
"Apa..." Davin kesulitan mengucapkan kata-katanya.
"Apa yang Kakek katakan? Adikku adalah cucu Kakek juga dan dia masih berusia 1 bulan!"
"Ini adalah pilihan kamu Davin. Jika kamu memang ingin adikmu ada di sini maka putuskan manusia cacat itu dan tetap menjadi ahli waris ku." Kakek memberikan pilihan yang sangat sulit.
Davin termenung. Mulutnya tertutup rapat diam membisu tidak bisa membuat keputusan apapun. Kepalanya pusing dan tatapan matanya menjadi linglung. Dalam hidupnya ini ia tidak pernah membayangkan akan ada hari dimana Tuhan memberikannya dua pilih yang sangat sulit.
Antara sang kekasih atau saudaranya yang masih berusia 1 bulan, Davin tidak ingin memilih di antara mereka berdua.
Dia tidak sanggup melepaskan salah satu karena baginya Rein dan adiknya adalah harta yang paling yang berharga di dunia ini setelah kepergian kedua orang tuanya.
Dia tidak bisa kehilangan salah satu diantara mereka berdua.
"Aku tidak bisa..." Bisiknya dengan kedua mata mulai memerah.
"Kamu harus memilih." Kakek tidak mau tahu.
Namun nyatanya Davin benar-benar tidak bisa membuat sebuah pilihan. Dia sungguh tidak bisa.
"Aku tidak bisa kehilangan salah satu diantara mereka berdua." Davin sangat sedih, suaranya bahkan terdengar seperti memohon.
"Davin, bila kamu masih tidak mau maka adikmu besok sudah tidak ada di negara ini." Kakek mengancam.
Davin mengusap wajahnya kasar menolak melepaskan adiknya.
"Berikan aku waktu... untuk berpikir." Davin memohon.
"Satu minggu." Kakek bermurah hati.
"Jika dalam satu minggu kamu tidak membuat keputusan maka anggap saja adikmu tidak pernah ada di dunia ini."
Davin memejamkan matanya menahan amarah juga ketidakberdayaan. Linglung, ia membawa langkahnya keluar dari mansion Demian. Foto yang ia pungut dengan hati-hati tadi kini telah berada di dalam pelukannya.
Ia memeluknya erat dengan air mata yang mulai mengalir membasahi wajah tampannya.
"Bagaimana mungkin... Engkau memberikan ku pilihan ini, Tuhan? Kau telah mengambil kedua orang tuaku dari dalam hidupku dan sekarang, Kau juga ingin memisahkan ku dari kekasih dan adikku yang baru satu bulan melihat dunia! Bagaimana mungkin Engkau menyudutkan ku seperti ini?" Bisik Davin terluka.
Ia kesepian dan hanya memiliki dua cahaya penerang saja. Namun, nyatanya Tuhan tidak mau membiarkannya hidup serakah, Tuhan kemudian memberikannya sebuah pilihan, pilihan dimana ia harus melepaskan salah satu cahaya penerang.
Hanya saja, kehilangan salah satu cahaya akan membuat Davin terluka, dan luka itu akan melubangi sebagian dadanya yang pernah tersentuh kehangatan.
Rasanya akan sangat begitu menyakitkan.
...🍃🍃🍃...
Semenjak hari itu Davin mulai suka pulang larut malam. Ia tidak pergi mabuk-mabukan atau melakukan tindakan gila untuk melampiaskan kemarahannya, melainkan ia mengurung diri di dalam kantornya.
Duduk termenung menatap hamparan langit malam dengan setumpuk dokumen penting yang telah beberapa ia abaikan.
Davin dengan lihainya berbohong, ia menjawab baik-baik saja padahal nyatanya ia sangat-sangat buruk beberapa hari ini. Ia sangat merindukan Rein, ingin memeluknya, menghirup wangi bunga mawar dari tubuhnya, dan memadu kasih seperti waktu-waktu indah mereka.
Tapi, ia tidak bisa melakukannya karena jantung Davin akan terasa lebih sesak lagi. Itu menyakinkan, itu sangat menyakitkan setiap kali melihat senyuman tulus nan sabar Rein, setiap kali melihat betapa lembut Rein memperlakukannya, setiap kali melihat tatapan sayang di wajah cantik Rein, dia tidak sanggup menahan sakitnya.
"Pak, ini adalah kesempatan terakhir Anda bertemu dengan dia." Adit berdiri patuh di samping, menemani hari-hari suram Davin di dalam kantor dengan setia.
"Oh," Davin mengusap wajahnya lelah.
"Ini sudah hari ke enam." Katanya dengan nada frustasi.
"Ayo bawa aku pulang." Perintah Davin setelah membuat keputusan tersulit di dalam hidupnya.
Pukul 12 malam ia akhirnya kembali lagi ke tempat terhangat di dalam hidupnya. Dari luar ia bisa melihat lampu rumah masih menyala terang menandakan bila sang kekasih masih menunggunya kembali.
"Aku pulang." Katanya dengan nada acuh tak acuh yang dibuat.
Rencananya ia ingin memberikan rasa jarak kepada Rein secara perlahan seperti hari-hari sebelumnya tapi semua rencana itu segera menguap ketika melihat sang kekasih kini sedang terlelap damai di sofa panjang.
Davin terenyuh, kedua matanya memerah menciptakan riak-riak tipis.
"Sayang," Davin duduk berlutut di lantai, mengusap wajah lembut kekasihnya yang tampak agak pucat.
"Sayang, aku pulang." Bisik Davin dengan sesak di dada.
"Hem," Mata persik Rein perlahan terbuka.
"Kamu pulang-"
"Sstt... jangan kemana-mana." Davin menghentikannya agar tidak bangun.
Ia kemudian mengangkat tubuh Rein dari sofa dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Kamu udah makan?" Rein menyadarkan kepalanya dengan nyaman di pundak Davin.
Davin tersenyum lembut.
"Aku tadi udah makan sama Adit di kantor. Makanannya gak enak, lebih enak makanan buatan kamu." Dia mengatakan setengah kebohongan dan setengah kebenaran.
Davin tidak memiliki selera untuk melihat makanan apalagi sampai memakannya. Tapi apa yang ia katakan sebelumnya benar jika masakan Rein adalah yang terbaik, masakan Rein sangat enak dan lezat.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." Rein sangat mengantuk.
Akhir-akhir ini ia sangat menyukai tidur dan tidak memiliki selera makan. Setiap kali melihat makanan atau masuk ke dalam dapur, muncul keinginan untuk muntah. Tapi ini hanya perasaannya saja karena dia tidak benar-benar muntah.
Tanpa Davin di rumah, waktunya lebih banyak ia habiskan dengan tidur.