariku. Aku sempat merasa kecewa. Akan tetapi kekecewaan ku tak bertahan lama karena mas Adit tiba-tiba menjangkau tangan ku. Dia menggenggamnya lembut kemudian menarik ku keluar dari lift.


"Pak Adit, selamat pagi." Di luar aku bertemu dengan seorang laki-laki tinggi berwajah datar.


Laki-laki ini sebenarnya tidak asing untukku karena aku sering bertemu dengannya saat bersama dengan mas Adit. Apakah laki-laki ini adalah asisten pribadinya?


Laki-laki itu mengangguk kan kepalanya mengerti dan kembali duduk di kursinya semula. Mulai mengotak-atik komputer dengan gerakan cepat dan terlatih.


"Apa dia tampan?" Tanya mas Adit kepadaku.


Aku langsung menarik perhatian ku dari laki-laki itu seraya menggelengkan kepala ku membantah. Dia memang tampan tapi mas Adit jauh lebih tampan darinya. Entahlah, sejak menyukai mas Adit aku tidak terlalu menganggap ada laki-laki yang lebih baik dan tampan darinya.


"Mas Adit kok nanya gitu." Tanyaku tidak mau menjawab pertanyaan nyeleneh ini.


Kami masuk ke dalam ruangan kantor mas Adit. Dia menutup pintu dan menekan tombol hitam dengan jari telunjuknya, lalu terdengar bunyi klik yang nyaring di dalam ruangan ini.


Mas Adit sepertinya mengunci pintu ruangan kerjanya ini. Wajahku tiba-tiba terasa panas karena suatu alasan yang tidak bisa dijelaskan. Ciuman malam ini kembali berkelebat di dalam hatiku, bertanya-tanya apakah aku memiliki kesempatan untuk merasakannya kembali. Sekarang saat melihat hanya kami berdua di dalam ruangan terkunci ini. Apapun bisa terjadi di sini dan di waktu ini pula. Memikirkannya membuat ku sangat gugup- oh, astaga!


Apa sih yang aku pikirkan! Ini masih pagi tapi pikiranku telah berkelana jauh entah kemana. Apa-apaan ini, Anggi?


Bisa-bisanya kamu memikirkan yang tidak-tidak terjadi antara kamu dan mas Adit di sini?!


"Kamu terus melihatnya tadi. Jika bukan karena dia tampan, lalu apakah ada alasan lain?" Suara mas Adit menarik ku dari lamunan.