
Aska merajuk, dia menolak minum minuman pemberian wanita itu tapi Rein memaksanya untuk meminumnya. Davin bilang Aska memang memiliki kesehatan yang sangat buruk sehingga dia harus tetap menerima asupan energi dari minuman yang dokter resep kan.
Rein merasa ini tidak benar karena selama Aska tinggal bersamanya, dia terlihat sangat energik seperti anak-anak pada umumnya. Dia bangun pagi dengan bujukan Rein, tidur dimalam hari pun harus dibujuk Rein. Jika tidak, dia mungkin akan begadang semalaman main bersama Tio. Mereka akan melupakan waktu bila sudah berkumpul.
"Tio, makan malam yuk, sayang." Panggil Rein berusaha membujuk putranya.
"Tapi Kak Aska gak mau ikut Tio makan, Mom." Kata Tio dengan ekspresi polos di wajahnya.
Rein tersenyum lembut. Dia membantu Tio duduk di atas kursi meja makan dan membantunya memegang sendok makan.
"Tio makan sendiri dulu, yah. Nanti Kakak Aska nya Mommy bawa ke sini biar kalian bisa makan malam berdua." Kata Rein hangat.
Tio menganggukkan kepalanya polos seraya membawa makanan ke dalam mulutnya. Kedua mata besar Tio menyipit membentuk bulan sabit saat dia tersenyum.
Rein gemas melihatnya. Dia mengusap puncak kepala Tio sebelum masuk ke dalam dapur mencari putranya yang lain. Di dalam kamar gelap. Rein harus menyalakan lampu tidur untuk melihat situasi di dalamnya.
Click
Dia menekan saklar lampu kamar. Lalu, ruangan itu dikelilingi oleh cahaya terang yang berasal dari lampu kamar di atas langit-langit kamar.
Rein tidak perlu bersusah payah mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan karena tubuh mungil putranya kini tengah berbaring di atas kasur.
Aska sepertinya masih marah, pikir Rein. Dia tidak pernah keluar dari kamar semenjak meminum minuman pemberian wanita itu dan bersikap sangat pendiam. Rein kira dia akan mengamuk untuk menciptakan masalah kepada Rein. Tapi ternyata Aska malah bersikap patuh. Dia memendam kekesalannya dalam diam dan memilih untuk berpura-pura tidur di atas ranjang Rein. Tidurnya pun sangat tenang, berbanding terbalik dengan kebiasaan tidur biasanya yang sangat urakan dan tidak bisa diam.
Sekali lihat saja Rein tahu bila putranya ini hanya berpura-pura tidur saja.
"Sayang," Rein berjalan mendekati putranya, duduk di atas ranjang, tangan Rein kemudian menjangkau tangan mungil Aska.
Ruas jari-jari Aska lebih panjang dari milik Tio. Jari-jari Aska lebih mirip dengan jari-jari tangan Davin, sedangkan jari-jari milik Tio lebih menuruni jari-jari tangan Rein. Tidak panjang juga tidak pendek, tapi masih terlihat cantik dan mungil.
"Ayo bangun, Nak. Adik kamu tidak ingin makan tanpa kamu. Tio sekarang sedang menunggu kamu di meja makan." Bujuk Rein lembut.
Namun Aska tidak pernah menunjukkan respon apapun. Dia hanya bernafas teratur dengan kedua mata terpejam terlihat sangat damai. Rein hampir saja tertipu bila tidak mengingat Aska sebelumnya sedang merajuk.
"Ayo, Nak. Mommy udah masakin kamu ayam goreng lho, nanti kalau kamu gak keluar semua ayam gorengnya dihabiskan sama Tio." Bujuk Rein berusaha menarik Aska dari kepura-puraan nya.
Tapi Aska masih bersikap sama. Dia tidak bergerak, tidak bersuara, ataupun memberikan respon apapun selain suara nafas teraturnya yang lembut.
