My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
58. Keanehan Davin (2)



"Jika benda itu lecet kamu akan menerima konsekuensinya." Ancam Davin yang sudah duduk nyaman di kursi kebesarannya.


Ia menyangga kepalanya dengan tangan kanan. Tampak malas, kedua mata tajamnya kini fokus memperhatikan ekspresi sembelit Rein di samping.


"Pak, perlu Anda ketahui jika awalnya adalah kesalahan Anda." Kata Rein tidak terima.


"Bila Anda tidak mengagetkan ku tadi maka benda ini tidak akan bernasib buruk."


Sudut bibir Davin membentuk sebuah garis senyuman tipis.


"Salah sendiri kamu melamun saat sedang bekerja." Davin jelas tidak merasa bersalah.


Rein memutar bola matanya malas. Dia sudah selesai dan dia ingin segera keluar.


"Benda kesayangan Anda tidak mengalami kerusakan," Kecuali lecet kecil, benda itu seharusnya tidak apa-apa.


"Juga, aku sudah menyelesaikan semua tugas ku di sini jadi apa aku boleh keluar sekarang?"


"Tidak boleh. Kamu belum menyiapkan ku kopi." Tolak Davin malas.


Kini dia sepenuhnya telah bersandar nyaman di kursi kebesaran. Memberikan Rein kesan jika dia adalah laki-laki angkuh dan sok berkuasa, dia sejujurnya sangat tampan- ah, lebih tepatnya dia sangat menjengkelkan dengan semua sifat-sifatnya itu.


"Ini masih belum jam 9, Pak." Rein mengingatkan dengan murah hati.


Davin tidak perduli.


"Maka kamu akan mengerjakan tugas yang lain." Kata Davin tidak perduli.


Rein kian jengkel saja melihat laki-laki ini. Di bawah hidung laki-laki ini ia tidak ada bedanya dengan pembantu di rumah, uh... jika saja ia bisa, Rein rasanya ingin sekali meremat-remat wajah tampan Davin!


Rasanya terlalu menjengkelkan!


"Aku sudah tidak punya tugas lagi." Ruangan ini sudah Rein bersihkan dengan hati-hati sebelumnya.


Jadi, seharusnya Davin tidak punya alasan lagi untuk memperbudaknya di sini.


"Tunggu," Davin melihat waktu di jam tangan mahalnya, kemudian ia memanggil seseorang hanya untuk mengatakan kata ini,


"Sekarang."


Dan klik, ia menutup sambungan begitu saja.


Tidak berselang lama pintu ruangan Davin diketuk oleh seseorang. Rein tidak mau menoleh ke belakang karena dia ingin menunjukkan kepada Davin bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan urusannya. Hem, tidak tertarik.


"Pak, saya sudah menyiapkan semua yang Anda minta."


Ini adalah suara yang sudah tidak asing lagi untuk Rein. Dia tahu siapa pemilik suara ini namun dia tidak ingin pemilik suara ini melihatnya di sini karena mereka dulunya adalah kenalan lama.


"Ya, terimakasih Adit. Sekarang kamu bisa pergi."


"Baik, Pak."


Hah...


Rein mendesah perihatin. Bahkan sahabat masa kecilnya sendiri dijadikan seorang bawahan, Rein benar-benar tidak sebenarnya terbuat dari apa hati laki-laki ini.


Rein diam enggan menjawab.


Davin tidak perduli dengan respon diam Rein. Toh, ia juga sudah tahu jawabannya.


"Bawa barang-barang itu ke dalam." Kata Davin malas.


Barang yang Davin maksud adalah tas belanjaan yang dibawa oleh Adit tadi. Rein segera menoleh ke belakang.


Dia tidak bisa tidak terkejut.


Apa dia pandai memasak? Batinnya heran.


Tapi terlepas apakah Davin bisa memasak atau tidak sekali lagi itu bukan urusan Rein. Dia hanya perlu menjalankan tugasnya agar bisa segera pergi dari sini.


Namun, semua harapan Rein segera hancur ketika mendengar perintah Davin selanjutnya.


"Dan buatkan aku makan siang."


"Apa?" Rein terkejut.


"Apa kamu tuli? Segera buatkan aku makan siang." Davin mengulangi dengan malas.


Tapi Rein tidak bisa menerima perintah itu begitu saja.


"Tapi Pak, aku di sini bekerja sebagai pegawai bersih-bersih dan bukan sebagai pembantu. Jika Anda mau, bawa saja pembantu di rumah Anda ke sini." Dia jelas menolak perintah ini.


Davin memang atasannya tapi itu bukan berarti dia bisa memintanya melakukan apa saja yang tidak ada di dalam surat kontrak.


"Aku tidak mau karena itulah aku memintamu untuk memasak." Kata Davin masih dengan sikap dan ekspresinya yang menyebalkan.


Rein tergoda ingin mengatakan kata-kata kasar atau umpatan. Namun, dia masih memegang etikanya sebagai bawahan. Di samping itu, Rein menyimpan kecurigaan jika Davin jarang bisa makan dan beristirahat dengan benar. Rein sungguh tidak ingin bersimpati kepada laki-laki berhati busuk ini, namun...dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Meskipun mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dan meskipun laki-laki ini pernah mengkhianatinya, Rein masihlah Rein yang sama. Dia masih Rein 5 tahun yang lalu dengan Davin sebagai dunianya, ini adalah sebuah kabar buruk.


"Aku mengerti, Pak." Rein mengalah untuk ego dan hatinya.


Ternyata dia masih lemah dan belum berubah, setidaknya untuk Davin.


"Aku tahu kamu mengerti." Davin kemudian bangun dari kursi kebesarannya.


Tampaknya dia akan pergi keluar.


"Aku harus pergi untuk mengurus sesuatu, dan kamu... tidak diizinkan kemana-mana sebelum aku kembali. Kamu juga tidak diizinkan untuk membeli makanan, ingat...aku tidak mudah ditipu dan aku juga tahu bagaimana rasa masakan mu." Suara Davin semakin mengecil di akhir kalimatnya.


Rein jelas tertegun namun dia tidak mengatakan apa-apa. Benar atau tidaknya dia akan tahu setelah mencobanya nanti.


Bersambung...


Belajarlah menghargai penulis sekalipun tulisannya tidak memenuhi ekspektasi kalian. Jika tidak suka, silakan tinggalkan. Jangan merusak mood penulis dengan melontarkan kata-kata 'kasar' karena penulis juga manusia, kami punya batas kesabaran.


Dan saya tegaskan sekali lagi bahwa di sini satu bab akan dibagi 2 sampai 3 chapter, jadi jangan ngeluh satu topik pembahasannya sampai 1 chapter lebih. Kalau ngeluh terus, silakan baca di lapak ijo yang lengkap 1 bab nya tanpa perlu dibagi-bagi. Tapi itu kalau kalian mau dan bayarrr...


Tapi kalau gak mau dan tetap ngeluh, kalian bisa tinggalkan novel ini. Buat novel sendiri, mungkin karya kalian jauh lebih baik daripada milik saya.


Terimakasih 🍃