"Nak?" Rein mengusap wajah Aska tapi masih tidak ada respon.
"Kamu sudah tidur, Nak?" Rein kini beralih menepuk pipi Aska ringan tapi masih tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
Rein menghela nafas panjang. Dia sekarang benar-benar yakin jika Aska sudah tidur. Tapi lagi-lagi dia merasa aneh dengan Aska.
Aska biasanya kesulitan tidur karena kemauannya ingin bermain terus tapi sangat mudah terbangun jika mendengar suara gangguan di sekelilingnya.
Tapi lihat tadi, dia tidak hanya tidak bangun tapi dia juga tidak merasa terganggu dengan suara-suara yang Rein ciptakan. Seolah-olah Aska jatuh pingsan bukan sedang tertidur.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Rein berjalan mondar-mandir di dalam kamar karena resah memikirkan Aska. Sesekali mata persik nya mengawasi tubuh Aska yang masih berada di tempatnya. Aska tidur dengan posisi yang sama dan tidak pernah membuat gerakan sekalipun.
Normalnya anak-anak pasti akan membuat banyak gerakan saat tidur tapi Aska malam ini tidak membuat gerakan apapun yang semakin mencurigakan.
"Aku harus menelpon Adit." Rein memutuskan untuk menelpon Adit.
Dia mencari kontak Adit dan segera mengklik tombol panggil, beberapa detik kemudian telponnya terhubung dan langsung dijawab oleh Adit tidak lama kemudian.
"Nyonya, kenapa kamu meneleponku alih-alih menelpon bos Davin?" Suara Adit di seberang sana terdengar berbisik.
Sepertinya Adit sedang berada di tempat yang ramai atau sedang berkumpul dengan orang-orang banyak.
"Aku-" Belum selesai Rein berbicara, suara husky Davin masuk ke dalam sambungan.
"Siapa?"
"Ini Nyonya Rein, bos." Jawab Adit di seberang sana.
"Berikan kepadaku." Perintah Davin.
Beberapa detik kemudian terdengar suara gemerisik di seberang sana. Tampaknya Adit memberikan ponselnya kepada Davin.
"Rein, kenapa kamu malah menelpon Adit daripada menelpon ku?" Suara husky Davin kini terdengar sangat jelas di dalam telinga Rein.
Rein tersenyum lembut. Ia membayangkan bila kekasihnya di seberang sana sedang tersenyum lembut di depan berkas-berkas penting.
"Aku takut kamu sibuk, Dav." Dia tidak ingin mengganggu Davin.
Jika tidak bisa membantu Davin untuk urusan pekerjaan maka setidaknya Rein tidak akan mengganggu pekerjaan Davin.
"Aku sudah berulang kali mengatakannya, selama itu kamu, semua pekerjaan ku tidak akan bernilai apa-apa." Kata Davin lembut di seberang sana.
Rein menghela nafas panjang, ia benar-benar tidak berdaya dengan kata-kata manis kekasihnya.
"Aku tahu tapi aku masih tidak ingin mengganggu mu, Dav." Rein lalu membawa matanya menatap Aska yang masih tertidur lelap di atas kasurnya."Apalagi ini soal Aska, adik sekaligus putra kita berdua." Lanjut Rein tidak bisa menghilangkan keresahan dari nada suaranya.
Davin di seberang sana sangat senang dengan pengakuan tulus Rein mengenai Aska, tapi ia tidak bisa menghilangkan kepanikan hatinya ketika mendengar ada nada keresahan di dalam suara Rein.
Davin percaya bila Rein bukanlah orang yang impulsif, apalagi bila menyangkut masalah anak-anak. Lalu jika Rein mengambil inisiatif untuk menghubunginya, maka masalah ini pasti sangat penting dan diluar batas kemampuan Rein.
"Aska? Apa terjadi sesuatu kepadanya, Rein?" Nada suara Davin kini berubah menjadi serius.